Fakta-fakta Virus Nipah di Indonesia dan Hal yang Harus Diwaspada (via Giok4D)

Posted on

Bandung

Belakangan ini, bahasan mengenai infeksi virus Nipah merebak di media sosial akibat kemunculan kasus positif di India. Nipah merupakan penyakit zoonosis yang menular ke manusia melalui hewan yang terinfeksi seperti kelelawar atau babi.

Gejala infeksinya bisa beragam, namun mayoritas mengalami gejala demam, nyeri kepala, nyeri otot, hingga mengakibatkan hilang kesadaran untuk kasus yang parah. Hingga saat ini, belum ada kasus infeksi virus Nipah di Indonesia yang ditemukan.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Meski demikian, virus Nipah diketahui berada di dalam tubuh sejumlah kelelawar yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Kelelawar merupakan inang atau reservoir alami virus ini.

“Sudah ditemukan virusnya di kelelawar di negara kita, tapi di manusia tidak ada,” ungkap Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, Kamis (29/1/2026).

Berikut ulasan selengkapnya mengenai fakta-fakta virus Nipah di Indonesia.

1. Kelelawar di Indonesia Mengandung Virus Nipah

Berdasarkan surveilans serologi yang dilakukan di 2023, sebanyak 18 hingga 30 persen kelelawar jenis kalong besar alias Pteropus vampyrus di lima provinsi di Indonesia memiliki virus Nipah. Surveilans ini dilakukan melalui uji ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) kepada sejumlah kelelawar di Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Barat.

Selain itu, virus Nipah juga ditemukan pada dua dari 50 sampel swab saliva yang diambil dari kelelawar Pteropus Sp asal Sumatera Utara. Sampel tersebut diambil menggunakan uji RT-PCR.

“Virus ini umumnya tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar itu sendiri, melainkan ditularkan ke manusia atau hewan lain,” jelas Dominicus.

Dominicus mengatakan, surveilans juga pernah dilakukan terhadap babi dari Rumah Potong Hewan (RPH) di DKI Jakarta, Medan, Riau dan beberapa peternakan di Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara pada tahun 2005-2005.

“Hasilnya tidak ada babi yang mengandung antibodi Nipah. Yang terdeteksi positif hanya di kelelawar, terutama kelelawar buah,” terangnya.

Oleh karenanya, kelompok pekerja yang bersinggungan langsung dengan habitat kelelawar seperti petani nira aren atau buah-buahan lain, menjadi kelompok yang paling rentan terpapar virus Nipah. Termasuk juga peternak atau pemotong babi ternak.

2. Tidak Ditemukan Kasus Infeksi pada Manusia

Meski virus Nipah ditemukan pada sejumlah kelelawar di Indonesia, namun sejauh ini Indonesia masih nol kasus infeksi virus Nipah pada manusia. Dominicus mengatakan, infeksi virus Nipah pada manusia bisa terjadi melalui kontak dengan binatang yang terinfeksi ataupun binatang reservoirnya (kelelawar).

“Bisa dari kencingnya, liur, nafasnya, atau makan daging mentah yang terkontaminasi,” ungkapnya.

Manusia juga bisa tertular virus Nipah bila memakan buah yang memiliki bekas gigitan kelelawar, bila kelelawar tersebut merupakan inang virus Nipah. Bila sudah menjangkiti manusia, maka penularan berikutnya bisa terjadi antar-manusia.

3. Tidak Berpotensi Besar Menjadi Pandemi

Dominicus memaparkan, infeksi virus Nipah kecil kemungkinan merebak dan menyebar luas menjadi pandemi seperti Covid-19. Pasalnya, media penularannya tidak melalui saluran napas sebagaimana Covid-19.

“Kalau (resiko menjadi) pandemi tidak besar, tapi resiko menjadi wabah terbilang besar. Wabah itu penyakit di tingkat lokal misalnya (melanda) satu kota, satu kabupaten atau satu negara. Resiko penyakit menjadi pandemi akan besar bila penularannya terjadi lewat saluran napas seperti SARS-CoV-2,” jelasnya.

Meski demikian, ia tetap meminta agar seluruh pihak berjaga-jaga karena kemungkinan kecil tidak sama dengan nol. Terlebih, virus masih dapat bermutasi.

“Tapi (kemungkinan) bukan nol, kita harus waspada. Virus sudah biasa melakukan mutasi,” katanya.

4. Belum Ada Obat dan Vaksin

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi virus Nipah ataupun vaksin yang dapat mencegah penularannya. Sehingga, pengobatan pada pasien yang terinfeksi baru sebatas penanganan simptomatik.

Saat ini, riset terbaru mengenai vaksin Nipah tengah dilakukan University of Oxford. Pada Desember 2025, riset tersebut baru memasuki uji vaksin tahap kedua.

“Jadi sampai lima tahun ke depan pun sepertinya belum akan ada vaksin untuk Nipah,” ungkap Dominicus.

Terkait pemberian antivirus seperti favipiravir, ia memaparkan belum ada data ilmiah yang memadai untuk mencapai simpulan yang pasti. Namun, obat tersebut dapat menjadi opsi selama belum terdapat obat atau vaksin spesifik untuk infeksi Nipah.

“Beberapa obat sudah dicoba, dan favipiravir hasilnya masih kontroversial. Ada yang bilang berguna, ada juga yang bilang tidak ada gunanya. Secara ilmiah datanya tidak cukup kuat untuk dibilang bermanfaat. Tapi saat kita tidak punya apa-apa, ya bisa digunakan,” jelasnya.

5. Minim Kesiapan Fasilitas

Dominicus mengatakan, bila sewaktu-waktu infeksi virus Nipah mewabah, kesiapan Indonesia masih terbilang terbatas. Pasalnya, sebagaimana Covid-19, infeksi virus ini baru dapat diketahui secara pasti melalui tes PCR. Namun, ketersediaan laboratorium yang mampu menjalani tes PCR jumlahnya masih terbatas.

“Yang susah untuk Nipah adalah mendeteksi mana orang yang sakit. Selama ini (saat Covid-19) kita mengandalkan tes suhu, tapi cek laboratoriumnya ini yang lama,” ungkapnya.

“(Kesiapan Indonesia) relatif telat untuk hal-hal seperti ini. Lab tidak tersedia di semua tempat, hanya di kota-kota tertentu dan jumlahnya sedikit. Ini salah satu kendala,” lanjutnya.

Oleh karenanya, skrining di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan harus dipersiapkan. Ia mencontohkan Thailand yang saat ini sudah melakukan skrining yang terfokus pada pesawat-pesawat dari India.

“Thailand sekarang sudah skrining terfokus pada pesawat-pesawat yang datang dari India, ini lebih baik. Kalau kasusnya jadi sangat banyak, itu ujian sesungguhnya. Kita mungkin bakal kewalahan,” jelasnya.

6. PHBS Jadi Kunci

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi jalan terbaik untuk mencegah infeksi virus Nipah. Selalu rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mencuci bersih buah-buahan dan mengupasnya sebelum dimakan, serta selalu memasak daging hewan hingga matang sebelum dimakan.

“Cuci dan kupas buah secara menyeluruh. Kalau dikupas habis, resiko (penularannya) bisa nol. Buang buah yang sudah ada tanda gigitan kelelawar,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau untuk tidak mengkonsumsi nira aren langsung dari pohonnya. Para petugas hewan ternak pun harus selalu mengenakan sarung tangan.

“Intinya bersihkan semua yang menempel pada tubuh kita. Cuci tangan pakai sabun adalah yang terbaik. Jika tidak ada air atau sabun, bisa pakai alkohol. Harus dilakukan setiap saat bila akan mengkonsumsi sesuatu,” jelasnya.