Pemandangan unik terlihat saat memasuki Desa Susukan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ratusan keluarga di desa ini tampak sibuk membuat kerajinan tangan berupa bongsang.
Bahkan, desa ini lebih dikenal dengan sebutan Desa ‘Bongsang’, mengingat sebagian besar warganya merupakan perajin anyaman bambu tersebut. Bongsang adalah keranjang bambu tradisional yang biasa digunakan untuk wadah bingkisan, tahu goreng khas Sumedang, hingga tape singkong.
Tak hanya kaum perempuan, para pria pun terampil menganyam bongsang di rumah masing-masing. Tangan mereka begitu cekatan menyusun bilah demi bilah bambu yang sudah diserut tipis. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, satu bongsang rampung dibuat.
Dalam sehari, setiap warga bisa memproduksi 50 hingga 100 bongsang. Tak heran, tumpukan keranjang bambu memenuhi teras rumah warga sembari menunggu jemputan distributor untuk dipasarkan.
“Sejak lama warga di sini menjadi perajin bongsang. Jadi selain bertani, mata pencaharian utamanya membuat bongsang,” ujar Aseng (58), warga setempat, Selasa (13/1/2024).
Menurutnya, pendapatan dari menjual bongsang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per bulan. Nominal itu cukup bagi warga untuk menyambung hidup hingga masa panen padi tiba.
“Kalau dari padi kan uangnya baru ada setiap panen, sekitar tiga bulan sekali. Untuk kebutuhan bulanan, kami mengandalkan bongsang,” kata dia.
Senada dengan Aseng, Titoh Masitoh (48) mengaku penghasilan dari menganyam bambu ini sangat membantu dapur tetap mengepul. Selain memproduksi sendiri, ia juga menampung bongsang dari tetangganya untuk dijual kembali.
“Selain produksi sendiri, saya juga mengambil dari tetangga. Jadi dalam sebulan bisa menghasilkan ribuan bongsang. Meskipun satu bongsang hanya dihargai Rp35, pendapatan saya sebulan bisa mencapai Rp2 juta,” tuturnya.
Titoh menjelaskan, modal membuat bongsang tergolong kecil. Satu batang bambu seharga Rp15 ribu dapat diolah menjadi 100 buah bongsang. “Untungnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Susukan Dodi Damhudi mengatakan terdapat lima kedusunan di wilayahnya yang mayoritas warganya adalah perajin bongsang.
“Paling banyak di empat kedusunan. Setiap dusun minimal ada 50 keluarga perajin. Total ada ratusan keluarga yang menggantungkan hidup dari kerajinan ini dan mampu menghidupi ribuan orang,” jelas Dodi.
Menurutnya, bongsang karya warganya telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Jawa Barat hingga Jakarta. “Pembelinya banyak dari luar daerah. Ada yang digunakan untuk wadah tape, tahu Sumedang, hingga keranjang bingkisan,” pungkasnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
