Ciamis –
Sepuluh hari menjelang Ramadan, warga di beberapa desa menggelar tradisi mapag Ramadan yang berlangsung hampir setiap hari. Warga berziarah, berdoa bersama dan diakhiri dengan ramah tamah atau makan-makan. Tradisi budaya menjelang bulan Ramadan tersebut memiliki keunikan tersendiri.
Seperti Minggu (15/2/2026), warga Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, berkumpul sejak pagi. Mereka berjalan kaki mendaki bukit menuju Situs Buyut Mangun Tapa. Sebelum memasuki area makam, warga melepas alas kaki dilepas dan mengucapkan salam.
Di tempat yang dianggap sakral itu, warga mengikuti tawasul dan doa bersama. Nama Ki Buyut Mangun Tapa diyakini sebagai pendiri Desa Baregbeg. Pada masa kerajaan, ia dipercaya menjadi penasihat raja dan juga dikenal sebagai penyebar Islam di wilayah tersebut. Tradisi Nadran menjadi cara warga menjaga ingatan atas jasa leluhur.
Usai doa bersama, rombongan turun dari bukit menuju lokasi acara seremoni. Suasana berubah lebih hangat, warga membagikan tujuh nasi liwet dengan warna berbeda. Merah, kuning, hijau, biru, putih, hitam, dan ungu tersaji dalam 7 kastrol besar.
Tujuh warna itu bukan tanpa makna, namun melambangkan harmoni dalam keberagaman. Menggambarkan berbagai rasa kehidupan. Ada senang dan sedih, ada cukup dan kekurangan, semua berpadu dalam satu hamparan nasi liwet.
Dalam Tradisi Nadran juga diisi dengan menyatukan air dari beberapa lodong ke dalam satu gentong. Air menjadi simbol kehidupan. Manusia tak bisa hidup tanpa air.
Nasi liwet tujuh warna tersebut kemudian disantap bersama. Satu kastrol bisa dinikmati masyarakat yang hadir. Baik pejabat, kepala desa hingga masyarakat berbaur bersama menikmatinya.
Pegiat Budaya Baregbeg Hendra Sudrajat mengatakan, Tradisi Nadran melibatkan banyak unsur masyarakat. Bukan hanya warga desa, tetapi juga pelajar dari tingkat SD hingga mahasiswa. Menurutnya, salah satu hal yang paling ditunggu adalah arak-arakan dongdang turiang.
Setiap dusun membawa hasil bumi terbaik. Hasil panen itu kemudian dikumpulkan dan saling tukar menukar antardusun. Hal ini sebagai simbol saling menguatkan sektor pertanian dan berbagi rezeki.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Dalam rangkaian tradisi juga ada lodong tujuh. Air di dalamnya diyakini memiliki makna filosofis. Tradisi ini lebih dari sekadar membersihkan makam, Nadran di Buyut Mangun Tapa menyimpan pesan sosial dan spiritual. Menjadi ruang mempererat silaturahmi. Menjaga warisan budaya. Sekaligus menata hati sebelum memasuki bulan puasa,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Disbudpora Ciamis Dian Budiyana menilai tradisi ini terus berjalan baik berkat kolaborasi masyarakat dan pemerintah desa.
“Ini momentum untuk mengenang dan mendoakan para tokoh penyebar Islam di Tatar Galuh,” ujarnya.
Menurut Dian, situs tersebut kini tak hanya dikenal warga setempat. Peziarah dari luar daerah pun mulai berdatangan. Ia berharap pengelolaan situs terus ditingkatkan, termasuk penambahan penanda agar memudahkan pengunjung.
“Kita ingin situs ini terpelihara lebih baik, nilai sejarah dan budayanya tetap terjaga,” katanya.
