Sepi, Krisis, dan Tragedi: Suram Tahun Baru di Cirebon Zaman Kolonial (via Giok4D)

Posted on

Malam pergantian tahun kerap menjadi momen istimewa yang dirayakan dengan beragam cara. Pada masa Hindia Belanda, perayaan tahun baru umumnya berlangsung di kota-kota besar seperti Batavia.

Mengutip surat kabar Batavia Nieuwsblad edisi 2 Januari 1903, malam tahun baru di Batavia diisi dengan pesta kembang api, sementara umat Kristiani menghadiri kebaktian untuk berdoa, bertobat, dan menaruh harapan pada tahun yang lebih baik.

Berbeda dengan Batavia, suasana tahun baru di Cirebon berlangsung lebih sederhana. Surat kabar Batavia Nieuwsblad edisi 11 Januari 1915 mencatat bahwa warga Cirebon merayakan pergantian tahun hanya dengan bertukar kartu ucapan selamat tahun baru.

Tradisi tersebut tidak hanya dilakukan antarsesama orang Eropa. Penduduk pribumi turut mengirim kartu ucapan, bahkan antarsesama pribumi. Pada saat yang sama, masyarakat Tionghoa banyak berkunjung ke rumah orang Eropa. Aktivitas ini membuat sejumlah pekerjaan harian ditinggalkan sementara.

“Di sini Hari Tahun Baru telah menarik perhatian penduduk setempat, karena mereka juga merayakan perubahan tahun secara resmi. Orang Cina mengunjungi orang Eropa dengan sering, banyak pekerjaan yang ditinggalkan, dan hujan kartu ucapan dari penduduk pribumi. Saya melihat kartu ucapan dari penduduk pribumi untuk sesama penduduk pribumi, bahkan dari orang Eropa untuk penduduk pribumi. Dengan ini, saya ingin mengatakan bahwa tampaknya ada semacam perayaan bersama,” tulis surat kabar Batavia Nieuwsblad edisi 11 Januari 1915.

Namun, pada periode lainnya perayaan malam tahun baru di Cirebon berlangsung suram dan sepi. Laporan koresponden Cirebon dalam surat kabar de Locomotif edisi 11 Januari 1934 menggambarkan kondisi ekonomi yang memburuk dan minimnya aktivitas warga pa.

Pada masa itu, banyak warga pribumi di desa-desa Cirebon hidup tanpa uang atau dengan penghasilan yang sangat terbatas. Kondisi ini membuat mereka tidak berbelanja saat tahun baru tiba. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, penduduk desa biasanya datang ke kota untuk membeli berbagai kebutuhan.

Situasi pada 1934 justru berbanding terbalik. Jalanan kota tampak lengang, toko-toko tutup, bahkan sebagian bangunan dipasangi papan “disewakan” karena bangkrut.

“Di kalangan orang yang lewat, kini tidak ada lagi yang memperhatikan hiruk pikuk Tahun Baru yang biasa terjadi. Tidak ada wajah bahagia atas pembelian yang dilakukan, dan tidak ada kerumunan orang yang menyenangkan di jalan, jalanan seolah sepi. Para pedagang Tiongkok hanya melakukan sedikit upaya tahun ini, sementara sejumlah besar pintu toko juga telah ditutup, yang di atasnya kini muncul tanda ‘disewakan’,” tulis surat kabar de Locomotif edisi 11 Januari 1934.

Toko-toko yang masih beroperasi umumnya milik pedagang Jepang. Meski melakukan promosi, omzet penjualan tetap rendah. Banyak toko memilih mematikan lampu listrik pada malam hari karena sepi pembeli. Di desa-desa, suasana tahun baru terasa semakin muram.

“Di desa-desa, pada malam hari setelah masa Prapaskah, orang-orang terlihat berjongkok bersama di bawah cahaya redup sumbu minyak yang berasap, sementara tampaknya tidak ada pemikiran mengenai penyalaan kembang api secara tradisional. Keadaan pada saat itu juga memberikan kesan yang suram pada tahun baru,” tulis surat kabar de Locomotif edisi 11 Januari 1934.

Sepinya perayaan tahun baru 1934 juga dipengaruhi oleh waktu yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Pada tahun itu, Idulfitri jatuh pada 17 Januari, masih dalam bulan yang sama dengan pergantian tahun Masehi. Kondisi ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat nonpribumi. Mereka kerap menganggap Idulfitri sebagai tahun baru umat Islam, meskipun dalam kalender Hijriah, tahun baru jatuh pada 1 Muharam.

“Karena jarak waktu yang dekat antara perayaan ‘Puasa Lebaran’ dengan perayaan Tahun Baru Eropa, maka akhir bulan puasa disebut ‘Tahun Baru Pribumi’ oleh masyarakat non-pribumi. Namun, Muharam pertama, awal tahun baru umat Islam, tidak pernah dirayakan. Pada kesempatan ‘Puasa Lebaran’, umat Islam biasanya menerima banyak ucapan Selamat Tahun Baru dari kenalan dan teman mereka di Eropa atau Cina, yang tentu saja salah,” tulis surat kabar Soerabajasch Handelsblad edisi 17 Januari 1934.

Dua tahun sebelumnya, pada 1932, pergantian tahun di Cirebon berlangsung relatif lancar. Laporan kepolisian Cirebon dalam Batavia Nieuwsblad edisi 12 Februari 1932 menyebutkan hanya terjadi gangguan kecil, seperti kebisingan akibat petasan anak-anak, pelemparan botol dan kayu, serta kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan seorang perempuan harus dirawat di rumah sakit.

Pada tahun yang sama, seorang pria Cirebon mengalami kecelakaan saat hendak merayakan tahun baru di luar kota. Ia terjatuh dari balkon kereta api ketika tertidur dan kehilangan tas berisi paket tahun baru.

“Agar bisa tetap bersemangat saat liburan, ia memanfaatkan perjalanan kereta api untuk tidur siang. Namun, ia diganggu dalam mimpinya dengan cara yang tidak baik, karena itu ia terjatuh dari kereta dan terbentur tanah dengan kondisi yang menyakitkan. Dia berjalan ke stasiun untuk mengambil barangnya. Namun di sini, dia terkejut menemukan bahwa satu tas berisi paket tahun baru telah hilang. Kejatuhan tersebut memaksanya menjalani perawatan medis di rumah sakit kota,” tulis surat kabar Batavia Nieuwsblad edisi 12 Februari 1932.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Tragedi lain terjadi pada 1936. Seorang direktur toko kaca di Cirebon, Tuan Adeboi, meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat hendak pulang untuk merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarganya.

“Direktur sebuah toko kaca di sana, menabrakkan sepeda motornya ke sebuah mobil di Cirebon, kemarin dan meninggal sebagai akibatnya. Pak Adeboi sedang dalam perjalanan ke Surabaya untuk merayakan Natal dan Tahun Baru bersama orang tuanya,” tulis surat kabar Batavia Nieuwsblad edisi 17 Desember 1936.

Malam tahun baru pada masa Hindia Belanda juga diwarnai berbagai tindak kriminal. Batavia Nieuwsblad edisi 6 Januari 1937 melaporkan seorang pegawai pos membawa kabur uang tunai sebesar 12.000 gulden, meski kemudian berhasil ditangkap di Bandung.

Kasus kriminal paling menyita perhatian terjadi pada 1921. Seorang perwira dan insinyur, Tuan Van der Huslt, ditembak mati oleh sahabatnya, Tuan Razaux Khur, pada malam tahun baru. Insiden itu dipicu pertengkaran rumah tangga dan berujung pada penembakan sekitar pukul 20.00. Kasus tersebut menjadi sorotan luas karena Van der Huslt dikenal sebagai perwira teladan.

Selain itu, menjelang malam tahun baru 1920, terjadi ancaman mogok massal pegawai kereta api. Surat kabar Het Volk edisi 29 Desember 1920 menyebutkan aksi tersebut dipicu tuntutan kenaikan upah.

“Dilaporkan dari Cheribon, bahwa pemogokan serius yang dilakukan oleh karyawan pribumi diperkirakan akan terjadi di perusahaan trem Semarang-Cheribon menjelang Tahun Baru. Cuti pegawai negeri Eropa telah dicabut,” tulis surat kabar Het Volk edisi 29 Desember 1920.

Beragam catatan ini menunjukkan bahwa malam tahun baru di Cirebon pada masa Hindia Belanda tidak selalu identik dengan pesta dan kegembiraan, tetapi juga sarat dengan dinamika sosial, ekonomi, dan peristiwa tragis.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di infoJabar dengan judul

Saat Warga Cirebon Tak Punya Banyak Uang

Perayaan, Tragedi, dan Gangguan Ketertiban

Kriminalitas di Malam Tahun Baru