Viral Kisah Pilu Bayi Zea di Karawang, Ini Faktanya

Posted on

Karwang

Jagat maya Karawang sempat diguncang potongan video mengharukan tentang bayi bernama Zea. Narasi yang beredar liar di media sosial, selama tiga hari terakhir, terungkap potret kemiskinan yang menyayat hati.

Namun, di balik layar gawai yang riuh, tersimpan realitas yang jauh lebih kompleks dari sekadar konten viral. Apa yang terjadi?

mengunjungi kediaman bayi Zea, di Dusun Krajan, RT 02 Keluraha Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang pada Selasa (10/2/2026) pagi, namun di rumahnya sudah tidak ada orang.

Rosid, Ketua RT setempat sekaligus tetangga terdekat keluarga Zea, menuturkan, Adit kini sedang mengurus administrasi kependudukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, sedangkan bayi nya, sedang dalam perawatan pihak bidan desa serta Dinas Sosial, sementara neneknya, serta keluarga lainnya tak ada di rumah karena sedang bekerja.

Rosid sendiri menjadi saksi yang melihat peristiwa ini dengan kacamata berbeda. Baginya, apa yang tersaji di layar ponsel tidak sepenuhnya mencerminkan fakta di lapangan, meski ia tak menampik keluarga kecil itu sedang didera prahara.

“Iya, untuk soal kasus viral itu, setahu saya terjadi hari Sabtu (7/2), tapi ceritanya juga tidak seperti itu. Yang menyuapi bayi itu juga bukan keluarganya, dia tetangganya, sama seperti saya, dan saya tahu persis apa yang terjadi,” kata Rosid saat ditemui di kediamannya, Dusun Krajan, Kelurahan Palumbonsari, Karawang Timur, Selasa (10/2/2026).

Akar persoalan ini bermula dari sosok Adit (23), ayah kandung Zea. Pemuda ini menjalani hidup di kerasnya jalanan. Tanpa pekerjaan tetap, Adit kerap menghabiskan waktu di sekitar lampu merah Pasar Johar, hingga beberapa kali harus berurusan dengan petugas Satpol PP.

“Ayah bayi itu namanya Adit, dia semacam anak punk, yang biasa di jalanan, beberapa kali dulu saya juga sempat mengurus dia karena terjaring razia Satpol PP di Pasar Johar,” jelasnya.

Hidup Adit adalah cermin dari siklus keluarga yang retak. Ia adalah putra dari pasangan Aneu dan Asep.

Perceraian orang tuanya saat ia masih duduk di kelas 2 SD menjadi titik awal pengembaraannya. Sempat dibawa sang ayah ke Bandung, Adit kembali ke Karawang saat beranjak dewasa dengan kondisi pendidikan yang terputus total.

“Jadi si Adit ini sempat dibawa bapaknya waktu masih kecil, kelas 2 SD waktu itu. Kemudian setelah remaja beranjak dewasa, Adit kembali ke sini, namun ibunya yang bernama Aneu sudah bersama suami baru di Cibarusah, Kabupaten Bekasi, sampai dengan sekarang,” tuturnya.

“Adit kemudian tinggal di rumah ini dengan neneknya. Saat itu kondisinya sudah tidak bersekolah. Ternyata semenjak di Bandung juga sudah tidak bersekolah,” papar Rosid.

Kini, di sebuah rumah sederhana, sang nenek yang juga telah menjanda harus memikul beban berat. Ia menghidupi lima cucu dan satu cicit, yakni Zea yang baru berusia tujuh bulan. Di tengah keterbatasan, sang nenek mengandalkan bantuan dari cucu-cucunya yang lain, sementara Adit tetap bertahan dengan penghasilan tak tentu dari mengamen dan menjadi juru parkir liar.

“Neneknya hidup bersama cucunya, dan termasuk buyutnya anak dari Adit, ketiga cucunya sudah bekerja dan mencari nafkah sendiri, sedangkan Adit sendiri bekerja mengamen, dan parkir serabutan karena tidak bersekolah sehingga tidak bisa bekerja formal,” ungkapnya.

Rosid, Ketua RT di sekitar tempat tinggal bayi Zea. (Foto: Irvan Maulana/)

Kisah asmara Adit pun tak kalah getir. Ia bertemu dengan ibu Zea di jalanan. Keduanya memutuskan menikah siri tanpa sepengetahuan keluarga besar. Namun, ikatan itu kandas saat bay Zea baru berusia tiga bulan. Sang ibu memilih pergi dan menikah lagi, meninggalkan Zea kecil dalam asuhan Adit.

“Kita awalnya nggak tahu si Adit sudah menikah, neneknya juga tidak tahu. Justru tahunya setelah bercerai dan memiliki anak, ibunya Zea yang menikah lagi dengan suaminya lantas memberikan hak asuh Zea kepada Adit yang saat itu (Zea) masih berusia 3 bulan,” ucap Rosid.

Upaya membantu Adit sebenarnya telah dilakukan jauh-jauh hari. Rosid berkali-kali membujuk Adit untuk mengurus administrasi kependudukan agar bisa mendapatkan bantuan sosial secara resmi. Namun, trauma atau mungkin kebiasaan hidup di jalanan membuat Adit sulit untuk diajak berkompromi dengan urusan birokrasi.

“Saat tahu Adit punya anak, saya sempat mengajak Adit untuk buat KTP, dan KK sendiri karena dia punya keluarga, kebutuhan administrasi penting untuk kita ajukan sebagai keluarga penerima bantuan dari pemerintah, kalau neneknya kan sudah tercatat sebagai penerima bantuan. Tapi Adit sampai sekarang susah untuk diminta membuat KTP dan KK,” ujar dia.

Nasib malang kembali menimpa Adit pada Januari 2026. Kakinya terlindas truk saat sedang bekerja di persimpangan lamaran. Dalam kondisi tanpa identitas, Rosid dan petugas PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) bahu-membahu membawanya ke rumah sakit hingga kini kondisinya berangsur pulih.

“Sebulan lalu kaki Adit terlindas truk saat parkir di persimpangan Lamaran, saat itu saya dengan PSM juga membawa Adit ke rumah sakit untuk ditangani meski tanpa identitas. Hingga saat ini Alhamdulilah kaki Adit membaik dan sudah bisa berjalan,” paparnya.

Bahkan, sebuah secercah harapan sempat dirancang. Pihak kelurahan bersedia menampung Adit sebagai tenaga kebersihan agar ia memiliki penghasilan tetap untuk menghidupi Zea.

“Jadi ada upaya kami sebenarnya setelah Adit itu terlindas kakinya, kami sudah ngobrol dengan pak Lurah untuk mempekerjakan Adit sebagai tukang bersih-bersih di kelurahan, karena dia tidak sekolah sehingga pekerjaan formal sulit,” ungkap Rosid.

Terkait video viral yang diunggah tetangga bernama Tiara, Rosid memberikan klarifikasi. Ia menegaskan kondisi kesehatan Zea tidak seburuk yang dinarasikan di media sosial. Bayi itu tidak sakit dan selama ini tetap mendapatkan pemantauan medis dari bidan desa meski terkendala masalah identitas.

“Yang upload itu tetangga juga di sini, namanya Tiara. Dia sering ngasuh bayi itu, mungkin kasihan, buyutnya juga kadang nggak di rumah, kuli nyuci atau bersih-bersih rumah di tetangga lain. Saya nggak sangka bisa jadi konten yang viral,” ujarnya.

“Nggak seperti yang diceritakan di video, Zea itu sejak usia 3 bulan awal ke sini, sampai sekarang masih dalam pengawasan bidan desa. Meskipun sebenarnya Zea tanpa identitas,” tambah Rosid.

Bagi Rosid, Adit adalah korban pertama dari rantai broken home yang tak terputus, dan kini Zea terancam menjadi korban berikutnya jika masalah ini hanya diselesaikan dengan bantuan instan akibat viral.

“Kesimpulan saya sebenarnya ini, Adit lah yang jadi korban broken home pertama, orang tuanya pisah sehingga Adit hidup tanpa kasih sayang orang tua. Dia juga mungkin susah diatur sehingga tidak bersekolah, dan anaknya Adit kemudian jadi korban Adit dan mantan istrinya,” katanya.

Kini, fokus utama lingkungan bukan lagi soal donasi yang datang sesaat, melainkan bagaimana menjamin masa depan Zea dan kemandirian Adit.

“Kita sebenarnya sudah upaya, mikirin pekerjaan si Adit, mungkin ke depannya juga mikirin bagaimana pendidikan anaknya Adit, bahkan upaya untuk mengajukan bantua rutilahu untuk Adit biar bisa hidup mandiri dengan anaknya, jauh sebelum video kemarin viral,” papar Rosid.

“Buat kita yang penting kelangsungan hidup kelurganya, bayi nya, pendidikannya, bukan mengambil azas manfaat sementara dari viral, mungkin karena viral bantuan banyak tapi untuk sesaat. Yang kita upayakan justru ke depannya keluarga Adit harus seperti apa,” pungkasnya.

Halaman 2 dari 3