Bandung –
Kasus pembunuhan sadis terhadap Z (13), siswa SMP asal Kecamatan Leuwigoong, Garut, perlahan terkuak. Korban ditemukan tewas mengenaskan di kawasan eks Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat (13/2) malam.
Polisi telah menangkap dua pelaku berinisial YA (16) dan AP (17) yang merupakan teman sekampung korban. Berikut tujuh fakta lengkap peristiwa tersebut yang dirangkum, Selasa (17/2):
1. Luka Tusuk dan Hantaman Benda Tumpul
Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra mengungkapkan hasil autopsi yang menunjukkan kekejaman para pelaku. Tim medis menemukan banyak luka di tubuh korban, baik akibat senjata tajam maupun hantaman benda tumpul.
“Terdapat luka, yang mana perkenaannya di kepala. Kemudian ada luka terbuka benda tajam di perut, kurang-lebih ada 8 tusukan,” kata Niko.
2. Upaya Keluarga Memisahkan Korban dan Pelaku
Kerabat korban, Undang Supriatna, menuturkan bahwa keluarga sebenarnya sudah mencium gelagat buruk dari pertemanan Z dan pelaku YA sejak masa SD. Keluarga bahkan sengaja memindahkan sekolah Z ke Kota Bandung demi memutus lingkaran pertemanan tersebut.
“Setelah lulus SD, kami pindahkan ke Bandung agar jauh dari pelaku. Tapi ternyata pelaku rutin mendatanginya,” kata Undang kepada wartawan.
3. Firasat Kuat Keluarga
Sejak Z dilaporkan hilang pada Senin (9/2), kecurigaan keluarga langsung mengarah kepada YA. Hal ini didasari riwayat hubungan pertemanan mereka yang dinilai tidak sehat oleh pihak keluarga.
“Karena kami sudah menyangka jika pelaku adalah dia (YA). Temannya sendiri, warga sini,” ujar Undang.
4. Kepala Desa Terkejut
Kabar keterlibatan dua remaja dalam kasus pembunuhan sadis ini mengguncang warga di desa asal pelaku. Kepala Desa, Uce Saepurohman, mengaku tidak menyangka warganya bisa bertindak senekat itu.
“Kami semua di sini sangat kaget. Ya tidak menyangka anak bisa melakukan tindakan yang sadis,” ungkap Uce.
5. Rekam Jejak Pelaku YA
Uce membeberkan sosok pelaku utama, YA, di mata lingkungan sekitar. YA dikenal sebagai remaja yang kerap bermasalah dan memiliki catatan disiplin yang buruk di sekolahnya.
“Sempat dikeluarkan kurang-lebih 1 tahunan. Tapi aktif masuk sekolah lagi,” jelas Uce.
6. Profil Pelaku AP
Berbeda dengan YA yang masih berstatus pelajar, tersangka AP (17) diketahui sudah putus sekolah. Sehari-hari, AP bekerja sebagai buruh kasar yang membantu pemasangan dekorasi pesta pernikahan.
Meskipun masih berusia di bawah umur, AP sudah tidak lagi mengenyam pendidikan formal dan memilih bekerja serabutan di bidang jasa dekorasi.
7. Latar Belakang Korban
Z memiliki kisah hidup yang memilukan. Ia menjadi piatu sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Momen kepindahannya ke Garut hingga bertemu pelaku terjadi saat ia diasuh oleh keluarga mendiang ibunya.
Z lahir di Bandung pada tahun 2012 dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Setelah sang ibu wafat, ia sempat dibawa keluarga besarnya untuk bersekolah di Garut saat duduk di bangku kelas 5 SD, sebelum akhirnya dipindahkan kembali ke Bandung.







