‘The Sound of Silence’, Ketika Sunyi Teman Tuli Disuarakan Lewat Seni

Posted on

Sukabumi

Sebuah wajah berwarna mencolok dengan mata terpejam tergambar di atas kanvas besar. Di sekelilingnya, goresan cat dan simbol-simbol visual seakan memantulkan kebisingan yang tak terdengar. Di bagian atas lukisan itu tertulis jelas: The Sound of Silence.

Karya tersebut menjadi tajuk dalam pameran tunggal pelukis Edwin Do yang digelar lewat kolaborasi bersama mahasiswa Fakultas Teknik Komputer dan Desain Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Nusa Putra, kafe Naera, serta 12 mahasiswa tuli dari kampus Nusa Putra.

Bagi Edwin, pameran ini bukan sekadar ajang memamerkan karya, melainkan ruang untuk menyuarakan sunyi yang selama ini dirasakan teman-teman tuli di lingkungan kampus.

“Awalnya saya memang merencanakan ini sudah lama. Saya mempersiapkan karyanya untuk pameran tunggal ini,” kata Edwin, Kamis (12/2/2026).

Ia mengaku memiliki motivasi lebih dari sekadar estetika. Edwin ingin karyanya bisa dinikmati banyak orang sekaligus menjadi pemantik kesadaran, terutama bagi anak muda.

“Motivasinya saya pengen dari kolaborasi ini supaya karya saya bisa orang-orang nikmati, bisa rasakan dan bisa jadi pemicu buat anak-anak muda yang lain,” ujarnya.

Merespons Sunyi di Ruang Kelas

Tema The Sound of Silence lahir dari cerita yang ia dengar langsung dari mahasiswa tuli. Edwin menyoroti persoalan fasilitas juru bahasa isyarat (JBI) yang hingga kini belum mereka dapatkan secara memadai.

“Saya memang ingin melibatkan teman-teman tuli karena ada isu yang ingin saya angkat dengan teman-teman. Setelah saya dengar, memang teman-teman di DKV Nusa Putra itu tidak mendapatkan fasilitas juru bahasa isyarat. Sehingga selama kuliah mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi dan menyerap materi perkuliahan,” tuturnya.

Bahkan ada mahasiswa yang sudah menempuh hingga tujuh semester tanpa pendampingan JBI. Padahal, total mahasiswa tuli aktif di DKV Nusa Putra tercatat sebanyak 18 orang.

Lewat pameran ini, ia ingin masyarakat merasakan apa yang selama ini dirasakan teman-teman tuli yaitu keheningan di tengah aktivitas yang seharusnya penuh interaksi.

Judulnya The Sound of Silence. Jadi mereka selalu merasakan keheningan di dalam satu peristiwa yang terjadi, salah satunya kegiatan belajar di dalam kampus,” katanya.

Ia menceritakan, selepas perkuliahan, mahasiswa tuli kerap berusaha mengejar ketertinggalan dengan bertanya kepada teman sekelas. Namun informasi yang didapat tetap terbatas.

Advokasi Lewat Cara Kreatif

Salah satu mahasiswa DKV, Feri Hidayat (21), menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menyebut pameran ini berawal dari obrolan santai yang berkembang menjadi ruang advokasi.

Ia menjelaskan, ide pameran muncul dari diskusi di ruang kopi. Dari obrolan itu, mereka sepakat mengangkat isu yang selama ini dirasakan bersama.

“Teman tuli kami belum mendapatkan fasilitas dari kampus, dengan title kampus inklusif tapi belum menyediakan fasilitas yang ada, membutuhkan JBI karena mereka sangat kesulitan. Mungkin kami bisa membantu tapi kami juga terbatas dalam memahami bahasa isyarat,” ujar Feri.

Menurut Feri, secara sosial mahasiswa tuli diterima dengan baik dan tidak dibeda-bedakan. Namun ketiadaan JBI menjadi kendala serius dalam memahami materi perkuliahan.

“Mereka sebetulnya sangat senang diterima dengan baik di sosial kampus, tidak dibeda-bedakan. Namun kekurangan fasilitas JBI itu jadi kendala,” katanya.

Upaya advokasi sebenarnya sudah pernah dilakukan, terutama melalui BEM. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut konkret.

“Yang pasti kami pernah mengadvokasi ke pihak BEM, tapi belum ada tindak lanjut. Entah audiensi ke pihak kampus, kita lakukan dengan cara yang kreatif ini semoga bisa sampai ke pihak kampus,” ujar Feri.

Melalui sapuan warna dan simbol di atas kanvas, The Sound of Silence tak hanya menjadi karya seni. Ia menjelma menjadi pesan bahwa di balik label inklusif, masih ada sunyi yang perlu didengar.