Sosok Bocah 12 Tahun di Sukabumi yang Tewas Penuh Luka Bakar-Lebam

Posted on

Jakarta

Suasana duka masih menyelimuti keluarga NS (12), bocah asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, yang meninggal dunia pada Kamis (19/2). Di mata para pengasuh dan teman-temannya di pondok pesantren, NS dikenal sebagai anak yang pendiam dan tak pernah membuat masalah.

Sebagai santri kelas 1 SMP, ia menyimpan cita-cita sederhana namun mulia: ingin menjadi seorang kiai.

Isep Dadang Sukmana (62), pembina pondok pesantren tempat NS menimba ilmu, masih mengingat jelas sosok bocah tersebut. Menurutnya, NS justru dimasukkan ke pesantren untuk menghindari konflik keluarga yang kerap terjadi di rumah.

“Ya itu baik-baik saja, baik-baik saja. Kan itu di pesantren. Bahkan saya yang memasukkan ke pesantrennya juga,” ujar Isep, Sabtu (21/2/2026).

Ia mengaku sempat mendengar adanya cekcok di keluarga yang mempermasalahkan keberadaan NS. Karena itu, ia menyarankan agar anak tersebut tinggal di pesantren agar suasana lebih kondusif.

“Daripada ribut terus, lebih baik di pesantren, biar aman dan kita netral,” tuturnya.

Sempat Pulang Jelang Ramadan

Menjelang Ramadan, NS sempat pulang ke rumah. Namun ketika para santri lain kembali masuk pesantren, namanya tak kunjung tercatat hadir. Seorang ustaz pun mempertanyakan keberadaannya.

“Pak, kenapa anak-anak sudah pada masuk kok ini anak Pak Anwar belum masuk?” begitu pesan yang diterima Isep.

Tak lama berselang, ayah NS mengirimkan sebuah video. Dalam rekaman itu, tampak kondisi tubuh NS penuh luka. Isep mengaku terkejut melihatnya.

“Ngirim video yang luka-luka. Duh, saya tidak tahu. Makanya saya langsung telepon bapaknya. Dia nangis, saya langsung datang ke rumah sakit,” katanya.

Di rumah sakit, Isep sempat berbincang dengan NS yang saat itu masih dalam keadaan sadar. Ia menyebut, bocah tersebut tampak lebih terbuka ketika diajak berbicara olehnya.

“Kalau ditanya sama bapaknya mungkin takut ya, tidak jawab. Tapi kalau sama saya dan istri saya, dia terbuka karena sudah dekat,” ujar Isep.

Ia bahkan masih mengingat percakapan singkat terakhir mereka. “Masih ingat? Ingat. Siapa? Pak Isep,” tuturnya menirukan ucapan NS.

“Alhamdulillah sebelum meninggal dunia itu dia sempat sadar,” kata Isep menambahkan.

NS dirawat sejak pukul 08.00 WIB dan mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.00 WIB, bertepatan dengan hari pertama Ramadan. “Masuk jam 8, meninggalnya kurang lebih jam 4 sore,” jelas Isep.

Disebut Sempat Sehat

Terkait dugaan penganiayaan yang mencuat, Isep menyebut kondisi NS sebelumnya dalam keadaan sehat. Bahkan seminggu sebelum kejadian, anak-anak di pesantren masih sempat diajak beraktivitas bersama.

“Seminggu sebelum itu anak-anak dibawa jalan-jalan, sehat-sehat. Dari pesantren juga pas pulang tidak ada apa-apa,” ujarnya.

Ibu kandung NS disebut masih ada, meski telah berpisah dengan ayahnya. Di sisi lain, ayah korban, Anwar Satibi (38), tak kuasa menahan duka saat mengenang putranya. Ia mengatakan keinginan menjadi kiai datang dari diri NS sendiri.

“Memang dia cita-citanya ingin jadi kiai. Itu yang membuat saya sakit,” kata Anwar.

Sebelum berangkat bekerja ke Kota Sukabumi, ia sempat mengantar dan memberi bekal sederhana untuk anaknya.

“Saya kasih uang Rp 50 ribu, dia simpan di ubun-ubunnya. “Alhamdulillah kanggo bekel di pesantren,” kenangnya lirih.

Kini, Anwar berharap kasus yang menimpa putranya dapat diusut tuntas apabila dugaan penganiayaan itu terbukti. “Harapan saya kalau ini terbukti, ya proses hukum,” tegasnya.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan masih dalam penanganan.

Sekadar diketahui, Satreskrim Polres Sukabumi tengah mendalami kasus kematian tragis seorang bocah laki-laki asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi. Korban meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi luka lebam di beberapa bagian.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa tim medis tengah melakukan autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.

“Pagi ini mau otopsi untuk dugaan terhadap narasi (KDRT) tersebut. Kami masih menunggu hasil otopsi,” jelas Hartono, Jumat (20/2/2026) pagi.