Sukabumi –
Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Anugerah Ratu Alam 1 di Loji, Simpenan, menjadi sorotan pascakeracunan massal yang menimpa siswa dan guru penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah penutupan sementara operasional dapur, pihak manajemen mengklaim sebenarnya telah melakukan upaya darurat untuk mencegah makanan tak layak tersebut dikonsumsi siswa.
Yanyan Sugianto, Asisten Lapangan (Aslap) sekaligus Humas SPPG Anugerah Ratu Alam 1, menceritakan detik-detik saat dirinya berusaha menarik kembali distribusi makanan setelah menerima laporan adanya tahu berjamur.
Yanyan mengaku saat itu langsung mengambil tindakan saat mendapat laporan awal dari salah satu sekolah mengenai kondisi makanan. Tak hanya memberi peringatan via pesan singkat, ia bahkan turun langsung ke jalan untuk mengejar armada distribusi yang sedang bergerak.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Saya juga kejar mobil terakhir, Pak. Mobil terakhir itu ke arah Babakan Astana saya kejar, dan barang ketika diturunkan saya naikkan lagi semua,” ungkap Yanyan saat ditemui di SPPG Anugerah Ratu Alam 1, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, aksi pengejaran tersebut dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan para siswa dari risiko keracunan yang lebih luas.
“Itu bentuk upaya saya untuk meminimalisir terjadinya korban, pada saat itu,” tambahnya.
Sebelum melakukan pengejaran fisik, Yanyan mengklaim sudah mengirimkan peringatan dini kepada para penanggung jawab (PIC) di sekolah-sekolah sasaran. Ia meminta agar makanan hari itu tidak dibagikan atau dikonsumsi.
“Kemarin saya begitu ada report dari sekolah bahwa ada tahu yang berjamur, saya langsung memberikan announcement melalui grup PIC sekolah sekitar jam 8.50 WIB. Bahwa saya menyarankan untuk pengiriman hari itu jangan dimakan,” jelas Yanyan.
Sebagai bentuk tanggung jawab, ia saat itu juga langsung menjanjikan kompensasi penggantian makanan. “Dan saya akan ganti dobel di hari berikutnya, Pak,” ujarnya menirukan pesannya saat itu.
Yanyan juga menegaskan bahwa SPPG Loji tidak beroperasi asal-asalan, melainkan didukung oleh tenaga profesional yang kompeten di bidangnya.
Hal inilah yang awalnya membuatnya merasa aman saat melepas distribusi.
“Saya mempunyai ahli gizi yang memang mempunyai sertifikat tentang gizi makanan, Pak. Jadi saya merasa tenang. Yang kedua, saya mempunyai kepala SPPG yang memang mengikuti pelatihan, terkait khusus MBG,” beber Yanyan.
Namun kemudian ketika ada salah satu menu yang diduga berjamur, Yanyan mengklarifikasi bahwa dapur SPPG tidak melakukan proses pemasakan untuk menu tersebut. Tahu diterima dari pihak ketiga dalam kondisi siap saji.
“Tahu ini dari suplier. Terus kita tahu ini belinya mateng. Jadi beli mateng di sini itu hanya mengemas saja. Tidak ada campur tangan lain,” terangnya.
Ia memastikan tidak ada proses pengolahan tambahan yang berpotensi merusak kualitas di dapur mereka. “Datang tahu Sumedang yang mateng, lalu di sini masuk ke pengemasan ompreng. Jadi kalau di dapur tidak ada campur tangan,” tegasnya.
Meski telah melakukan upaya mitigasi, Yanyan tetap menyampaikan permintaan maaf terbuka atas insiden yang terjadi.
“Saya secara pribadi dan secara kru dapur meminta maaf, betul terjadi keracunan di lingkungan Kecamatan Simpenan khususnya penerima manfaat dari SPPG Loji,” pungkasnya.
Saat ini, SPPG Anugerah Ratu Alam 1 resmi menghentikan operasionalnya sementara waktu untuk keperluan evaluasi internal dan investigasi sesuai arahan Badan Gizi Nasional.







