Bandung –
Gangguan irama jantung atau aritmia kerap dikaitkan dengan kematian mendadak di usia muda. Kondisi yang kerap mengancam nyawa ini kerap tak disadari.
Detak jantung terasa tidak teratur, terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau malah tidak beraturan imbas impuls listrik pengatur jantung tak bekerja dengan baik. Dalam kondisi tersebut, seseorang bisa mendadak merasa berdebar-debar, pusing hingga terasa ingin pingsan, sampai nyeri dada hingga sesak napas.
Namun, adapula dari mereka yang hanya merasakan gejala tidak khas, sehingga tidak sadar mengalami gangguan irama jantung.
dr Ardian Rizal, SpJP, (K) FIHA menekankan kondisi ini menjadi pemicu rata-rata laporan meninggal pada usia muda.
“Kematian mendadak pada usia 40 tahun ke bawah penyebab paling banyak adalah gangguan irama jantung, pada 45 tahun ke atas mungkin sudah banyak penyakit jantung koroner, gangguan metabolik dan lan-lain,” tuturnya saat ditemui detikcom di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Penyebab terbanyak pada mereka yang merasa ‘sehat’ adalah faktor genetik. dr Ardian menceritakan kasus yang cukup jarang terjadi pada pasien usia 17 tahun.
Si pasien hampir selalu pingsan saat bangun tidur, ia kemudian menjalani pemeriksaan dan pengobatan ke beberapa RS tetapi hasilnya termasuk kondisi jantung sempat dinyatakan baik-baik saja.
“Namun setelah kita gali lebih dalam lagi, ternyata ada faktor genetik di sana, tante dari pasien saya tadi meninggal mendadak saat tidur, di usia muda,” bebernya.
“Itu sebenarnya kalau dikorelasikan kita dapatkan kita sebutkan tadi bahwa di bawah usia 40 tahun, penyebab meninggal mendadaknya itu rata-rata aritmia, penyebab aritmia ini banyak sekali salah satunya faktor genetik,” tegas dia.
Menurut dr Ardian, penyebab aritmia secara umum terbagi dalam tiga hal. Pertama, ada kelainan jantung struktural, misalnya kondisi jantung bengkak. Kedua, bisa juga berkaitan dengan gaya hidup.
“Sebagai contoh obesitas, kita sudah meneliti obesitas itu sebagai faktor risiko dari atrial fibrilasi, dengan hanya mengurangi obesitas itu ternyata kejadian AF-nya jauh berkurang, yang terakhir tentu genetik,” pungkasnya.
