Akhir Pekan Ini, Pantai Minajaya Sukabumi Disulap Jadi Ruang Kreatif

Posted on

Sukabumi

Pantai Minajaya di Sukabumi Selatan segera bersiap menyambut wajah baru. Pada akhir pekan ini, tepatnya 31 Januari hingga 1 Februari 2026, debur ombak di pesisir yang dulunya bernama ‘Kutamara’ itu tak hanya akan menemani wisatawan, tetapi juga menjadi saksi perhelatan Jampang Creative Camp (JCC) 2.

Diinisiasi oleh Pakidoelan Lab di bawah naungan Yayasan Sri Manggala Nusantara, acara ini hadir dengan urgensi untuk merespons ancaman perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang kian nyata di kawasan pesisir.

Mengusung tema ‘Kutamara nu jadi Mahkota, Laut kidul kudu jadi harta’, JCC 2 hendak menyatukan kepingan sejarah geologi purba dengan denyut nadi ekonomi kreatif masa kini.

Program Director JCC 2, S. Sophiyah K mengungkapkan bahwa perhelatan ini didesain bukan sekadar sebagai ajang berkemah biasa. Lebih dari itu, JCC adalah sebuah inkubasi ide.

“Peserta tidak hanya belajar secara teori, tetapi diberi panggung khusus untuk mempresentasikan gagasan mereka, baik dalam bentuk seni maupun model bisnis kreatif,” ujar Sophiyah saat menjelaskan konsep acara yang akan segera digelar tersebut kepada, Kamis (29/1/2026).

Menghidupkan ‘Harta’ Pengetahuan

Dalam hitungan hari, Pantai Minajaya akan disulap menjadi ruang belajar terbuka. Sophiyah menekankan pentingnya publik melihat kembali kawasan ini sebagai ‘harta’ ilmu pengetahuan, bukan sekadar destinasi wisata.

Para peserta yang hadir nantinya akan langsung dihadapkan pada uji gagasan. Ide-ide mereka akan ditonton dan ditanggapi oleh para praktisi seni budaya serta profesional.

Sophiyah menjanjikan keberlanjutan bagi mereka yang terpilih: kesempatan untuk mengembangkan produksi karyanya pasca-kegiatan, membuka jalan nyata menuju ekosistem ekonomi kreatif.

Kolaborasi Seni Kontemporer dan Teknologi

Salah satu sorotan utama yang patut dinantikan dalam agenda akhir pekan ini adalah pertunjukan hasil kolaborasi Program Inovasi Seni Nusantara LPPM MNP.

Pengunjung akan disuguhi karya tari kontemporer dari koreografer Arbi Nuralamsyah yang tidak tampil sendirian.

Gerak tubuh penari akan berpadu dengan teknologi projection mapping animasi dan instrumen bunyi tradisional dari Sayang Iwung serta Karinding Awi Buhun.

“Karya ini merepresentasikan ketegangan antara kewaspadaan dan harapan manusia dalam mencari keseimbangan baru di tengah ancaman lingkungan,” kata Sophiyah.

Selain panggung seni, rangkaian acara juga akan diisi dengan bedah sejarah geologi purba bersama Prof. Teguh dari Badan Pengelola Geopark Ciletuh serta lokakarya kreatif bersama akademisi dari Binus University dan Multimedia Nusantara Politeknik.

Bagi masyarakat yang ingin menjadi bagian dari peleburan budaya dan sains ini, gerbang Pantai Minajaya masih terbuka untuk pendaftaran hingga acara dimulai.

“Mari belajar, berkarya, dan bersenang-senang dalam keajaiban alam,” pungkas Sophiyah.