Bandung –
Stres kerap menjadi salah satu pemicu utama perubahan pola makan seseorang. Kondisi ini bahkan bisa menimbulkan efek yang saling bertolak belakang. Pada sebagian orang, stres justru meningkatkan nafsu makan, sementara pada yang lain malah membuat kehilangan selera.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Perubahan nafsu makan saat stres melibatkan mekanisme biologis dan psikologis yang kompleks. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh?
Cara Tubuh Merespons Stres
Stres bukan sekadar perasaan tertekan, melainkan respons biologis tubuh terhadap tekanan. Saat menghadapi situasi menegangkan, sistem saraf dan hormon akan bekerja sama untuk membantu tubuh bertahan.
Respons awal stres dikenal sebagai fight or flight response. Pada fase ini, tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol yang berfungsi memobilisasi energi dengan cepat. Dampaknya, detak jantung dan pernapasan meningkat, otot menegang, serta tekanan darah naik.
Dalam kondisi tersebut, sistem pencernaan bukan menjadi prioritas utama. Akibatnya, rasa lapar cenderung menurun, terutama pada fase stres akut atau mendadak.
Namun, jika stres berlangsung lama, tubuh akan terus mengaktifkan sumbu hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA) yang memicu pelepasan hormon kortisol secara berkelanjutan. Di sinilah perubahan pola makan mulai terasa lebih signifikan.
Perbedaan Dampak Stres Akut dan Stres Kronis
1. Stres Akut Cenderung Menurunkan Nafsu Makan
Stres akut biasanya muncul secara tiba-tiba, seperti saat menghadapi ujian, presentasi penting, atau situasi menegangkan lainnya. Pada kondisi ini, tubuh menekan rasa lapar sebagai bentuk adaptasi.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Hormon corticotropin-releasing hormone (CRH) dilepaskan dan berperan menekan nafsu makan sementara waktu. Energi tubuh dialihkan untuk menghadapi situasi darurat, sehingga rasa lapar sering kali tidak terasa meski waktu makan terlewat.
2. Stres Kronis Dapat Meningkatkan Nafsu Makan
Berbeda dengan stres akut, stres kronis terjadi dalam jangka panjang, misalnya akibat tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau tuntutan akademik. Kondisi ini memicu peningkatan hormon kortisol secara terus-menerus.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan nafsu makan, terutama terhadap makanan tinggi kalori seperti makanan manis dan berlemak. Hal ini sering kali menjadi mekanisme koping tubuh untuk mencari rasa nyaman di tengah tekanan.
Selain itu, kortisol juga memengaruhi keseimbangan hormon lain seperti ghrelin dan leptin. Ketidakseimbangan ini dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar dan sulit merasa kenyang, sehingga asupan makanan meningkat tanpa disadari.
Faktor yang Membuat Respons Setiap Orang Berbeda
1. Faktor Fisiologis dan Hormonal
Hormon ghrelin berperan merangsang rasa lapar, sementara leptin berfungsi mengirim sinyal kenyang ke otak. Stres kronis dapat mengganggu keseimbangan kedua hormon ini, sehingga regulasi nafsu makan menjadi tidak stabil.
Pada sebagian orang, dominasi ghrelin dan resistensi leptin mendorong makan berlebihan. Namun, pada individu lain, respons stres awal tetap lebih kuat sehingga nafsu makan justru menurun.
2. Faktor Psikologis
Dari sisi psikologis, stres memengaruhi sistem penghargaan di otak. Beberapa orang cenderung mencari kenyamanan melalui makanan, sementara yang lain kehilangan minat makan saat berada di bawah tekanan.
Tingkat kecemasan, kemampuan mengelola emosi, serta pengalaman stres sebelumnya turut menentukan bagaimana seseorang merespons rasa lapar dan kenyang.
3. Gaya Hidup
Kualitas tidur, kebiasaan makan sebelum stres, serta dukungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap pola makan saat stres. Kurang tidur, misalnya, dapat memperparah gangguan hormon lapar dan kenyang, sehingga risiko makan berlebihan meningkat.
Tips Mengelola Nafsu Makan Saat Stres
Menjaga pola makan saat stres sangat penting untuk kesehatan jangka panjang. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Menetapkan jadwal makan yang teratur
- Mengelola stres dengan olahraga ringan, teknik pernapasan, atau aktivitas relaksasi
- Memastikan waktu tidur cukup dan berkualitas
Dengan memahami bagaimana stres memengaruhi nafsu makan, seseorang dapat lebih bijak mengelola pola makan dan menjaga keseimbangan tubuh di tengah tekanan sehari-hari.







