Bandung –
Bacaan doa buka puasa menjadi amalan penting yang dianjurkan bagi umat Muslim saat waktu berbuka tiba di bulan Ramadhan. Selain sebagai ungkapan syukur, momen berbuka puasa juga merupakan waktu mustajab untuk berdoa.
Karena itu, memahami bacaan doa buka puasa beserta keutamaannya menjadi hal yang penting. Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), terdapat sejumlah riwayat hadis yang menjelaskan doa-doa yang bisa dipanjatkan untuk berbuka puasa. Simak ulasan selengkapnya berikut ini!
Keutamaan Doa Berbuka Puasa
Puasa merupakan momen di mana doa seorang hamba memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan Allah SWT. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW berikut:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: seorang pemimpin yang adil, seorang yang berpuasa saat berbuka dan doa orang yang terzalimi, doanya diangkat di atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan,” (HR. Tirmidzi no. 2449).
Hadis lain juga menegaskan keistimewaan doa orang yang berpuasa, khususnya ketika berbuka:
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ »
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah no. 1753).
Kedua hadis tersebut menjadi dasar kuat bahwa waktu berbuka puasa adalah saat mustajab untuk berdoa. Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan momen tersebut untuk memohon ampunan, keberkahan hidup, kesehatan, kemudahan rezeki, hingga keselamatan dunia dan akhirat.
5 Ragam Bacaan Doa Buka Puasa
Isi ucapan doa saat berbuka puasa pada dasarnya bersifat umum dan tidak terbatas selama mengandung makna kebaikan. Terkait doa berbuka, Imam al-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar menampilkan lima ragam doa berbuka puasa yang bersumber dari berbagai riwayat hadis. Berikut bacaan dan artinya :
1. Doa Buka Puasa Versi Pertama
Doa pertama berasal dari riwayat Abu Daud dari Sahabat Ibnu Umar RA, bahwa Rasulullah SAW ketika berbuka membaca:
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
(Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah)
Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.” (HR. Abu Daud no. 2010).
2. Doa Buka Puasa Versi Kedua
Doa kedua juga berasal dari riwayat Abu Daud dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwa Rasulullah SAW pernah membaca:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
(Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu)
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Daud no. 2011).
Di Indonesia, doa ini sering ditambah kalimat lain. Doa ini merupakan opsi yang paling populer dan banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia :
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
(Allahummalakasumtu wabika aamantu wa’alarizqika afthortu birohmatikaya ar-hamarrahimin)
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki serta kasih sayang-Mu aku berbuka, wahai Yang Maha Pengasih.”
3. Doa Buka Puasa Versi Ketiga
Doa ketiga berasal dari riwayat Ibnu Sunni dari Mu’adz bin Zahrah:
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ
(Alhamdulillahilladzi a’aananii fashamtu, wa razaqanii faafthartu)
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang menolongku sehingga aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.” (HR. Ibnu Sunni).
4. Doa Buka Puasa Versi Keempat
Doa keempat juga diriwayatkan Ibnu Sunni dari Sahabat Ibnu Abbas:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ
(Allahumma shumnaa, wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim)
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu kami berpuasa dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah (puasa) kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Ibnu Sunni).
5. Doa Buka Puasa Versi Kelima
Doa kelima berasal dari riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dari Ibnu Umar:
اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
(Allahumma inni asaluka birahmatikallatii wasi’at kulla syaiin antaghfira lii)
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”
Kapan Waktu Membaca Doa Buka Puasa?
Sebagaimana disarikan dari laman NU Online, para ulama menjelaskan bahwa doa berbuka puasa pada dasarnya dianjurkan dibaca setelah seseorang benar-benar selesai berbuka, bukan sebelum makan atau minum.
Keterangan ini antara lain disebutkan dalam kitab Fath al-Mu’in, yang menyebutkan bahwa doa yang dibaca setelah berbuka adalah lafal riwayat Mu’adz bin Zuhrah, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu”.
Sedangkan, doa riwayat Ibnu Umar seperti “Dzahaba-dhdhama’u wabtalatil ‘urûqu wa tsabatal ajru insyâ-allâh” dianjurkan ditambahkan terutama ketika seseorang berbuka dengan air. Berikut keterangan lengkapnya:
ويسن أن يقول عقب الفطر: اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت ويزيد – من أفطر بالماء -: ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الاجر إن شاء الله تعالى
Artinya: “Disunnahkan membaca doa setelah selesai berbuka: ‘Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu’, dan bagi orang yang berbuka dengan air ditambahkan doa: ‘Dzahabadh dhamâ’u wabtalatl-‘urûqu wa tsabata-l-ajru insyâ-a-Llâh’.” (Fath al-Mu’in, juz 2, hlm. 279).
Dalam praktik sehari-hari, hampir semua orang berbuka dengan makanan sekaligus minuman. Karena itu, di Indonesia dikenal bentuk doa gabungan dari dua riwayat tersebut, yakni:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمأُ وابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى
Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu dzahaba-dh-dhama’u wabtalatil ‘urûqu wa tsabatal ajru insyâ-allâh ta’âlâ
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mulah aku berpuasa, atas rezeki-Mu lah aku berbuka. Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan (semoga) pahala telah ditetapkan, insyaallah.”
Hal yang sering disalahpahami di masyarakat adalah waktu membaca doa ini. Banyak orang terbiasa membaca doa berbuka sebelum menyentuh makanan atau minuman ketika azan Magrib berkumandang. Padahal menurut penjelasan ulama, yang dimaksud “setelah berbuka” adalah setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya dengan makan atau minum terlebih dahulu.
Penjelasan ini ditegaskan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin sebagai berikut:
ـ (وقوله: عقب الفطر) أي عقب ما يحصل به الفطر، لا قبله، ولا عنده
Artinya: “Yang dimaksud (membaca doa) ‘setelah berbuka’ adalah setelah terjadinya berbuka puasa, bukan sebelumnya dan bukan saat berbuka.” (Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, hlm. 279).
Secara makna, hal ini juga selaras dengan isi doa berbuka itu sendiri. Misalnya pada doa yang berarti “telah hilang dahaga dan telah basah tenggorokan”. Ungkapan tersebut tentu lebih tepat diucapkan setelah seseorang minum atau makan, karena kondisi yang disebutkan dalam doa sudah terjadi.
Meski demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa membaca doa sebelum berbuka tetap bernilai sunnah, hanya saja belum mencapai keutamaan yang paling sempurna. Artinya, seseorang tetap memperoleh pahala jika membacanya sebelum makan, tetapi yang lebih utama adalah setelah selesai berbuka.
Hal ini diterangkan dalam kitab Busyra al-Karim:
ويسنّ أن يقول عنده أي عند إرادته والأولى بعده: اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت
Artinya: “Disunnahkan bagi orang ketika hendak berbuka, namun yang lebih utama setelah berbuka, membaca doa ‘Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu’.” (Busyra al-Karim, hlm. 598).
Dengan demikian, waktu terbaik membaca doa buka puasa menurut para ulama adalah setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya dengan makan atau minum. Wallahualam.







