Bandung –
Gaya berpakaian menjadi salah satu identitas yang membedakan satu generasi dengan generasi lainnya. Kehadiran media sosial membuat tren fesyen semakin mudah merebak. Berbagai gaya terbaru hingga tren klasik kini mewarnai cara berpakaian Generasi Z atau Gen Z. Sebagai generasi yang sedang berada di fase produktif, Gen Z kini menjadi kiblat fesyen populer, tidak terkecuali di Indonesia.
Gaya fesyen Gen Z sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya dan ekonomi. Dari segi ekonomi, sebagian Gen Z masih berjibaku mencari pekerjaan ideal. Alhasil, cara berpakaian yang mengandalkan barang bekas layak pakai (pre-loved) dengan sentuhan selera individual menjadi sangat populer. Tidak jarang, generasi yang menjadi motor bonus demografi ini membawa kembali tren nostalgia, mulai dari gaya retro hingga era awal 2000-an.
Berkembangnya dunia modern dan interaksi manusia lintas budaya memungkinkan munculnya inovasi dalam berpakaian. Berikut adalah tiga tren fesyen yang tengah populer di kalangan Gen Z:
Nostalgia Y2K (Fesyen Era 2000-an)
Tren Year 2000 (Y2K) semakin populer di abad ke-21 ini, terutama di kalangan Gen Z. Salah satu penyebab utamanya adalah konsumsi hiburan modern. Meski bukan faktor tunggal, populernya Korean Pop (K-Pop)-di mana para idol banyak mengadopsi pakaian bergaya 2000-an seperti crop top dan low-rise jeans menjadi cikal bakal banyaknya anak muda mengikuti gaya ini.
Tidak hanya pakaian, penggunaan kamera digital lama (digicam) yang diproduksi pada awal 2000-an kembali diminati. Tren digicam ini awalnya lebih condong ke perempuan, namun kini baik pria maupun wanita di kalangan Gen Z turut mempopulerkannya. Di Indonesia, digicam banyak dijual di toko barang klasik dengan harga relatif terjangkau dibanding kamera profesional. Di Bandung, perangkat ini dapat ditemukan di berbagai tempat, salah satunya di Hallway Space yang berlokasi di Pasar Kosambi.
Digicam diminati karena efek fotonya yang bernuansa nostalgik dengan corak warna kekuningan. Efek kabur (blurry) yang menjadi bawaan kamera lawas ini justru menjadi tren fotografi yang sangat estetis bagi Gen Z.
Streetwear Modern
Streetwear modern berkembang dari budaya skateboard dan hip-hop. Tren fesyen ini dipopulerkan oleh musisi-musisi genre hip-hop Amerika Serikat. Walaupun bukan tren baru, gaya berpakaian ini populer di hampir semua kalangan Gen Z. Karakteristik utama dari streetwear modern adalah penggunaan baju oversized atau hoodie yang dikombinasikan dengan cargo pants atau baggy jeans.
Selain itu, streetwear* modern memiliki keunikan tersendiri dengan penggunaan aksesori seperti topi bucket atau snapback. Perbedaan streetwear dulu dan sekarang terletak pada cara Gen Z mengombinasikan berbagai lapisan pakaian, atau yang dikenal dengan istilah layering. Melansir Vogue Arabia, layering berarti memodifikasi tren lama dengan selera individual. Gaya ini cenderung mudah diaplikasikan dan nyaman untuk mobilitas tinggi namun tetap terlihat keren.
Soft Girl (Coquette)
Gaya berpakaian yang satu ini lebih condong kepada wanita. Tren fesyen ini memiliki karakter lembut dengan penggunaan warna-warna pastel yang memberikan kesan feminin. Tren soft girl menyimbolkan kepribadian yang anggun. Warna-warna seperti baby blue, blush pink, dan lavender sangat dominan di kalangan Gen Z yang mengadopsi gaya ini.
Soft girl lebih menonjolkan gaya berpakaian yang cerah dan manis, sehingga penggunaan motif bunga sering menjadi alternatif utama. Salah satu ikon dari gaya ini ditandai dengan penggunaan rok mini atau flowy skirt yang menunjukkan nuansa menawan.
Itulah tiga tren fesyen mayoritas yang digunakan Gen Z dalam keseharian mereka. Walaupun masih banyak gaya berpakaian lainnya, ketiga tren tersebut terbukti paling diminati dan populer di kalangan anak muda saat ini.
