Bandung –
Indonesia memiliki ratusan tarian tradisional yang menarik, namun tidak semua tarian tersebut sepopuler tari saman dari Aceh atau tari kecak dari Bali. Di berbagai wilayah, terdapat tarian tradisional yang hampir punah dan jarang diketahui karena ketiadaan penerus serta kurangnya perhatian masyarakat. Jika tidak diperkenalkan kembali, tarian-tarian ini mungkin saja lenyap ditelan waktu.
Artikel ini akan membahas enam tarian tradisional yang hampir punah, namun masih memiliki nilai budaya dan sejarah yang sangat kuat. Selain kaya akan makna, setiap tarian mewakili keunikan dan identitas daerah asalnya. Mengenal budaya Indonesia bukan sekadar menambah wawasan, melainkan langkah nyata untuk menjaga serta melestarikan kekayaan bangsa.
Berikut beberapa tarian yang jarang diketahui masyarakat:
Tari Ketuk Tilu
Tari Ketuk Tilu Foto: Mochamad Solehudin |
Tari ini berasal dari daerah Priangan, Bogor, dan Purwakarta di Jawa Barat. Ketuk Tilu adalah tarian yang diwariskan oleh masyarakat Sunda sejak abad ke-19. Nama tarian ini merujuk pada tiga jenis ketukan yang dihasilkan oleh alat musik pengiring, yaitu kendang dan gong kecil yang berfungsi mengatur irama. Tari ini dahulu dipertunjukkan oleh ronggeng, pemusik, dan sinden dalam suasana yang meriah.
Pertama kali digunakan dalam upacara syukur pascapanen, Ketuk Tilu kemudian berkembang menjadi hiburan rakyat. Dari tarian inilah lahir tari jaipongan yang inspirasi gerak serta iramanya berakar dari Ketuk Tilu, hingga menjadi cikal bakal tari modern khas Sunda.
Tari Wangsa Suta
Tari Wangsa Suta merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Tarian ini dibawakan oleh tujuh penari pria yang memerankan tokoh Wangsa Suta sebagai pemimpin. Dalam pertunjukannya, para penari membentuk berbagai formasi yang menceritakan suasana perang, sekaligus menyimbolkan kerja sama, kesatuan, serta semangat kepahlawanan.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Pada awal pertunjukan, dua penari tampil di depan dengan gerakan melompat dinamis sambil berputar, seolah-olah sedang menyiapkan diri memasuki medan laga. Gerakan kemudian melambat dengan ayunan tangan dan kaki yang teratur, dibarengi lirik mata tajam ke kiri dan kanan saat mengelilingi panggung.
Tari Boboko Mangkup
Tari Boboko Mangkup merupakan tarian tradisional khas Jawa Barat yang unik karena menggunakan alat berupa boboko atau bakul nasi besar sebagai properti utama. Tarian ini dibawakan oleh 12 penari yang terdiri dari satu penari pria, lima penari wanita, dan enam anak-anak.
Di atas panggung, para penari perempuan berputar lembut sambil memainkan boboko, sesekali menengadah ke langit dan merentangkan tangan dengan gerakan jemari yang gemulai. Mereka juga menari di atas boboko yang dibalik, menciptakan unsur kejutan yang memikat. Dipadu dengan lagu-lagu tradisional, tarian ini menampilkan kreativitas pertunjukan yang sangat menarik.
Tari Ronggeng Gunung
Svadara Warna Indonesia melangsungkan pertunjukan yang mengangkat kesenian Ronggeng Gunung pada 3 Maret 2024 di Gedung Pertunjukan Wayang Orang Baratha. Pertunjukan ini menjadi titik persinggahan keempat dari persembahan #GIK1Dekade: Kado Untuk Sanggar. Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya |
Ronggeng Gunung adalah tarian tradisional dari daerah Priangan Timur, Jawa Barat, yang diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Galuh pada abad ke-7. Nama “ronggeng” berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya perempuan yang disukai dan dicintai. Tarian ini menceritakan kisah Raja Anggalarang dan mulai berkembang sebagai hiburan di lingkungan kerajaan dengan konsep tampilan sederhana namun sarat makna.
Perpaduan antara bajidor dan pencak silat membuat gerakannya unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Selain berfungsi sebagai hiburan, Ronggeng Gunung juga digunakan dalam upacara adat seperti panen raya dan penyambutan tamu, yang biasanya diawali dengan ritual khusus.
Tari Keurseus
Tari Keurseus adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Rancaekek, Provinsi Jawa Barat. Tarian ini ditampilkan oleh pasangan pria dan wanita yang menari dengan gerakan lembut, anggun, dan penuh penjiwaan, didampingi musik degung yang nyaring. Tari Keurseus sering dipentaskan dalam acara pernikahan atau penyambutan tamu kehormatan karena nuansanya yang elegan.
Tari Keurseus awalnya berakar dari gerakan tari Tayuban, yang kemudian disusun kembali pada tahun 1920 oleh R. Sambas Wirakusumah. Dari proses tersebut, muncul berbagai tarian dengan ciri khas berbeda yang dikenal sebagai kelompok tari Keurseus. Keunikan tarian ini terletak pada kekompakan, ekspresi halus, serta keselarasan gerak yang memukau penonton.
Tari Purnamasari
Tari ini dimulai dengan kemunculan delapan penari, yakni empat wanita dan empat pria. Mereka saling berputar dan berhadapan, seolah-olah saling menantang untuk menunjukkan kekuatan. Adegan pertarungan antara dua pihak ini menjadi bagian paling dramatis karena menciptakan ketegangan sekaligus menampilkan estetika gerak di atas panggung.
Tarian ini mengisahkan perasaan marah dan kekecewaan Purnamasari, putri bungsu Raja dari Kerajaan Padjajaran yang tersesat di daerah Pelabuhan Ratu. Tata rias bergaya Sunda klasik memperkuat karakter setiap penari, menjadikan pertunjukan ini terasa lebih emosional dan penuh arti.
Setelah mengenal enam tarian tradisional yang hampir punah ini, mana yang paling menarik bagi Detikers? Dari gerak, musik, hingga kisah di baliknya, setiap tarian memiliki keunikan tersendiri. Jadi, tarian mana yang paling ingin Anda saksikan secara langsung?









