Benteng Pantai Cisolok Runtuh, Koral Dijual Rp 6.000 per Karung

Posted on

Sukabumi

Di pesisir Jalan Lempeng, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, suara deburan ombak Teluk Palabuhanratu tak lagi hanya membawa buih ke pasir pantai.

Kini, suara itu bersahutan dengan deru truk yang hilir mudik mengangkut koral pesisir. Sebuah kabar yang mulanya riuh di aplikasi perpesanan warga, kini terpampang nyata di depan mata: eksploitasi koral kian merajalela.

“Info : penambang batu koral di pantai Jalan Lempeng Cisolok merajalela… diangkut pakai truk… Mohon distop…🙏🙏🙏,” bunyi kabar tersebut.

Pantauan di lokasi pada Rabu (11/2/2026), ratusan karung plastik putih berisi batu koral tampak berbaris rapi di atas rumput. Karung-karung itu siap diberangkatkan, sementara di sudut lain, hamparan koral mentah tengah dipilah di atas terpal plastik.

Batu-batu lonjong halus hasil tempaan ombak ribuan tahun itu kini berpindah tempat ke dalam karung-karung plastik.

Secara teknis, hilangnya koral-koral ini adalah hilangnya tameng alami pantai. Tanpa batu-batu itu, energi gelombang langsung menghujam daratan tanpa hambatan.

karung putih berisi koral di Pesisir Cisolok, Sukabumi.karung putih berisi koral di Pesisir Cisolok, Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/).

Di tengah tumpukan karung tersebut, berdiri seorang pria dewasa berinisial S (56). Pria asal Cipanas, Kecamatan Cisolok ini adalah sosok yang mengoordinasi aktivitas pengumpulan batu di sana. Bagi S, pekerjaan ini bukanlah hal baru, melainkan warisan keluarga yang ia rawat sejak dua tahun lalu.

“Saya meneruskan dari almarhum bapak sejak tahun 2024. Bapak dulu sudah lama, ada 10 tahunan ambil batu di sini. Cuma dulu mah diambil satu-satu, tidak pakai alat,” kata S saat ditemui di sela kesibukannya.

Jejaring bisnis koral ini rupanya menjangkau hingga ke kota-kota besar. S menjelaskan bahwa koral-koral dari Cisolok ini menjadi primadona bagi mereka yang ingin mempercantik taman di wilayah urban.

“Ada yang datang pesanan dari Bogor. Saya yang nampung di sini, lalu saya kirim ke sana pakai mobil. Kebetulan adik saya sopirnya. Biasanya buat taman,” ujarnya.

Hitung-hitungan Ekonomi

Namun, di balik rusaknya benteng alami pantai, pundi-pundi rupiah yang masuk ke kantong warga lokal ternyata tak seberapa. S membeberkan hitungan ekonominya dengan rinci.

Satu karung batu koral di tingkat pengepul lokal hanya dihargai Rp 6.000. Dari nilai itu, buruh petik atau pengangkut hanya mengantongi Rp 2.500, sementara biaya karung sendiri sudah mencapai Rp 1.100.

“Jadi bersihnya tidak seberapa. Sampai Bogor harganya memang jadi Rp 11.000, tapi itu karena ongkos mobilnya saja sudah Rp 5.000 per karung,” pungkas S.

Ironi ini kian nyata saat melihat fondasi bangunan di sekitar pantai yang mulai terpapar langsung oleh abrasi.

Perlindungan koral yang dieksploitasi demi estetika taman di kota-kota besar justru meninggalkan kerentanan bagi permukiman warga setempat.