Hobi anak muda kerap melahirkan karya inovatif, bahkan berujung pada prestasi membanggakan. Sayangnya, minat dan bakat tersebut tidak selalu diiringi dengan ketersediaan ruang yang memadai untuk berkembang.
Skateboard, misalnya, telah lama lekat dengan budaya populer kalangan muda dan menjadi tren di berbagai kota besar, termasuk Bandung. Di balik papan dan roda, hobi ini menyimpan banyak cerita menarik dari para pelakunya.
Salah satu ruang yang kerap menjadi rujukan para pecinta skateboard adalah Taman Skateboard yang berada di bawah Jalan Layang Pasupati, Kota Bandung. Tempat ini hampir tak pernah sepi. Sejak pagi hingga malam hari, taman tersebut dipadati pemuda dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga mahasiswa, yang datang untuk berlatih atau sekadar bermain santai.
Bagi pemula, Taman Skateboard di bawah flyover Pasupati terbilang ramah. Arena yang tersedia relatif mudah dan tidak terlalu ekstrem, sehingga cocok untuk mereka yang baru mulai menekuni skateboard. Lokasinya pun strategis karena berdekatan dengan Taman Film, yang kerap menjadi tujuan rekreasi keluarga.
Area taman ini tergolong bersih dan tertata sederhana. Meski fasilitas yang tersedia tidak banyak, keberadaannya cukup untuk mengakomodasi kebutuhan para pemain skateboard.
Salah satu keunggulannya adalah lampu sorot yang berfungsi dengan baik. Hal ini menjadi nilai tambah, mengingat banyak ruang publik lain di Bandung yang memiliki keterbatasan waktu penggunaan akibat minimnya pencahayaan, seperti Lapangan Basket Saparua yang hanya dapat digunakan hingga pukul 18.00 WIB.
Letaknya yang berada di bawah flyover Pasupati membuat area skateboard ini terasa sejuk dan terlindung dari terik matahari maupun hujan. Selain itu, taman ini juga dekat dengan kawasan jajanan, sehingga akses untuk membeli makanan dan minuman terbilang mudah.
Kenyamanan tersebut diakui oleh para pemain skateboard, salah satunya Nata Praja, mahasiswa Universitas Pasundan.
Ia mengaku tidak terlalu sering bermain di taman tersebut, tetapi kerap menyempatkan waktu, baik sendiri maupun bersama teman-temannya.
“Saya dari SMP (bermain skateboard) tetapi sempat berhenti. Di sini tidak sering sih, kalau misalkan lagi pengin ke sini, saya biasanya main di Lembang. Kadang kalau ke sini bareng teman dan kadang sendiri,” ujar Nata saat berbincang dengan infoJabar belum lama ini.
Nata telah menekuni skateboard sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, hobinya sempat terhenti sebelum kembali ia geluti saat memasuki masa perkuliahan. Kini, sebagai mahasiswa semester tiga di Unpas, ia mengaku belum mengetahui banyak arena skateboard di Bandung. Karena itu, ia lebih sering bermain di area yang dekat dengan rumahnya di Lembang. Meski demikian, Taman Skateboard di bawah Flyover Pasupati tetap menjadi salah satu spot favoritnya.
Sebagai pemuda yang aktif dalam dunia skateboard, Nata berharap pemerintah setempat dapat lebih merangkul komunitas skateboard. Dukungan tersebut dinilai penting agar para pegiat hobi ini merasa diperhatikan dan memiliki ruang yang layak untuk berekspresi.
“Harapan saya, sih lebih dilihat lagi oleh pemerintah supaya yang main juga merasa didukung,” katanya.
Taman Skateboard di bawah Flyover Pasupati memiliki daya tarik tersendiri sebagai ruang publik alternatif bagi anak muda. Ke depan, area ini dinilai masih memiliki potensi untuk dikembangkan, baik melalui perluasan taman maupun pembangunan ruang skateboard lain yang dapat diakses secara umum oleh siapa saja yang ingin bermain dan berlatih.
