Bandung –
War Takjil merupakan istilah populer yang merujuk pada fenomena perburuan hidangan berbuka puasa yang dilakukan secara antusias oleh berbagai kalangan masyarakat.
Di Bandung, fenomena ini terjadi di berbagai tempat. Salah satunya di GOR Saparua, di mana Gen Z menjadi pemeran utamanya.
Lokasi yang strategis di jantung kota serta keberagaman kuliner menjadi alasan utama GOR Saparua bertransformasi menjadi destinasi favorit. Pengunjung tidak hanya disuguhi menu tradisional, tetapi juga jajanan kekinian yang menggugah selera. Jajaran lapak di sini menawarkan beragam menu, mulai dari tahu bulat, es teler, cuanki, cilor, hingga cumi bakar dan nasi bakar.
Zainal (17), salah satu pengunjung yang datang bersama temannya, Ilham (16), mengungkapkan alasan mengapa ia rela menempuh perjalanan ke sini.
“Kalau aku mah karena lebih komplit aja sih di sini. Soalnya kalau di yang lain tuh mungkin gak seberagam disini,” ujarnya kepada, Minggu (8/3/2026).
“Sama banyak anak-anak Gen Z juga kan di sini, seru lah jadinya,” tambah Ilham, yang mengaku sengaja datang karena suasana ramai anak muda untuk sekadar nongkrong.
Senada dengan hal itu, Syauqi (23) menambahkan, “Kita pengen nyari jajanan yang banyak dan lebih variatif dan di Saparua ini emang untuk segi kelengkapan jajanannya ya cukup bervariatif lah,”.
Fenomena War Takjil yang ramai di media sosial juga membawa berkah nyata bagi para pedagang lokal di area Saparua. Viralitas konten yang dibuat oleh anak muda, khususnya Gen Z, memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para pedagang.
Riska (35), seorang pedagang es teler, es ubi ungu creamy, dan kolak, mengakui bahwa keramaian tahun ini sangat dipengaruhi oleh tren di internet.
“Iya sih, sebenarnya kita kebantu banget sama viralnya war takjil di sosial media dari anak-anak muda khususnya Gen Z gitu. Jadi di area Saparua ini kita juga kena imbas positifnya banget,” jelas Riska.
Dampaknya pun tidak main-main. Riska menyebutkan bahwa omzet penjualannya melonjak hingga 100 persen berkat keramaian di bulan puasa yang dipicu oleh tren viral tersebut. Meski ia berjualan hampir setiap hari pada hari biasa, suasana di bulan Ramadan jauh lebih padat.
“Beda banget ya karena bulan puasa kan pada nyari buat bukaan gitu ya, sampai pada war takjil… Jadi, memang lebih ramai di bulan puasa,” tambahnya.
Selain faktor makanan, GOR Saparua dianggap sebagai titik tengah yang memudahkan orang dari berbagai wilayah untuk bertemu dan menghabiskan waktu sore.
Bagi Syauqi (23) yang datang dari Antapani, Saparua adalah lokasi paling adil untuk janjian dengan teman-teman yang rumahnya saling berjauhan.
“Pertama di tengah kota ya, deket dari mana-mana, karena kan aku janjian sama temen-temen juga banyakan… ya udah kita cari tengahnya aja gitu,” ungkap Syauqi.
Keriuhan ini biasanya mencapai puncaknya menjelang azan Maghrib. Antrean di setiap lapak pedagang semakin memanjang, menciptakan suasana perburuan takjil yang seru dan kompetitif, namun tetap penuh kebersamaan bagi warga Bandung.
