Bandung Barat –
Rumah hingga perkebunan di kaki Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini rata dengan tanah setelah disapu longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026).
Nahas dalam bencana alam itu, ada 80 warga dari dua kampung di Desa Pasirlangu, jadi korban. Pencarian langsung dilakukan, 12 hari berselang sudah ada 66 body pack yang teridentifikasi.
Longsor tak cuma membawa duka, kedahsyatannya memberikan nelangsa. Seperti dialami para petani yang harus gigit jari karena kehilangan mata pencahariannya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Seperti dialami Ahmad Hidayat (32). Rumahnya di Kampung Pasir Kuning, rata dengan tanah. Mobilnya kini teronggok karena rusak ditimbun longsor. Praktis, sarananya untuk bekerja itu tak bisa digunakan.
“Enggak kerja sejak kejadian, mau kerja apa soalnya kan mobil rusak, rumah rusak juga,” kata Ahmad, Rabu (4/2/2026).
Kendaraan miliknya biasa dipakai untuk mengangkut hasil pertanian. Dalam sehari ia bisa meraup cuan Rp300 ribu. Sejak tinggal di pengungsian, ia sama sekali tak mendapatkan pemasukan apa-apa.
“Ya bingung juga enggak ada penghasilan, terus setelah ini juga belum tahu mau bagaimana. Mudah-mudahan ada solusi,” kata Ahmad.
Namun di sisi lain, ia tetap bersyukur keluarganya selamat dari amukan alam. Anak dan istrinya masih bernapas. Namun duka tak bisa ia tutupi, sebab kampungnya kini sudah tak lagi seperti sediakala.
“Alhamdulillah keluarga selamat, yang penting itu. Sekarang saya harus mikir buat memulai lagi usaha dari awal, mudah-mudahan ada jalan,” kata Ahmad.
Nasib lebih baik buat Enjang, seorang petani juga di kaki Gunung Burangrang. Namun ia lebih beruntung, lahannya tak hilang, rumahnya tak ludes disapur longsor yang terjadi pada pukul 03.00 WIB. Lahan pertanian miliknya sempat terbengkalai beberapa hari setelah longsor menerjang.
“Awal-awal kejadian, enggak sempat cek kebun soalnya kan ikut dulu pencarian. Baru di hari kemarin (hari kesebelas), balik lagi ke kebun buat cek tanaman,” kata Enjang.
Ia sudah paham betul risikonya. Tanaman tomat, selada, hingga cabai yang ditanam dan akan dipanen akhirnya membusuk. Gagal panen di depan mata, namun ia maklum karena keadaan yang memaksa.
“Tanaman tomat sudah kelewat masa panen. Dari sekitar 7.000 pohon paling setengahnya bisa dipanen, banyak yang busuk, selasa baru mau ditanam sekarang,” kata Enjang.
Kesedihan Enjang tak cuka sebatas gagal panen, ia juga kehilangan kerabat yang ikut membantunya selama proses bercocok tanam. Korban merupakan satu keluarga yang tertimbun longsor, beruntung jasadnya sudah ditemukan.
“Ada pekerja saya juga, Abah Dadang dan ibu Imas itu istrinya yang biasa ikut mengurus kebun juga menjadi korban longsor, termasuk dua anaknya yang tinggal serumah. Padahal Jum’at masih telepon-teleponan, dia bilang Sabtu mau kerja, tapi pas ditelepon sudah enggak aktif,” kata Enjang.







