Sukabumi –
Menjelang waktu berbuka puasa, dua suster tampak sibuk menata cup-cup berisi es buah dan kolak di atas meja sederhana di pinggir jalan. Mengenakan jubah putih khas biara, mereka melayani pembeli yang datang silih berganti, sebagian besar pengendara motor yang berhenti sejenak untuk membeli takjil.
Salah satunya adalah Sr Maria Anastasia (24) dari Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi. Ia bercerita, kegiatan berjualan takjil saat Ramadan bukan hal baru bagi komunitasnya.
“Ide awalnya sih karena dari dulu sebelum kami ada di sini, mereka sudah mulai. Kami juga bekerja sama dengan karyawan kami yang muslim. Jadi kami berpartisipasi, bagaimana kami bisa ikut ambil bagian dalam momen Ramadan ini,” ujar Maria kepada di Jalan Rumah Sakit, Kota Sukabumi, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, sebelum mulai berjualan, mereka terlebih dahulu berdiskusi dengan karyawan yang beragama Islam mengenai menu yang biasa disajikan untuk berbuka puasa.
“Kami bertanya apa yang biasanya disajikan untuk buka puasa. Karyawan kami memberi ide seperti es buah, kolak, bubur sumsum, dan makanan ringan lainnya. Mereka ikut mendukung kami juga,” katanya.
Setiap hari, jumlah porsi yang dibuat tidak menentu. Namun, mereka membatasi produksi agar tetap sederhana.
“Sehari kami tidak menentu bikin berapa porsi. Biasanya tidak lebih dari 15 porsi, dan setiap harinya tidak lebih dari lima item makanan,” ungkapnya.
Maria menuturkan, kegiatan ini diupayakan hadir setiap Ramadan sebagai bentuk partisipasi dan kebersamaan. Meski begitu, jika ada kesibukan mendadak, mereka tidak selalu bisa berjualan.
“Kami usahakan setiap Ramadan sebagai bentuk partisipasi. Kalau ada kesibukan mendadak mungkin tidak berjualan. Tapi kalau masih ada waktu, kami meluangkan waktu,” ujarnya.
Respons Masyarakat Antusias
Kehadiran para suster yang menjajakan takjil di bulan Ramadan mendapat respons positif dari masyarakat. Maria mengaku, pembeli tetap datang tanpa memandang latar belakang mereka.
“Dilihat dari ketika kami berjualan, mereka antusias membeli. Tidak melihat karena kami suster, mereka tetap membeli. Mereka peduli, ramah ketika menyapa kami. Kami senang, jadi ada komunikasi,” tuturnya.
Salah satu pembeli, Obet (47), warga Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, mengaku tertarik membeli takjil saat melintas dan melihat para suster berjualan.
“Saya pas lewat lihat ada jualan es. Kita sama-sama walaupun beda agama tapi toleransinya. Kita positif, apalagi di bulan Ramadan,” kata Obet.
Ia menilai toleransi antarumat beragama di lingkungan tersebut cukup kuat. “Ya toleransi beragama lah kuat. Kita nggak usah suudzon takut begini, takut begitu. Nggak lah,” ujarnya.
Obet mengaku baru sekali membeli pada Ramadan tahun ini, namun di tahun-tahun sebelumnya juga pernah membeli takjil di tempat yang sama.
“Ini saya baru sekali beli kalau Ramadan ini, tapi Ramadan sebelumnya juga pernah. Harganya murah lagi, cuma Rp 5 ribu. Saya beli dua, untuk buka puasa di rumah,” katanya.
Pesan Toleransi di Bulan Puasa
Bagi Maria, berjualan takjil bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk dukungan dan solidaritas antarumat beragama.
“Kita sama-sama berpuasa, kita saling mendukung dalam masa puasa. Meskipun proses puasa kita berbeda, tapi kita saling mendukung. Semangat untuk berpuasa, ini salah satu bentuk toleransi beragama,” pungkasnya.
