Tak Pernah Absen Salat ke Musala Walau Dunia Siti Gelap Gulita

Posted on

Indramayu

Pagi di Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, biasanya datang dengan cahaya matahari yang perlahan menyinari rumah-rumah warga. Namun bagi Siti, pagi tidak pernah benar-benar berbeda dengan malam.

Perempuan lansia itu tidak pernah melihat dunia dengan utuh karena hanya sedikit cahaya yang tertangkap di matanya. Ia menderita tunanetra sejak lahir.

Kini, di usianya yang diperkirakan lebih dari 60 tahun, Siti menjalani hidup seorang diri di sebuah bangunan kecil berukuran sekitar tiga kali tiga meter. Bangunan sederhana itu diberikan oleh saudaranya sebagai tempat tinggal. Di dalamnya hanya ada ruang yang cukup untuk sebuah tempat tidur sekaligus dapur sederhana.

Di ruangan itulah Siti menjalani seluruh kehidupannya dalam gelap; meraba sekitar dengan tangannya yang kini sudah mulai mengerut.

Setiap hari, setelah bangun tidur, ia berjalan menuju sumur yang tidak jauh dari rumahnya untuk membersihkan tubuh dan mengambil air minum.

Dengan langkah perlahan dan ingatan yang telah terlatih selama bertahun-tahun, ia meraba jalan yang sudah begitu dikenalnya. Meski tak dapat melihat, Siti tetap berusaha menjalani hidupnya dengan mandiri.

Dulu, ketika daun kelapa masih mudah ditemukan, ia sempat bekerja membuat sapu lidi. Tangan-tangannya yang terlatih menganyam lidi menjadi alat kebersihan sederhana, yang kemudian dijual untuk menyambung hidup.

Namun waktu berubah. Daun kelapa kering kini semakin sulit didapatkan. Pekerjaan yang dulu bisa memberinya sedikit penghasilan pun perlahan hilang. Sejak saat itu, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di rumah kecilnya.

Berdasarkan informasi yang didapat dari tetangganya. Siti sepertinya tidak kasmaran, dan seumur hidupnya tidak menikah, pokoknya tidak menjalani fase-fase kehidupan seperti orang pada umumnya. Kehidupan Siti sangat datar dari kecil hingga lansia. Para tetangga menjadi orang-orang yang paling sering membantu Siti selama ini.

Idah Qoidah (45), salah satu tetangga Siti, mengatakan perempuan lansia itu dikenal sebagai sosok yang baik dan rajin beribadah.

“Ibu Siti itu punya keterbatasan di penglihatannya. Tapi orangnya baik, rajin belajar dan rajin ibadah,” ujar Idah saat ditemui pada Jumat (13/3/2026).

Menurut Idah, selama ini Siti belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal dengan kondisi yang ia alami, bantuan tersebut tentu sangat berarti bagi kehidupannya.

Untuk makan sehari-hari, Siti kerap dibantu oleh keluarga Idah. Bukan karena hubungan darah, melainkan karena kepedulian.

“Kalau bukan adik saya yang memberi sarapan, biasanya ibu saya yang membantu untuk kebutuhan sehari-harinya,” kata Idah.

Ibunda Idah, Halimah, hampir setiap hari mengirimkan makanan untuk Siti. Jika dipan tempat tidur atau dinding bilik rumahnya rusak, keluarga mereka juga yang membantu memperbaikinya.

Hubungan yang terjalin bukan sekadar hubungan tetangga. Lebih dari itu, ada rasa kemanusiaan yang membuat mereka tidak tega membiarkan Siti menjalani semuanya sendirian.

Meski hidup dengan banyak keterbatasan, Siti masih berusaha melakukan beberapa hal sendiri. Ia masih bisa memasak menggunakan kayu bakar, meskipun tidak setiap hari.

Ketika ditanya sejak kapan ia tidak bisa melihat, jawabannya sederhana. “Sejak kecil,” katanya pelan.

Tidak banyak yang ia keluhkan. Bahkan ketika ditanya soal makanan, jawabannya pun singkat. “Makan apa saja yang ada.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana hidupnya berjalan dengan baik-baik saja selama ini: menerima apa pun yang tersedia, tanpa banyak pilihan.

Namun ada satu kebiasaan yang tetap ia jaga. Ketika waktu salat tiba, Siti berjalan menuju musala yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam langkah perlahan dan hati yang teguh, ia tetap menjalankan ibadahnya.

Di rumahnya yang sederhana berukuran 3×3 meter, Siti tidak pernah melihat dunia namun ia tetap menjalani hidupnya dengan kesabaran.

Gelap mungkin telah menjadi bagian dari hidupnya sejak lahir. Tetapi keteguhan hati Siti menunjukkan bahwa manusia tetap bisa bertahan, bahkan ketika dunia yang ia jalani tak pernah terlihat oleh matanya.