Sukabumi –
Sebuah potret ironi pendidikan mencuat dari pelosok Kabupaten Sukabumi. Di tengah gencar-gencarnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekelompok siswa Sekolah Dasar (SD) di Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, justru menyuarakan jeritan hati yang berbeda.
Dengan seragam merah putih yang kontras dengan lumpur pekat di kaki mereka, para bocah ini membentangkan poster bernada satir, ‘Kami Lebih Butuh Perbaikan Jalan Daripada MBG!’.
Poster yang kini tertancap di pohon jati itu bukan sekadar aksi mencari perhatian, melainkan pesan menohok bagi pemerintah daerah bahwa akses jalan yang layak jauh lebih mendesak bagi kelangsungan hidup dan pendidikan mereka.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Pantauan di lokasi pada Selasa (10/2/2026), kondisi jalan berstatus milik pemerintah daerah (pemda) ini memang mengerikan.
Jalur di tebing itu nyaris putus tergerus longsor, menyisakan kubangan tanah merah lengket bak bubur yang mustahil dilalui kendaraan.
Setiap hari, siswa SDN Sukamukti harus bertaruh nyawa meniti bambu darurat di atas lumpur atau digendong orang tua mereka agar tidak terperosok ke jurang.
Inisiatif ‘The Power of Emak-emak’
Rika (30), salah satu orang tua murid, mengungkapkan bahwa poster viral tersebut adalah bentuk keputusasaan warga. Jalan yang rusak parah selama dua bulan terakhir tak kunjung mendapat respons, meski sudah sering direkam video dan disebarkan.
“Itu inisiatif warga, kreatif ibu-ibu saja. Soalnya sudah divideoin, masih saja enggak ada respons. Siapa tahu dengan begini aspirasi kami bisa sampai. Kami butuh jalan ini segera diperbaiki,” tegas Rika.
Rika sendiri harus siaga setiap hari mengantar-jemput anaknya dengan sepatu bot, karena membiarkan anak-anak melintas sendiri sama saja dengan membahayakan kondisi mereka.
“Tiap hari jemput anak ke sini. Terpaksa, karena kondisi jalannya rusak parah. Kalau enggak diantar, anak enggak bisa lewat. Kemarin juga ada anak yang jatuh terpeleset di sini karena licin,” ungkapnya.
Sekolah Digendong, Tani Dipikul
Senada dengan Rika, Ketua RT 03/04 Kampung Babakan, Dedem, membenarkan bahwa lokasi viral tersebut adalah jalur utama anak-anak sekolah.
“Memang di sini lokasinya. Itu anak-anak sekolah yang sering lewat, karena kondisi jalannya rusak dan becek, mereka seringkali tidak bisa lewat sendiri. Akhirnya harus digendong sama ibunya,” kata Dedem.
Dedem menjelaskan bahwa kerusakan ini adalah siklus berulang. Upaya warga bergotong royong selalu kalah oleh alam karena tidak ada penanganan permanen.
“Kejadiannya tiap musim hujan pasti longsor. Habis kerja bakti, ketiban hujan, longsor lagi, timbun lagi,” ujarnya.
Tokoh masyarakat setempat, Ustaz Syamsuloh (60), menambahkan bahwa jalan darurat yang ada saat ini adalah hasil swadaya warga karena jalan utama sudah putus total.
“Motor enggak bisa lewat sama sekali. Anak sekolah tiap hari digendong. Sekolah Diniyah juga digendong sama ibu atau bapaknya. Ditungguin sebentar, nanti jam 10.00 balik lagi (digendong lagi),” ujar Syamsuloh.
Dampak kerusakan ini tak hanya memukul pendidikan, tapi juga melumpuhkan ekonomi petani. Rahmat (39), seorang petani, kini harus berjalan kaki berkilometer-kilometer memanggul hasil panen karena motornya tak bisa lewat.
“Biasanya motor bisa sampai sawah, langsung angkut. Sekarang mah boro-boro, jalan kaki saja susah. Terpaksa dipikul sejauh satu kilo lebih. Tenaga habis di jalan, biaya angkut jadi mahal,” keluh Rahmat.
“







