Bandung –
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Bangunannya usang, berkarat, dan tak terawat. Gedung tua ini menyimpan memori bagi warga Bandung Timur, khususnya di wilayah Ujungberung dan sekitarnya. Meski bukan bangunan bersejarah peninggalan era kemerdekaan, gedung ini adalah bioskop legendaris pada masanya.
Warga Bandung Timur tak asing dengan ‘Bioskop Astor’. Jauh sebelum jaringan CGV atau Cinema XXI merajai, nama Astor sangat populer. Namun, kejayaannya kini tinggal cerita setelah berhenti beroperasi pada 2011 silam.
Dihimpun dari berbagai sumber, di bagian dinding atas gedung ini dulunya terpampang tulisan ‘BIOSKOP ASTOR – 4 CINEPLEX DELUXE’. Kini, identitas itu raib, menyisakan dinding polos. Kerusakan diperparah terjangan angin puting beliung di Ujungberung pada akhir 2024 lalu yang membuat kondisi gedung kian memprihatinkan tanpa perbaikan berarti hingga saat ini.
Menurut informasi warga sekitar, gedung tersebut kini beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan kabel dan beberapa kios di sebelahnya. Meski memiliki banyak ruang di dalamnya, bagian utama gedung dibiarkan kosong. Sementara itu, area sekelilingnya dimanfaatkan sebagai lahan parkir pengunjung Pasar Ujungberung.
“Dipakai buat simpan kabel, tapi ya kosong saja begini,” ujar Agus (56), salah seorang warga saat berbincang dengan, Selasa (3/2/2025).
Penampakan gedung eks Bioskop Astor Ujungberung. Foto: Repro/Instagram @galihfebriyana |
Teringat Masa Lalu
“Tinggal kenangan,” ucap Agus saat mengingat memori menonton film layar lebar di Bioskop Astor.
Agus mengenang, di kala sore menjelang, puluhan warga mulai memadati halaman bioskop. Ada yang mengantre tiket, ada pula yang jajan di gerobak pedagang kaki lima di sekitar bioskop. “Penuh sekali, mereka mau masuk, kumpulnya di luar sini,” ujarnya.
Agus merupakan warga setempat yang rumahnya tak jauh dari lokasi. Ia mengaku sering menghabiskan waktu menonton film di sana. “Suka nonton, paling suka Titanic. Film lain juga suka, baik film Indonesia maupun luar negeri,” tuturnya.
Mengenai suasana di dalam gedung, Agus menyebutkan kondisinya tak jauh berbeda dengan bioskop pada umumnya. “Duduknya seperti bioskop biasa, penontonnya banyak, bisa sampai 100 orang,” katanya.
Bioskop Mawar ‘Gerimis Bubar’
Tak hanya Astor, Agus menceritakan ada tempat menonton lain di Jalan AH Nasution yang konsepnya luar ruangan (outdoor), yakni Bioskop Mawar.
“Kalau di Astor tiketnya berapa ya, lupa lagi, mungkin Rp10. Kalau di Bioskop Mawar lebih murah, karena kalau hujan kita bubar,” ujarnya seraya tertawa.
Bioskop ini memang dikenal dengan sebutan bioskop ‘misbar’ alias gerimis bubar. Jika hujan turun, maka pengunjung otomatis membubarkan diri. “Nontonnya itu film disorotkan ke kain putih. Banyak yang nonton, mau di Astor atau di Mawar, warga sangat antusias.”
menyambangi lokasi bekas Bioskop Mawar. Tulisan ‘MAWAR’ pada plang akses masuk sudah hilang. Kini, di lokasi tersebut justru terpasang spanduk lahan dijual.
Warga lainnya, Nia (45), juga memiliki memori serupa. Ia menyebutkan sering menonton film yang sama berkali-kali di Bioskop Astor. “Suka menonton double, mungkin dulu kurang hiburan ya, jadi menonton film di bioskop bisa berulang kali,” tuturnya.
Baik Bioskop Astor yang berada di dalam ruangan maupun Bioskop Mawar yang terbuka, Nia menyukai keduanya. “Suka banget, bedanya kalau di Astor lebih nyaman. Tapi kalau buat yang pacaran, biasanya punya cerita sendiri di sana,” pungkasnya.








