Bandung –
Kasus keracunan akibat konsumsi jamur liar kembali terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Empat orang dari satu keluarga harus menjalani perawatan intensif setelah mengonsumsi jamur yang ditemukan di kebun dekat rumah mereka.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu bermula saat keluarga asal Kampung Cibarengkok, Desa Sukaraharja, Kecamatan Cibeber, memetik jamur liar yang tumbuh di sekitar kebun. Jamur tersebut kemudian diolah menjadi tumisan dan dikonsumsi bersama. Tak lama setelah makan, para korban mengalami pusing, muntah, dan diare.
“Korban ada empat orang, masih satu keluarga. Keempatnya adalah AR (60), S (27), SA (25), dan ST (36). Seluruhnya mengalami gejala keracunan seperti muntah dan diare,” ujar Kepala Puskesmas Cibaregbeg, Udin Wahyudi, Senin (2/2/2026).
Kasus ini menambah daftar insiden keracunan jamur liar di Cianjur. Kasus serupa sebelumnya terjadi di Mekarsari, Kecamatan Cikalongkulon. Masyarakat pun diimbau lebih berhati-hati, terutama dalam membedakan jamur liar yang aman dikonsumsi dan yang beracun.
Ciri Jamur Liar yang Relatif Aman Dikonsumsi
Jamur Tiram Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar |
Meski tidak ada cara yang benar-benar aman tanpa pengetahuan ahli, sejumlah ciri fisik jamur berikut kerap dijadikan indikator awal jamur yang relatif aman dikonsumsi. Cara-cara ini, dikutip dari berbagai sumber.
1. Warna Tubuh Jamur Tidak Bervariasi
Jamur yang dapat dikonsumsi umumnya memiliki warna tubuh yang cenderung seragam, seperti putih pucat, cokelat muda, atau krem. Warna tersebut terlihat konsisten dari tudung hingga batang.
Jamur dengan warna stabil biasanya merupakan jenis yang telah lama dikenal masyarakat dan bahkan dibudidayakan. Warna yang tidak mencolok juga menandakan rendahnya senyawa toksik sebagai mekanisme pertahanan diri jamur.
Sebaliknya, warna yang terlalu kontras atau berubah-ubah sering kali menjadi sinyal bahaya dan perlu diwaspadai.
2. Tidak Mengeluarkan Aroma Amonia
Jamur yang aman dikonsumsi umumnya beraroma netral atau sedikit harum alami. Aroma ini tidak menyengat dan tidak menimbulkan rasa perih di hidung.
Jika jamur mengeluarkan bau tajam menyerupai amonia, bahan kimia, atau bau busuk, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya senyawa beracun di dalamnya. Pemeriksaan aroma menjadi langkah awal yang penting sebelum jamur diolah dan dikonsumsi.
3. Tidak Memiliki Cincin pada Pangkal Batang
Sebagian besar jamur beracun memiliki struktur cincin atau selubung (volva) di pangkal batangnya. Jamur konsumsi umumnya tidak memiliki ciri tersebut. Batang jamur yang polos tanpa cincin atau selaput tambahan relatif lebih aman, meski tetap perlu dikombinasikan dengan ciri lain.
4. Sudah Dibudidayakan atau Dijual di Pasar
Jamur yang aman dikonsumsi biasanya sudah dikenal luas dan dibudidayakan, seperti jamur tiram, jamur merang, dan jamur kuping. Jamur yang dijual di pasar tradisional maupun modern telah melalui proses seleksi dan pengawasan tertentu.
5. Tidak Menghasilkan Noda Saat Dipotong
Jamur yang aman biasanya tidak berubah warna atau mengeluarkan noda mencolok saat dipotong. Jika jamur mengeluarkan cairan berwarna biru, hitam, atau kehijauan setelah dipotong, hal tersebut patut dicurigai.
Perubahan warna cepat sering dikaitkan dengan reaksi kimia dari senyawa beracun di dalam jamur.
6. Tidak Terjadi Perubahan Warna Saat Dimasak
Jamur konsumsi umumnya tetap mempertahankan warna aslinya saat dimasak. Jika warna jamur berubah drastis menjadi gelap atau kehijauan ketika dipanaskan, sebaiknya makanan tersebut tidak dikonsumsi. Perubahan warna saat dimasak dapat menandakan reaksi toksin terhadap panas.
Dua Jenis Jamur Paling Beracun di Dunia
Beberapa jenis jamur dikenal sangat mematikan dan menjadi penyebab utama kasus keracunan fatal di berbagai negara. Berikut ini, dua jenis jamur paling beracun di dunia.
Malaikat Penghancur
Malaikat Penghancur. Demikian nama yang umum dikenal untuk jamur Amanita virosa ini. Menurut situs North Carolina Extension Gardener Plant Toolbox, Amanita virosa merupakan salah satu jamur paling beracun di dunia.
Jamur ini dapat menyebabkan muntah dan diare hebat, yang kemudian berlanjut pada gagal hati dan kematian jika tidak segera ditangani. Bentuknya yang sekilas mirip jamur konsumsi membuat Amanita virosa sangat berbahaya bagi masyarakat awam.
Payung Maut
Payung Maut (Death Cap) adalah nama yang dikenal untuk jamur Amanita phalloides ini. Berdasarkan informasi dari situs Woodland Trust, Amanita phalloides atau death cap dikenal sebagai ‘pembunuh senyap’.
Jamur ini telah digunakan sebagai racun pembunuh selama ribuan tahun dan menjadi penyebab utama kematian akibat keracunan jamur di dunia. Gejalanya sering muncul terlambat, saat racun sudah merusak organ vital.
Ciri Jamur Beracun yang Harus Diwaspadai
jamur beracun Foto: IFL Science |
1. Berwarna Mencolok
Jamur beracun sering memiliki warna cerah seperti merah, kuning terang, atau oranye menyala. Warna mencolok ini berfungsi sebagai peringatan alami bagi makhluk lain agar tidak memakannya.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
2. Berbau Tidak Sedap
Jamur beracun kerap mengeluarkan bau menyengat, asam, atau kimiawi. Aroma tersebut menjadi tanda awal adanya racun yang berbahaya bagi tubuh manusia.
3. Mudah Hancur Saat Diraba
Tekstur jamur beracun cenderung rapuh dan mudah hancur saat disentuh. Jamur konsumsi umumnya lebih kenyal dan elastis.
4. Memiliki Bintik Mencolok di Tudung
Bintik putih atau bercak kontras di bagian tudung sering ditemukan pada jamur beracun. Ciri ini harus menjadi peringatan keras bagi siapapun yang menemukannya di alam.
5. Memiliki Cincin pada Batang
Cincin atau selaput di batang jamur merupakan ciri khas banyak jamur beracun, terutama dari genus Amanita. Jika menemukan jamur dengan ciri tersebut, sebaiknya tidak dikonsumsi.









