Benarkah Tubuh Astronaut Menua Saat ke Luar Angkasa? Ini Penjelasannya

Posted on

Jakarta

Perjalanan ke luar angkasa tidak hanya menjadi tantangan teknologi, tetapi juga memicu perubahan biologis signifikan pada tubuh manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tubuh astronaut mengalami perubahan biologis drastis dalam waktu relatif singkat selama berada di luar orbit Bumi.

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perubahan tersebut tidak berarti astronaut menjadi lebih tua atau lebih muda secara permanen. Melansir detikEdu, tubuh manusia justru menunjukkan kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap tekanan lingkungan ekstrem di luar angkasa.

Melansir Times of India, riset tersebut menjelaskan bahwa perubahan biologis yang dialami astronaut selama misi luar angkasa bersifat sementara. Setelah kembali ke Bumi dan berada kembali dalam kondisi gravitasi normal, tubuh mereka secara bertahap pulih dan menyesuaikan diri.

Adaptasi Tubuh di Lingkungan Ekstrem

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa mekanisme biologis yang berkaitan dengan penuaan bersifat adaptif, terutama ketika tubuh dihadapkan pada tekanan fisik dan lingkungan yang ekstrem. Kondisi luar angkasa, seperti mikrogravitasi, paparan radiasi kosmik, serta gangguan ritme tidur, memaksa tubuh manusia melakukan penyesuaian cepat.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aging Cell Volume 26 edisi Februari 2026 berjudul Astronauts as a Human Aging Model: Epigenetic Age Responses to Space Exposure menyoroti fenomena tersebut. Studi ini mengamati perubahan usia biologis astronaut selama dan setelah menjalani misi di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Penelitian dilakukan dengan menganalisis sampel biologis astronaut sebelum peluncuran, selama misi berlangsung, dan setelah mereka kembali ke Bumi. Para peneliti menggunakan epigenetic clocks, yakni metode pengukuran usia biologis berdasarkan perubahan pola DNA, bukan usia kalender.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah indikator biologis yang biasanya dikaitkan dengan penuaan mengalami peningkatan sementara selama astronaut berada di luar angkasa. Namun, setelah kembali ke Bumi, indikator tersebut kembali mendekati kondisi awal. Bahkan, pada beberapa kasus, usia biologis sempat tercatat lebih rendah dibandingkan sebelum misi dimulai.

Para peneliti mengaitkan fenomena ini dengan respons sistem kekebalan tubuh yang sangat adaptif terhadap stres lingkungan, perubahan pola tidur, serta kondisi fisik ekstrem selama misi luar angkasa.

Mereka menegaskan bahwa temuan tersebut tidak menunjukkan perjalanan luar angkasa mempercepat proses penuaan secara permanen. Meski demikian, studi ini masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan empat astronaut dengan durasi misi yang relatif singkat.

Wawasan tentang Proses Penuaan

Kendati terbatas, hasil penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana tubuh manusia merespons kondisi ekstrem di luar Bumi. Ruang angkasa dinilai dapat menjadi “lensa pembesar” bagi proses biologis yang pada kondisi normal berlangsung sangat lambat.

Ketika astronaut kembali ke lingkungan Bumi, tubuh mereka kembali menyesuaikan diri dengan cepat. Hal ini menunjukkan bahwa proses penuaan bukanlah mekanisme yang kaku, melainkan dinamis dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Astronaut tidak menjadi lebih tua atau lebih muda secara permanen, melainkan menunjukkan seberapa responsif sistem biologis manusia dalam menghadapi perubahan lingkungan ekstrem.

Artikel ini sudah tayang di detikEdu