Dalam beberapa bulan terakhir, harga RAM dan NAND atau SSD melonjak tajam karena pasokan yang semakin ketat. Dampaknya mulai terasa dari pasar PC rakitan, di mana harga komponen naik signifikan, hingga kasus ekstrem di mana sebagian perakit menjual PC tanpa RAM.
Kini, efek krisis tersebut mulai merembet ke laptop dan PC dari produsen besar seperti Lenovo, Dell, HP, Asus, dan Acer. Krisis memori global ini dipicu ledakan kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), demikian dikutip infoINET dari The Verge, Senin (12/1/2026).
Menurut proyeksi TrendForce, harga memori diperkirakan kembali naik tajam pada kuartal pertama 2026. Kenaikan ini diprediksi akan semakin menekan harga jual laptop dan PC. Tanda-tandanya sudah terlihat di CES 2026, ketika sejumlah produsen mulai menyesuaikan strategi harga.
Asus, misalnya, telah memberi tahu mitra distribusinya soal rencana kenaikan harga produk akibat kondisi pasar memori. Dell juga disebut mengubah harga peluncuran XPS 14 dan XPS 16 hanya beberapa jam sebelum pengumuman resmi.
Lenovo memilih menimbun stok memori untuk mengamankan pasokan sepanjang 2026, sementara HP memperingatkan potensi kenaikan harga dan konfigurasi RAM yang lebih rendah pada akhir tahun ini, meski juga memiliki cadangan stok.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
Masalahnya, menurunkan kapasitas RAM bukan solusi mudah. Windows 11 memang memiliki batas minimum 4 GB, tetapi performanya dinilai kurang ideal. TrendForce mencatat bahwa laptop entry-level sulit menurunkan kapasitas RAM dengan cepat karena keterbatasan sistem operasi dan kebutuhan prosesor.
Situasi ini datang di waktu yang kurang tepat. Windows 10 telah mencapai akhir masa dukungan, dan banyak perusahaan sedang melakukan migrasi ke Windows 11 yang biasanya dibarengi dengan siklus pembaruan perangkat. Momentum pemulihan pengiriman PC sepanjang 2025 berisiko terhenti ketika stok memori mulai menipis.
Lebih jauh, kenaikan harga memori dikhawatirkan bukan sekadar masalah sementara. IDC menilai krisis ini sebagai pergeseran struktural, di mana kapasitas produksi wafer kini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan AI. Produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron semakin fokus pada HBM dan DDR5 berkapasitas tinggi untuk pusat data, mengorbankan pasokan untuk PC dan laptop konsumen.
Dampaknya juga terasa di pasar gaming PC. Perakit kecil yang tak mampu menimbun RAM dan SSD diperkirakan akan paling terdampak, membuka peluang bagi OEM besar untuk merebut pangsa pasar. Tekanan harga bahkan mulai terlihat pada GPU, dengan kartu grafis kelas atas seperti RTX 5090 dijual jauh di atas harga ritel resmi.
Jika biaya merakit PC gaming terus meningkat sepanjang 2026, bukan hanya pasar PC yang tertekan. Rencana konsol generasi berikutnya, termasuk Xbox dan PlayStation, juga berpotensi terdampak akibat mahalnya komponen.
Krisis memori ini menjadi ujian besar bagi masa depan PC di tengah dorongan AI yang semakin agresif. Meski belum menandai akhir era PC, kondisi ini memperlihatkan bagaimana AI mulai mengubah prioritas industri semikonduktor, dengan konsekuensi langsung bagi konsumen.
Artikel ini telah tayang di
