Bandung –
Jumlah pengangguran di Jawa Barat masih berada di angka tinggi. Hingga November 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 1,77 juta orang penduduk Jawa Barat berstatus menganggur, meski secara statistik terjadi penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyampaikan bahwa dari total penduduk usia kerja berumur 15 tahun ke atas yang mencapai 39,35 juta orang, tidak seluruhnya terserap ke dalam dunia kerja.
“Jumlah angkatan kerja sebanyak 26,63 juta orang meningkat 344,55 ribu orang dan bukan angkatan kerja sebanyak 12,72 juta orang. Dari data angkatan kerja tersebut penduduk bekerja sebanyak 24,86 juta orang dan pengangguran sebanyak 1,77 juta orang,” jelas Ari, Kamis (5/2/2026).
Meski angka pengangguran masih menyentuh jutaan orang, BPS mencatat adanya perbaikan dalam periode Agustus hingga November 2025. Dalam rentang waktu tersebut, jumlah pengangguran berkurang sebanyak 5.154 orang seiring meningkatnya penyerapan tenaga kerja.
“Secara statistik, pada periode Agustus 2025-November 2025 terjadi penurunan jumlah pengangguran sebanyak 5.154 orang dari 1,78 juta orang pada Agustus 2025 menjadi 1,77 juta orang pada November 2025,” kata Ari.
Penurunan pengangguran ini berjalan seiring dengan penyerapan tenaga kerja yang cukup signifikan. Sepanjang Agustus hingga November 2025, Jawa Barat menyerap sebanyak 349,71 ribu tenaga kerja baru.
BPS juga mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat pada November 2025 berada di angka 6,66 persen. Angka ini turun 0,11 poin dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 6,77 persen.
Secara tren jangka menengah, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Barat menunjukkan perbaikan. Sejak Agustus 2021, TPT terus menurun dari 9,82 persen menjadi 6,66 persen pada November 2025. Jika dirinci berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki tercatat sebesar 6,78 persen, sementara perempuan berada di angka 6,46 persen.
Di sisi lain, partisipasi penduduk usia kerja dalam kegiatan ekonomi juga mengalami peningkatan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Jawa Barat pada November 2025 tercatat sebesar 67,67 persen.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Pada Februari 2024 TPAK mencapai 67,34 persen, lalu pada Agustus 2025 turun menjadi 66,99 persen, kemudian pada November 2025 meningkat menjadi 67,67 persen. Jika kita bandingkan menurut jenis kelamin, TPAK laki-laki sebesar 85,09 persen, lebih tinggi dibandingkan TPAK Perempuan yang sebesar 49,95%,” rinci Ari.
Dari total 24,86 juta penduduk yang bekerja, sektor perdagangan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 22,44 persen. Disusul industri pengolahan sebesar 18,61 persen serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 15,43 persen.
Selama periode Agustus hingga November 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat penambahan tenaga kerja paling besar, yakni 99,82 ribu orang. Sektor pendidikan bertambah 46,84 ribu orang, sementara sektor penyediaan akomodasi dan makan minum bertambah 37,98 ribu orang.
Namun demikian, tidak semua sektor bergerak positif. Pada November 2025, sektor pertambangan dan penggalian justru mengalami penurunan serapan tenaga kerja. Dari sisi status pekerjaan, struktur tenaga kerja Jawa Barat masih didominasi oleh buruh, karyawan, dan pegawai.
“Status pekerjaan utama penduduk bekerja didominasi status buruh/karyawan/pegawai, dengan proporsinya mencapai 41,55 persen pada November 2025, selanjutnya diikuti oleh pekerja dengan status berusaha sendiri sebanyak 23,39 persen,” ujar Ari.
Peningkatan penduduk bekerja paling besar terjadi pada kelompok berusaha sendiri, yang bertambah 162,18 ribu orang. Kondisi ini mendorong dominasi sektor informal di Jawa Barat.
“Pada November 2025 proporsi pekerja informal sebesar 55,55 persen dan sisanya 44,45 persen terserap di kegiatan formal. Peningkatan proporsi pekerja informal didorong oleh meningkatnya pekerja dengan status berusaha sendiri,” pungkas Ari.







