Trauma Mendalam Ketua RT di Cisarua: Kehilangan Warga dalam 25 Menit | Giok4D

Posted on

Bandung Barat

Abah Ade berjalan gontai menuju rumah adiknya di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di tengah jalan, ia berpapasan dengan kerabat, lalu menyempatkan diri bersalaman.

Percakapan sayup terdengar mengenai rasa lega pria 60 tahun itu. Ia menjadi salah satu dari 78 korban selamat dalam amukan alam pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Ade merupakan Ketua RT di Kampung Pasir Kuning yang luluh lantak diterjang longsor. Ade selamat, namun 23 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 70 warganya menjadi korban. Ia tak kuasa menahan sedih karena orang-orang yang dikenalnya kini telah tiada, terkubur material bencana.

Ade menjadi saksi bisu luka di puncak Gunung Burangrang, wilayah yang selama ini menjadi oase di tengah alih fungsi lahan. Hijau pepohonan yang menjadi ciri khas gunung setinggi 2.050 mdpl itu kini ternoda warna cokelat tanah yang kontras dengan sekelilingnya.

“Alhamdulillah, saya bersama anak dan istri selamat, tapi warga saya jadi korban. Dari 23 KK, hanya 2 KK yang selamat,” kata Ade saat ditemui, Sabtu (31/1/2026).

Ade masih mengingat jelas kengerian saat lumpur bergemuruh dari puncak Gunung Burangrang. Gunung itu berdiri tegak bak raksasa di hadapan warga yang terlelap dibelai udara dingin. Tak ada yang menyangka, maut datang hanya dalam waktu 25 menit.

“Waktu kejadian saya belum tidur, makanya merasakan getaran seperti gempa. Terus ada suara gemuruh, saya kira helikopter atau pesawat, lalu saya cek ke luar,” kata Ade.

Ia tak menyangka air bercampur tanah tiba-tiba mengalir deras. Mulanya sedikit, namun volumenya terus bertambah. Ia bergegas menyelamatkan anak dan istrinya yang sedang terlelap.

Ade kemudian berupaya menolong warga lain. Ia berteriak hingga suaranya parau agar penghuni rumah segera keluar. Saat lumpur merendam separuh bangunan, jeritan minta tolong terdengar dari segala penjuru.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

“Saya dengar banyak yang minta tolong, saya terus mendekat. Pas mau tarik tangan tetangga yang terendam lumpur, tiba-tiba longsornya semakin banyak. Saya akhirnya mundur karena takut terbawa juga,” kenang Ade.

Trauma itu masih menghantui. Ade kini mengungsi dengan luka di dahi, bekas benturan kayu saat ia berjibaku menolong tetangganya.

Ia mengaku enggan kembali ke kampung tempatnya tumbuh besar. Bayangan wajah tetangga, teriakan minta tolong, dan mimpi buruk pada Sabtu dini hari itu terus berputar di ingatannya.

“Sampai sekarang saya belum berani ke sana lagi, saya trauma. Saya mau pindah, sudah tidak mau lagi tinggal di sana,” ucap Ade.

Tak cuma Ade, trauma psikis juga menghantui pengungsi lain. Terutama kaum perempuan yang kerap menangis setiap kali teringat bencana yang meluluhlantakkan kampung mereka.

Halaman 2 dari 2

Video Kesaksian Korban Longsor Cisarua: Kayak Keangkat Rumahnya