10 Tradisi Unik Jawa Barat Sambut Ramadan, dari Munggahan hingga Nyekar update oleh Giok4D

Posted on

Bandung

Bagi banyak masyarakat di Jawa Barat, datangnya bulan suci bukan sekadar soal menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah momen memperbaiki keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang disambut sukacita melalui berbagai ritual adat. Tatar Pasundan memiliki cara tersendiri untuk merayakan kedatangan bulan ini dengan memadukan nilai agama dan kearifan lokal yang telah turun-temurun.

Jelang Ramadhan, antusiasme warga seringkali terlihat tinggi. Tradisi-tradisi yang dilakukan bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pembersihan diri, silaturahmi, dan penghormatan kepada leluhur.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Lantas, apa saja tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa Barat di berbagai daerahnya? Berikut rangkuman mengenai tradisi unik masyarakat Jawa Barat menjelang Ramadhan.

1. Munggahan

Munggahan berasal dari kata ‘unggah’ yang berarti naik. Tradisi ini biasanya dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum puasa. Munggahan ini melambangkan naiknya derajat manusia dari tingkat yang lebih rendah, dari bulan Syaban menuju bulan Ramadhan, atau orang Sunda biasa menyebutnya dari bulan Ruwah ke Puasa.

Tradisi ini biasanya diisi dengan makan bersama (botram) di antara anggota keluarga, saudara, hingga tetangga. Munggahan juga menjadi sarana pendekatan sosial dan sarana saling memaafkan agar batin terasa ringan saat memulai ibadah puasa. Munggahan biasanya diakhiri dengan doa bersama untuk memohon kelancaran dalam menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan.

2. Nyekar

Tradisi Nyekar atau ziarah ke makam keluarga merupakan salah satu tradisi yang umum dilakukan di seluruh pelosok Jawa Barat. Dalam tradisi ini masyarakat datang membawa bunga dan air mawar untuk mendoakan dan membersihkan makam leluhur.

Tradisi nyekar menjadi pengingat akan kematian, sehingga setiap orang terdorong untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan.

3. Dlugdag

Dlugdag merupakan sebuah tradisi jelang Ramadhan yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Cirebon. Tradisi ini dilaksanakan tepat sehari sebelum Ramadhan, setelah melaksanakan salat Asar. Tradisi ini berupa penabuhan bedug di masjid yang menandakan dimulainya bulan puasa.

Tradisi ini berawal dari belum adanya pengeras suara pada zaman dahulu, sehingga tabuhan bedug ini berfungsi sebagai penanda informasi bagi masyarakat saat itu. Walaupun begitu, tradisi masih dilaksanakan sampai sekarang. Hal ini karena irama bedugnya yang khas, berbeda dengan irama bedug biasanya, sehingga menjadi tradisi pengingat bagi warga setempat untuk mempersiapkan fisik dan mental menjelang bulan Ramadhan.

4. Mapag Ramadhan

Tradisi mapag rutin dilakukan oleh masyarakat Ciamis. Kata ‘mapag’ berarti menjemput. Tradisi ini sering dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti pawai obor, takbir keliling, atau pengajian akbar di masjid-masjid besar. Tradisi Mapag Ramadhan menjadi momen kegembiraan bersama, bahwa kesempatan untuk beribadah di bulan suci kembali datang.

5. Nadran

Tradisi Nadran merupakan salah satu tradisi unik yang dilakukan masyarakat di wilayah pesisir utara Jawa Barat jelang Ramadhan. Nadran sering dikaitkan dengan sedekah laut, sehingga tradisi ini khusus dilakukan di wilayah pesisir utara seperti Indramayu dan Cirebon. Masyarakat melaksanakan tradisi ini menjelang Ramadhan sebagai bentuk syukur sebelum memasuki masa tenang di bulan suci. Tradisi dilakukan oleh masyarakat dengan melarung sesaji ke laut sebagai bentuk rasa syukur dan doa keselamatan.

6. Papajar

Masyarakat Sunda khususnya Cianjur dan Sukabumi biasa melaksanakan tradisi Papajar. Walaupun Papajar berasal dari kata mapag pajar (fajar) dan identik dengan terbitnya matahari, tradisi ini disimbolkan sebagai sambutan terbitnya bulan Ramadhan.

Tradisi ini dilakukan dengan cara berwisata ke tempat seperti sungai, kebun, atau pantai, sambil makan bersama. Papajar dipandang sebagai momen untuk menikmati kebersamaan sebelum memulai pembatasan fisik selama sebulan penuh.

7. Misalin

Tradisi misalin merupakan tradisi jelang Ramadhan yang biasa dilakukan di Desa Cimaragas, Ciamis. Kata ‘misalin’ sendiri identik dengan mengganti atau bersalin menjadi sosok yang lebih bersih. Tradisi ini dimulai dengan berkumpulnya masyarakat untuk membersihkan makam leluhur dan melakukan prosesi adat berupa tawasul dan doa bersama di area makam para leluhur. Setelah melakukan doa bersama, masyarakat selanjutnya saling bersalaman antar warga, lalu makan bersama sebagai wujud kebersamaan warga.

8. Sepak Bola Api di Pesantren

Beberapa Pondok Pesantren di Jawa Barat memiliki tradisi unik berupa pertandingan sepak bola api, seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Ciwaringin, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Tradisi ini turun-temurun dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Bola api terbuat dari kelapa yang direndam minyak tanah. Tradisi ini melambangkan semangat yang membara sekaligus ujian keberanian dan kekuatan iman dalam menghadapi cobaan selama berpuasa.

9. Kuramasan

Tradisi Kuramasan biasa dilakukan oleh masyarakat di daerah Cianjur dan sekitarnya. Masyarakat melakukan mandi besar di sungai secara bersama-sama. Tradisi ini secara simbolis merupakan menyucikan seluruh kotoran di tubuh agar bersih secara lahiriah sebelum menghadap Sang Pencipta pada salat tarawih pertama.

Dalam pelaksanaan tradisi ini, masyarakat biasanya membersihkan sungai dari sampah dan makan bersama untuk menjalin keakraban antar warga.

10. Nyorog

Nyorog adalah tradisi jelang Ramadhan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi yang berada di Jawa Barat. Tradisi ini dilakukan dengan kegiatan mengantarkan bingkisan makanan kepada orang tua atau saudara yang tinggal berjauhan. Hal ini merupakan wujud penghormatan dan kasih sayang. Nyorog juga secara simbolis memperkuat kekeluargaan yang sangat menjunjung tinggi etika terhadap orang tua. Selain dilakukan menjelang Ramadhan, tradisi ini juga dilakukan saat ada pernikahan dan Idul Fitri.

Meskipun zaman terus berubah, berbagai tradisi unik di Jawa Barat menjelang Ramadhan masih tetap dibudayakan. Menjaga tradisi ini berarti merawat keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama.

Halaman 2 dari 2

Video Melihat Tradisi Mengganti Pagar Situs Pangcalikan di Ciamis