Bandung Barat –
Langit mendung di kaki Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengiringi pemakaman sepuluh jenazah korban longsor Cisarua.
Sepuluh jenazah dari sebelas kantong jenazah itu dimakamkan dalam satu lubang di TPU Tanah Mati, Kampung Barunyatuh, sekitar dua kilometer dari Kantor Desa Pasirlangu. Seluruh jenazah dimasukkan ke dalam peti mati dengan tanda khusus di masing-masing peti.
Terdapat kertas bertuliskan PM atau Post Mortem* 69, menandakan peti mati itu berisi kantong jenazah ke-69 yang sudah berhasil diidentifikasi. Selain itu, terdapat sembilan peti lain dengan nomor yang berbeda. Namun, ada satu peti dengan dua nomor yang menandakan terdapat dua data *post mortem yang merujuk pada satu identitas.
Sebelum dikebumikan, jasad-jasad yang hampir sebulan berada di RS Sartika Asih itu disalatkan terlebih dahulu. Diimami Ketua MUI Desa Pasirlangu, sebagian warga pria yang datang ke TPU Tanah Mati ikut menyalatkan jenazah.
Barulah, peti-peti itu dimasukkan ke liang lahad berukuran panjang sekitar 7 meter dengan lebar diperkirakan 1,5 meter. Ada empat orang yang turun ke liang lahad dengan kedalaman kurang dari dua meter. Peti mati dimasukkan sesuai urutan agar tidak tertukar di kemudian hari. Setelah diurug, petugas memasang nisan bertuliskan Post Mortem sesuai nomor jasad.
Kasubbidkespol Biddokkes Polda Jawa Barat AKBP dr Ani Rasiani mengatakan, pemakaman sepuluh korban longsor yang belum teridentifikasi ini dilakukan atas dasar kemanusiaan.
“Jadi ini dilakukan atas dasar kemanusiaan, supaya jenazah ini segera dimakamkan. Karena sudah lumayan lama ada di RS Sartika Asih,” kata Ani Rasiani saat ditemui, Jumat (27/2/2026).
Ani menjelaskan, sepuluh jenazah ini berasal dari 12 kantong jenazah. Namun, ada dua kantong yang ternyata masih satu bagian dari identitas yang telah teridentifikasi. Dari sepuluh jenazah tersebut, tiga di antaranya dimakamkan dalam kondisi tubuh utuh.
“Untuk yang dimakamkan bermacam-macam, ada yang tubuh utuh itu ada tiga, sisanya bodyparts. Cuma itu tadi, kita makamkan karena dasar kemanusiaan,” katanya.
Ani menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan proses identifikasi tahap kedua dan tahap ketiga pada sepuluh jenazah yang sudah dimakamkan tersebut. Berdasarkan identifikasi tahap pertama, belum ditemukan kecocokan dengan DNA keluarga yang melaporkan kehilangan.
“Belum ada yang match (cocok), jadi dimakamkan dengan nisan PM (Post Mortem) agar memudahkan kalau nanti teridentifikasi. Sekarang identifikasi masih berjalan untuk tahap dua dan tahap tiga,” kata Ani.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) KBB Ade Zakir Hasyim menyaksikan langsung prosesi pemakaman sepuluh jenazah korban longsor yang belum teridentifikasi tersebut.
“Ya hari ini pemakaman korban longsor yang belum teridentifikasi. Jadi tadi pagi diawali dengan penyerahan sepuluh jenazah ke Pemda KBB di RS Sartika Asih, bersama dengan pak wakil bupati,” kata Ade Zakir.
Ade Zakir mengatakan, dengan dimakamkannya sepuluh jenazah tersebut, maka seluruh kantong jenazah yang sebelumnya ditemukan sudah tidak ada lagi yang menunggu proses identifikasi di rumah sakit. Berdasarkan data, pihaknya melaporkan ada 80 warga yang masuk ke dalam daftar orang hilang.
“Jadi kalau bodypack seluruhnya sudah, cuma memang yang sepuluh ini belum teridentifikasi atau belum ada yang cocok dengan identitas keluarga korban yang melaporkan kehilangan,” kata Ade Zakir.
Video Kesaksian Korban Longsor Cisarua: Kayak Keangkat Rumahnya“
