Bandung –
Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Cirebon Raya (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) dalam sepekan terakhir. Mulai dari temuan terowongan kuno di Indramayu hingga misteri matinya ratusan ekor Ikan Dewa di Kuningan.
Berikut rangkuman berita Cirebon Raya pekan ini:
1. Warga Cirebon Tambal Jalan Rusak
Kerusakan parah di Jalan Kandang Perahu memaksa warga bergerak. Tak menunggu perbaikan resmi, sejumlah warga Kampung Sicalung, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, memilih turun langsung ke jalan untuk menambal lubang-lubang berbahaya secara swadaya.
Pantauan di lokasi pada Senin (2/2/2026), tambalan semen terlihat mencolok di atas hamparan aspal lama yang sudah aus. Pengendara yang melintas tampak lebih berhati-hati dan memperlambat laju kendaraan saat melewati titik-titik yang sebelumnya rawan kecelakaan.
Inisiatif warga ini lahir dari kekhawatiran akan keselamatan pengguna jalan. Kondisi jalan yang rusak tak hanya menurunkan kenyamanan berkendara, tetapi juga berpotensi merenggut nyawa. Dengan bermodal semen dan pasir, warga berupaya setidaknya mengurangi risiko kecelakaan sambil menunggu perhatian dari pihak berwenang.
Ketua Karang Taruna Sicalung Abdul Rohim mengatakan aksi ini adalah wujud kepedulian masyarakat terhadap keselamatan pengguna jalan. Menurutnya, kondisi jalan sebelum diperbaiki sangat memprihatinkan dengan lubang yang tersebar di banyak titik.
“Sudah ada warga yang jadi korban akibat jalan rusak ini,” ucap Abdul.
Kondisi kian berbahaya saat hujan turun. Genangan air kerap menyamarkan lubang sehingga menjebak pengendara yang melintas. Abdul menambahkan, penambalan menyasar titik-titik krusial di Jalan Kandang Perahu.
“Anggarannya dari kas Karang Taruna dan bantuan swadaya warga,” katanya.
Meski demikian, ruas Jalan Kandang Perahu lainnya masih dipenuhi lubang. Warga berharap pemerintah daerah segera memperbaiki jalan tersebut secara menyeluruh agar tidak ada lagi korban yang terjatuh.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cirebon Totong belum merespons upaya konfirmasi. Hingga berita ini ditayangkan, pesan singkat maupun sambungan telepon dari belum mendapatkan tanggapan.
2. Jebolnya Pipa Transmisi PDAM Kota Cirebon
Ribuan pelanggan air bersih di Kota Cirebon harus menelan kekecewaan pada Kamis (5/2/2026) pagi. Gangguan aliran air tak terhindarkan setelah pipa transmisi utama milik PDAM Kota Cirebon mengalami kebocoran parah di Kelurahan Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.
Insiden tersebut terjadi pada Rabu (4/2/2026) malam sekitar pukul 21.55 WIB. Tekanan air yang tinggi membuat pipa berdiameter besar itu tak mampu menahan beban hingga akhirnya pecah. Semburan air deras pun menyapu badan jalan, merusak lapisan aspal, dan memicu kepanikan warga di sekitar lokasi.
Salah seorang warga setempat, Muan (49), mengaku awalnya warga merasa curiga melihat debit air yang mengalir deras di jalan kawasan Pangeran Kejaksan. “Awalnya curiga kok airnya banyak banget di jalan. Setelah ditelusuri, ternyata pipa PDAM Kota Cirebon jebol,” ujarnya kepada.
Ia menambahkan, derasnya semburan air sempat membuat arus lalu lintas terganggu. Sejumlah kendaraan terpaksa memperlambat laju, terutama kendaraan roda dua. “Pipanya jebol pas di tanjakan, jadi banyak kendaraan harus pelan-pelan, apalagi motor. Bahaya juga,” paparnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, hingga Kamis pagi kondisi pipa masih dalam tahap penanganan. Meski semburan air mulai berkurang, kerusakan pada badan jalan masih terlihat cukup parah. Ruas jalan provinsi penghubung Cirebon-Kuningan pun terdampak akibat tekanan air dari pipa yang jebol tersebut.
Untuk mengantisipasi risiko kecelakaan, pihak PDAM Kota Cirebon telah memasang rambu-rambu peringatan di sekitar lokasi kejadian agar pengguna jalan lebih waspada saat melintas.
Sementara itu, PDAM Kota Cirebon melalui akun resmi media sosialnya menjelaskan kebocoran terjadi pada pipa transmisi DCIP berdiameter 600 milimeter. Sejumlah langkah penanganan darurat pun langsung dilakukan, di antaranya dengan menyampaikan pengumuman gangguan aliran air kepada para pelanggan.
“Pekerjaan tersebut mengakibatkan aliran air minum untuk sementara akan mengalami gangguan,” tulis Perumda Air Minum Tirta Girinata Kota Cirebon.
Selain itu, PDAM juga melakukan pengurangan debit air dengan membuka saluran blow off agar proses perbaikan dapat dilakukan dengan aman. Air limpasan dari pipa yang bocor dialihkan ke saluran pembuangan untuk mencegah genangan di badan jalan.
Tak hanya itu, PDAM Kota Cirebon juga menonaktifkan sementara pompa-pompa dorong di dalam kota guna mencegah risiko overheat dan kebakaran. Sebagai langkah antisipasi kebutuhan pelanggan, PDAM menyiapkan jalur pengisian tangki air di Reservoir Kepompongan.
PDAM Kota Cirebon menargetkan proses perbaikan pipa jebol tersebut dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, sehingga distribusi air bersih ke pelanggan dapat kembali normal secepatnya.
3. Terowongan Kuno di Indramayu
Warga Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu dikejutkan dengan penemuan terowongan kuno saat melakukan penggalian fondasi bangunan Koperasi Merah Putih. Terowongan itu diduga merupakan bagian dari struktur lama peninggalan jalur kereta api.
Warkadi (52), warga Desa Gadingan yang turut mengawasi jalannya pembangunan, menuturkan bahwa terowongan itu ditemukan sehari setelah pekerjaan penggalian dimulai, tepatnya pada Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, terowongan dengan lebar sekitar 30 sentimeter itu terlihat saat alat berat menggali tanah hingga kedalaman lebih dari satu meter untuk keperluan fondasi bangunan.
“Waktu penggalian sudah cukup dalam, tiba-tiba terlihat ada terowongan. Bentuknya seperti sisa struktur bangunan lama, kemungkinan berkaitan dengan kereta api,” ujar Warkadi menceritakan detik-detik penemuan jejak masa lalu tersebut, kepada pada Kamis (5/2/2026).
Diketahui, penggalian tersebut nantinya akan diisi cakar ayam, yaitu istilah yang merujuk pada fondasi suatu bangunan.
Menurutnya, kisah mengenai jalur kereta api Jatibarang-Karangampel memang sudah lama beredar di tengah masyarakat Desa Gadingan. Cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan kerap menjadi perbincangan warga.
Karena itu, Warkadi menduga kuat terowongan yang muncul dalam proyek pembangunan Koperasi Merah Putih tersebut merupakan bagian dari peninggalan jalur kereta api yang pernah melintasi wilayah Gadingan.
“Saya sendiri sebenarnya nggak berani bilang terlalu banyak, saya nggak tahu pasti ini bekas apa. Tapi kalau melihat bentuk dan ukurannya, kemungkinan struktur pendukung bangunan kereta api, bisa jadi fondasi atau bagian stasiun,” ucapnya.
Ia menambahkan, sejauh ini temuan baru didapatkan di satu sudut fondasi bangunan yang berbentuk kotak. Sementara di sudut lainnya belum ditemukan struktur serupa.
“Kalau seluruh area digali, mungkin saja ada temuan lain. Tapi penggalian dilakukan sesuai kebutuhan fondasi saja,” katanya.
Pantauan di lokasi, terowongan tersebut memiliki tinggi sekitar 1,2 meter dengan lebar kurang lebih 30 sentimeter. Namun, kondisinya kini terendam air akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Indramayu sejak Kamis dini hari (5/2/2026), sehingga bentuknya tidak terlihat secara jelas.
Nur (42), salah seorang pekerja pembangunan sempat menceburkan dirinya ke galian tersebut untuk mengukur kedalamannya. “Mentok segini,” kata Nur, sambil memperlihatkan sebagian tubuhnya yang terendam air.
Penemuan ini menyisakan tanda tanya di kalangan masyarakat. Salah satunya adalah Kadi (46), warga yang mengaku penasaran tentang asal-usul dari terowongan tersebut.
“Sebenarnya ini apa, saya penasaran sampai saya tanya-tanya ke orang dan datang langsung ke lokasi,” kata dia.
4. 400 Ekor Ikan Dewa Mati di Balong Keramat Kuningan
Kematian mendadak Ikan Dewa di Balong Keramat Cigugur, Kabupaten Kuningan terus terjadi. Total sudah 400 ekor Ikan Dewa ditemukan mati hingga Jumat (6/2/2026) atau sembilan hari sejak fenomena kematian ini terjadi.
“Yang mati sampai tadi pagi masih ada, sudah mencapai sekitar 400 ekor, dari total populasi 1.000 ekor. Masih bertambah,” tutur Dwiki, Pengelola Balong Ikan Dewa Cigugur.
Dwiki memaparkan, untuk mencegah kematian terus bertambah, pihaknya menaruh Ikan Dewa yang terindikasi sakit di kolam karantina dan memantau langsung perkembangannya. Sementara itu, ikan yang mati dikubur di area sekitar kolam.
“Untuk yang selamat dan sehat itu ada sekitar 200 hingga 300 ekor. Yang sakit itu ada sekitar 100 ekor tapi sudah dipisah di kolam karantina,” tutur Dwiki.
Dwiki menjelaskan, selain cacing parasit dan cuaca ekstrem, penyebab lain kematian Ikan Dewa adalah banyaknya lubang mata air di dasar kolam yang ditutup selama puluhan tahun. Padahal, lubang air tersebut merupakan tempat Ikan Dewa berkembang biak.
“Karena Ikan Dewa itu ikan air deras yang sensitif. Lubang air atau sumur yang tertutup itu sebenarnya tempat Ikan Dewa berkembang biak. Sedangkan sekarang tertutup, akibatnya populasinya tidak begitu signifikan karena tidak punya tempat berkembang biak. Mengenai alasan penutupan itu, saya kurang tahu, karena ini sudah berlangsung puluhan tahun,” tutur Dwiki.
Untuk mengembalikan ekosistem Ikan Dewa dan mencegah kejadian serupa terulang, kini kolam Ikan Dewa sedang dikuras dan dibersihkan secara bertahap. Setelah dikuras, dilanjutkan dengan pengerukan agar kolam menjadi lebih dalam. Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan akan mensterilisasi kolam tersebut terlebih dahulu sebelum diisi dengan air baru.
“Saat ini kami sedang melakukan pengurasan. Belum sampai kering total, baru 30 persen, karena pembuangan airnya kecil. Untuk waktunya kurang lebih bisa sampai seminggu, karena kolamnya cukup luas,” tutur Dwiki.
Karena area kolam yang cukup luas, proses pengurasan tersebut melibatkan puluhan orang yang terdiri dari masyarakat sekitar, komunitas pecinta alam, dan dinas terkait. Lewat upaya pengurasan ini, Dwiki berharap agar habitat Ikan Dewa dapat kembali pulih.
“Yang terlibat banyak ada masyarakat sekitar, komunitas AKAR, dinas terkait, ada sekitar 50 orang yang bersiaga. Ini adalah ikan lokal Kuningan, semoga dapat kembali terjaga dan berkembang biak semakin banyak lagi,” pungkas Dwiki.







