Sukabumi –
Kemarahan Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi sampah di pantai Bali dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah, Minggu (2/2/2026), menjadi tamparan keras bagi pengelolaan pariwisata nasional.
Namun, jika sorotan Presiden terarah pada “wajah” Indonesia di mata dunia, di pesisir selatan Sukabumi, sebuah “wajah” lain yang lebih muram kembali terlihat hari ini.
Sabtu (7/2/2026), Pantai Talanca di Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, kembali menyuguhkan pemandangan ironis. Bukan hamparan pasir hitam eksotis yang menyambut, melainkan lautan limbah yang seolah tak berujung.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Tumpukan kayu gelondongan sisa badai, botol plastik, hingga limbah kain perca (diduga sisa garmen) menutupi bibir pantai, menciptakan kontras tajam dengan latar pegunungan dan langit biru di Teluk Palabuhanratu.
Di antara serakan sampah itu, sebuah boneka beruang kusam tampak teronggok, menjadi saksi bisu pencemaran yang tak kunjung tuntas.
Fenomena ‘Sampah Abadi’
Kondisi hari ini seolah mengonfirmasi julukan getir yang pernah disematkan pada lokasi ini, “Sampah Abadi”. Catatan, Pantai Talanca memiliki rekam jejak kelam sebagai muara akhir sampah yang gagal ditangani di hulu.
Pada pertengahan dan akhir tahun 2023, lokasi ini sempat menjadi sorotan nasional hingga viral dijuluki “Wisata Sampah” akibat masifnya tumpukan limbah yang menumpuk.
Kala itu, gerakan pembersihan massal telah dilakukan berkali-kali mulai dari pelibatan ribuan personel gabungan TNI/Polri yang mengangkut puluhan ton sampah, hingga aksi viral bersama kelompok influencer lingkungan, Pandawara Group.
Namun, fakta di lapangan hari ini menunjukkan bahwa aksi di hilir saja tidak cukup. Masalah di Talanca memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan Bali.
Jika Bali berjuang melawan plastik wisata, Talanca “dikepung” limbah yang diduga bersumber dari industri garmen dan material kayu yang diduga kuat terbawa arus Sungai Cimandiri dan Cibutun, lalu terperangkap arus laut hingga dimuntahkan kembali ke darat.
Siklus yang Mematahkan Semangat
Bagi warga setempat, siklus “bersih-kotor-bersih-kotor” ini menjadi rutinitas yang mematahkan semangat.
Pak Jarim (70), warga sepuh yang sehari-hari beraktivitas di sekitar pesisir Loji, hanya bisa menggelengkan kepala melihat sampah yang kembali menggunung Sabtu ini.
“Ini mah sudah seperti ‘penyakit’ tahunan yang tidak ada obatnya. Kalau di hulu sungainya tidak dijaga, ya di sini akan begini terus,” ujar Jarim saat ditemui di lokasi.
Ia menuturkan, sebersih apa pun pantai disapu, alam akan mengirimkan kembali sampah tersebut saat air pasang atau musim hujan tiba.
“Capek juga kalau cuma mengandalkan bersih-bersih di sini. Pagi kita bikin kinclong, sore air pasang, sampah datang lagi. Kayu-kayu besar ini, kain-kain potongan ini, semua ‘hadiah’ dari sungai,” tuturnya dengan nada pasrah.
Seperti diketahui, dalam arahannya di Sentul, Presiden Prabowo sempat melontarkan instruksi tegas. “Kalau bupati dan gubernur tidak bisa, saya perintah Dandim, Danrem… korve, korve, korve.” Pernyataan itu kini relevan untuk diuji di Talanca.
Warga dan pegiat lingkungan di Sukabumi menanti, apakah instruksi tegas serupa juga bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah di hulu sungai yang mencemari Talanca?
Ataukah “Laut Sampah” di Loji ini akan tetap menjadi monumen kegagalan pengelolaan lingkungan yang abadi, tersembunyi di balik bayang-bayang pariwisata Bali?
“







