Bandung –
Kericuhan suporter pecah usai laga Persib Bandung kontra Ratchaburi FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Rabu (18/2/2026) malam. Insiden perusakan dan pelemparan ini menuai kritik tajam, salah satunya dari komunitas suporter Viking Farmasi.
Ketua Viking Farmasi, Kris Jelly, menyayangkan aksi anarkis oknum suporter yang menodai perjuangan Persib di kancah Asia (ACL 2).
Berikut 6 fakta poin sorotan dari Viking Farmasi yang dirangkum, Kamis (19/2/2026):
1. Kecewa Kepemimpinan Wasit
Kris Jelly tidak menampik bahwa seluruh suporter merasa kecewa berat karena Persib gagal lolos ke perempat final ACL 2. Kepemimpinan wasit di lapangan menjadi salah satu faktor utama kekesalan tersebut.
“Semua bobotoh juga pasti sama kecewa dengan hasil kemarin, terutama pada wasit yang memimpin pertandingan kemarin, terlihat dengan keputusan yang merugikan tim Persib,” ujar Kris.
2. Sayangkan Tindakan Rusuh
Meski wajar merasa kecewa, Kris menegaskan tindakan perusakan tidak bisa dibenarkan. Apalagi, insiden ini terjadi saat Persib sedang berusaha memperbaiki citra di level internasional.
“Sangat menyayangkan adanya insiden setelah pertandingan, padahal Persib sedang berjuang menaikkan ranking klub di level internasional, namun realita di lapangan justru penuh kekacauan,” ucapnya.
3. Desak Evaluasi Total
Untuk mencegah sanksi berat dari federasi dan memperbaiki citra klub yang tercoreng, Kris meminta semua pihak tidak sekadar saling menyalahkan, melainkan melakukan evaluasi bersama.
“Semoga manajemen dan seluruh elemen bobotoh bisa duduk bersama untuk evaluasi total agar kejadian memalukan di kompetisi Asia ini tidak terulang lagi,” katanya.
4. Rapor Merah Pengamanan Stadion
Sorotan tajam juga diarahkan pada sistem keamanan panitia penyelenggara (Panpel). Lolosnya barang-barang terlarang ke area tribun dinilai sebagai kelemahan fatal.
“Kalau ngomongin ada petasan dan botol yang lolos masuk ke tribun, ini jadi rapor merah buat sistem pengamanan di stadion,” tegasnya.
5. Sering Terjadi dan Berujung Sanksi
Kris mengingatkan bahwa kecolongan barang terlarang dan aksi indisipliner penonton ini bukan yang pertama kali. Ia menyinggung insiden sebelumnya yang langsung berbuah sanksi bagi klub.
“Karena ini bukan kejadian sekali dua kali, karena pertandingan sebelumnya pun sudah pernah terjadi baik d liga maupun d ACL 2 kalau nggak salah waktu Persib vs Selangor, dan waktu itu Persib langsung kena sanksi,” lanjut Kris.
6. Kunci Ada di Kesadaran Suporter
Pada akhirnya, Kris menekankan bahwa akar penyelesaian masalah ada pada kedewasaan individu suporter itu sendiri, bukan sekadar pada pengetatan aturan.
“Mudah-mudahan semua bobotoh bisa lebih dewasa dalam bertindak dan berpikir berulang kali ketika akan melakukan sesuatu yang bisa merugikan tim, karena kuncinya ada di kesadaran masing-masing. Mau seketat apapun dan mau seberat apapun sanksi, kalau dari pelakunya sendiri tidak punya kesadaran ya susah,” tutup Kris.







