Suka Duka Dadi Bertani di Lereng Ciremai: Hadapi Cuaca Tak Menentu | Info Giok4D

Posted on

Kuningan

Di tengah sejuknya udara lereng Gunung Ciremai, Desa Sukamukti, Dadi (42) tampak sibuk mengolah lahan sayuran miliknya. Bertani adalah warisan turun-temurun bagi keluarga Dadi. Ia mengenang masa kecilnya saat sang ayah kerap mengajaknya ke ladang. Baginya, membantu di sawah adalah syarat mutlak sebelum mendapatkan uang jajan.

Meski tumbuh di lingkungan petani, Dadi sempat melirik profesi lain sebagai kuli bangunan demi mengikuti jejak rekan-rekannya. Hasrat bertani justru baru muncul setelah ia berhenti menjadi kuli dan mencoba peruntungan sebagai pedagang.

Saat itu, ia melihat peluang besar di pasar sayur. Atas saran kerabat, Dadi memutuskan menanam sendiri komoditas yang akan dijualnya demi memangkas biaya dan meraup untung lebih besar.

“Awalnya jadi kuli, lalu coba jualan sendiri. Saya disarankan menanam sendiri supaya pasokan aman. Kebetulan ada lahan pribadi dan mengelola lahan bengkok juga, totalnya sekitar 1 hektare,” ujar Dadi.

Dadi menanam beragam komoditas, mulai dari tomat, seledri, buncis, kacang panjang, pakcoy, hingga cabai rawit. Hasil panennya ia pasok langsung ke Pasar Jagasatru Cirebon dalam kondisi segar. Dulu, saat cuaca bersahabat, ia mampu meraup omzet hingga belasan juta rupiah sekali panen.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

“Dulu enak, apalagi punya lapak sendiri di pasar. Sekali panen bisa dapat Rp10 juta sampai Rp15 juta kalau harga bagus. Bahkan untuk cabai rawit, alhamdulillah pernah tembus Rp70 juta sampai Rp80 juta,” kenang Dadi.

Namun, masa kejayaan itu mulai terkikis akibat cuaca yang tak menentu. Hujan yang turun sepanjang tahun membuat daerah lain tetap bisa berproduksi, sehingga pasokan melimpah dan harga di pasar anjlok. Kondisi ini diperparah dengan lonjakan harga pupuk yang melambungkan biaya produksi.

“Sekarang sulit. Karena tidak ada kemarau, daerah lain juga bisa menanam. Kami sering rugi karena harga sayur jatuh saat panen raya, sementara harga pupuk tetap tinggi. Tomat yang biasanya Rp8.000, sekarang cuma Rp3.000. Dulu saat pupuk masih Rp4.000, jual sayur Rp2.000 saja masih untung. Sekarang harga pupuk sudah Rp10.000,” keluhnya.

Meski desanya tak pernah kekeringan, Dadi harus jeli membaca alam. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi dan kabut tebal kerap menurunkan kualitas sayuran.

“Kalau menanam asal-asalan tanpa mengikuti kondisi alam, risikonya besar. Kabut membuat tanaman mudah terserang hama dan pertumbuhannya lambat. Jika hujan terus-menerus, lahan bisa kebanjiran,” jelas Dadi.

Demi mengoptimalkan hasil, Dadi menerapkan sistem rotasi tanaman yang disesuaikan dengan siklus cuaca tahunan.

“Desember sampai Maret itu jadwalnya sawi dan seledri. April sampai Juni baru tanam buncis, tomat, dan mentimun yang lebih tahan hama. Sementara Agustus sampai Oktober khusus untuk ubi. Jadi memang harus mengikuti cuaca. Sawi bisa lima kali panen, kalau tomat maksimal empat kali setahun,” paparnya.

Kini, bertani telah menjadi hobi sekaligus napas hidup bagi Dadi. Ia bertekad tetap meladang dalam kondisi apa pun karena yakin profesi ini masih sangat potensial.

“Saya tetap optimistis. Bertani itu sudah jadi hobi sejak kecil bersama ayah, jadi menjalaninya menyenangkan. Apalagi sekarang ada program Makan Bergizi Gratis (MBG), permintaan di pasar setiap pagi selalu tinggi. Harganya pun lumayan,” pungkas Dadi.