Kuningan –
Langit sore perlahan berubah jingga ketika langkah-langkah pengunjung mulai memenuhi jalan setapak di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan. Aroma gorengan hangat bercampur manisnya kolak dan segarnya es buah menyatu dengan semilir angin pegunungan.
Di kejauhan, siluet megah Gunung Ciremai berdiri seolah menjadi latar panggung alami bagi para pemburu takjil. Hamparan sawah hijau membentang luas, memantulkan cahaya senja yang perlahan meredup. Di sinilah, ngabuburit terasa berbeda.
Bagi yang ingin berburu takjil sambil menikmati suasana persawahan dan pegunungan, Sawah Lope menjadi pilihan yang sulit ditolak. Bukan sekadar tempat membeli makanan berbuka, tetapi ruang untuk bernapas lebih lega, untuk duduk sejenak dari hiruk-pikuk keseharian.
Di gazebo-gazebo yang berdiri di tengah sawah, pengunjung duduk bersila, bercengkerama, atau sekadar memandangi aliran air irigasi yang deras mengalir tepat di bawahnya. Suara gemericik air berpadu dengan tawa anak-anak yang berlarian. Beberapa remaja sibuk berswafoto di spot-spot estetik yang tersebar di area wisata.
Sore itu, puluhan orang memadati jalan sepanjang kurang lebih 500 meter yang dipenuhi deretan lapak. Di ujungnya, sebuah panggung berdiri menjadi pusat kegiatan bazar Ramadan. Suara pengeras terdengar sesekali, mengumumkan lomba atau sekadar menyapa pengunjung yang datang.
Sofyan (41) datang bersama keluarganya. Ia berjalan pelan menyusuri keramaian, sesekali berhenti memilih jajanan untuk berbuka. Bagi Sofyan, Sawah Lope bukan sekadar lokasi wisata, tetapi tempat menciptakan momen bersama orang-orang terdekat.
“Sudah dua kali ke sini. Sengaja ke sini sama keluarga untuk ngabuburit sambil nyari takjil. Tempatnya nyaman, banyak gazebo. Lokasinya tengah sawah jadi pemandangan juga bagus, bisa lihat Gunung Ciremai langsung,” tuturnya.
Di gazebo tak jauh dari sana, Dito (22) tampak bersandar santai. Segelas minuman dingin sudah di tangannya, sementara waktu berbuka tinggal menghitung menit. Ia mengaku betah berlama-lama di tempat itu.
Baginya, pilihan makanan yang beragam dan panorama alam yang memanjakan mata membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.
Sementara itu, pengelola Sawah Lope, Daeng Ali, menjelaskan bahwa selama Ramadan ada sekitar 55 pedagang yang meramaikan bazar. Menariknya, tak ada tiket masuk yang dikenakan kepada pengunjung.
“Dalam rangka bazar Ramadan nggak ada tiket masuk atau gratis. Pengunjung bebas duduk di gazebo sambil ngabuburit menikmati suasana alam. Total pedagang ada sekitar 55 pedagang di sepanjang 500 meter,” ujarnya.
Agar suasana semakin hidup, pihak pengelola juga mengadakan berbagai perlombaan Islami. Anak-anak berlatih keberanian di atas panggung, orang tua menyaksikan dengan bangga, sementara langit sore perlahan berubah menjadi biru gelap.
Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, keramaian mendadak hening. Tangan-tangan yang sejak tadi memegang kantong takjil kini terangkat dalam doa. Di tengah hamparan sawah dan bayang-bayang Gunung Ciremai, momen berbuka terasa lebih khusyuk.
Di Sawah Lope, takjil bukan sekadar makanan pembuka. Ia menjadi alasan untuk berkumpul, untuk menunggu dengan sabar, dan untuk merayakan Ramadan dalam pelukan alam.
