Wajah Pasar Ujungberung Tempo Dulu dalam Memori Rokayah

Posted on

Bandung

Rokayah masih mengenang suasana Pasar Ujungberung, Kota Bandung, pada era 90-an. Warga keturunan Cirebon yang telah puluhan tahun menetap dan berjualan di pasar Jalan AH Nasution itu mengisahkan bahwa suasana pasar kala itu belum semodern sekarang.

Perempuan berusia 65 tahun yang kini berjualan makanan ringan kemasan ini menuturkan bahwa usahanya merupakan warisan turun-temurun dari nenek dan ibunya.

Saat berbincang dengan di kiosnya, Rokayah mencoba memutar kembali memori masa lalu saat diajak sang ibu membantu neneknya berjualan di pasar tersebut.

“Saya jualan tahun 1983. Dari kecil memang sudah ke pasar,” kata Rokayah, Rabu (4/2/2026).

“Dulu yang pertama jualan nenek, dilanjutkan sama ibu tahun 1960an. Mungkin kalau nenek jauh lebih dari itu,” tuturnya.

Rokayah mengungkapkan, saat nenek dan ibunya masih ada, ia harus berangkat dari rumahnya di belakang Masjid Agung Ujungberung sejak pagi buta. Hal itu dilakukan karena pembeli sudah mulai berdatangan sejak fajar menyingsing.

“Dulu ke pasar jam 2 dini hari, jalan bareng sama saudara, sama uwa, bibi. Semuanya keluarga di pasar, jualan,” ungkapnya.

Menurut Rokayah, mereka berjalan dalam kegelapan menuju pasar. Sesampainya di sana, sang nenek segera menyulut lampu petromaks atau lampu minyak tanah.

“Dulu yang jualan enggak sepadat ini, enggak tertutup seperti saat ini, dulu itu dibawa pulang barang-barang kalau sudah jualan. Pencahayaan juga pakai patromak,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, aliran listrik mulai masuk ke Pasar Ujungberung. Bangunan pasar pun terus bersolek hingga menjadi lebih modern.

Terkait produk yang dijualnya saat ini, Rokayah menyebut jenisnya masih sama dengan yang dijajakan nenek dan ibunya dahulu.

“Sama produk yang dijualnya, tapi kue tradisional pada umumnya, kalau sekarang kue kemasan. Dulu jualan seperti wajit hingga dodol,” tambahnya.

Rokayah juga menyebutkan perbedaan mencolok antara berjualan dulu dan sekarang terletak pada perilaku pembeli, terlebih dengan menjamurnya supermarket hingga minimarket. Sebelum persaingan seketat ini, pelanggan yang datang ke Pasar Ujungberung bahkan ada yang berasal dari wilayah Cileunyi.

“Yang beli warga atas, kebanyakan. Dulu banyak juga yang dari Cileunyi,” pungkasnya.

Halaman 2 dari 2