‘Para Pejuang’ yang Masih Kerja di Tengah Hingar Bingar Pergantian Tahun

Posted on

Pergantian tahun kerap dimaknai sebagai momen rehat dan menghabiskan waktu dengan kebersamaan. Bagi banyak orang terutama kalangan muda, malam tahun baru identik dengan berkumpul bersama keluarga atau reuni dengan teman lama.

Menunggu info-info pergantian tahun dengan orang terdekat kerap jadi pilihan. Ternyata, tak semua orang bisa menikmati hangatnya kebersamaan ini.

Andra Imam (24) justru memilih untuk tetap bekerja di tengah hingar bingar perayaan tahun baru. Bukan karena tak ingin merayakan, melainkan tuntutan untuk bertahan hidup.

Tepatnya di bawah Jembatan Pasopati, kedai kopi kecil bernama Understate tetap menyala di malam tahun baru. Keputusan untuk tetap bekerja di malam tahun baru memang sudah direncanakan Andra sejak awal.

Ia melihat momen tahun baru ini sebagai peluang untuk membangun masa depan, meski harus mengorbankan waktu bersama keluarga.

“Saya melihat peluang yang lebih besar, walau akhirnya harus mengorbankan waktu bersama keluarga demi hal yang harus dicapai,” ucapnya.

Ia merasa, di usianya sekarang banyak target yang harus dikejar. Di tengah fase hidup yang menuntut kemandirian, Andra tak lagi punya banyak ruang untuk menunda. Understate menjadi satu-satunya tempat untuk bertahan saat ini.

“Saya mencari uang per hari, bukan per bulan. Jadi jika satu hari libur, sangat terasa, makanya memutuskan untuk tetap berjualan,” ujarnya.

Meski sehari-harinya ia berjualan sampai pukul 24.00, Andra mengaku ada rasa yang berbeda di malam tahun baru ini. Ada harapan yang ikut menyelinap di antara suara mesin kopi dan obrolan pengunjung.

“Malam tahun baru ini kondisi kedainya ramai. Saya berharap orang-orang lebih mengenal lagi tentang kedai ini,” kata Andra.

Perbedaan lain yang paling terasa adalah tentang peran. Malam itu menjadi malam tahun baru pertama bagi Understate sekaligus kali pertama bagi Andra harus melewati malam pergantian tahun tanpa keluarga.

“Pembedanya adalah tahun lalu saya merayakan tahun baru bersama keluarga. Sekarang, saya harus berjualan,” katanya.

Meski begitu, Andra bersyukur karena keluarganya tetap memberi dukungan dan doa. Meskipun ada harapan untuk melewati malam pergantian tahun bersama, mereka memahami keputusannya untuk tetap berjualan di malam tahun baru ini.

Sebagai bagian dari generasi muda, Andra berani berbeda dan tak merasa terasing karena harus bekerja di saat orang lain merayakan. Baginya, berjualan kopi justru menjadi hiburan.

Andra juga menilai bekerja di saat orang lain libur merupakan hal yang wajar. Dari kedai sederhananya, Andra menutup tahun dengan kerja keras. Satu pesannya pada generasi muda yang sama-sama sedang berjuang sepertinya.

“Semangat, semoga rasa lelah kalian jadi berkah.”

Hal serupa juga dirasakan Wina (22). Karena tuntutan pekerjaan, ia harus tetap menjalani giliran kerja di saat anak muda seusianya merayakan malam tahun baru bersama keluarga atau teman.

Wina telah bekerja di sektor ritel selama tiga tahun. Tahun ini terasa berbeda karena merupakan tahun pertamanya bekerja di malam tahun baru.

“Kalau di tahun sebelumnya biasa libur dan liburan, tapi karena tahun ini berbeda tempat kerja, sehingga ia harus bekerja saat tahun baru,” ucap Wina.

Suasana di tempat kerjanya juga terasa berbeda, jika biasanya toko terasa ramai karena lalu lalang pengunjung, malam ini justru lebih lengang. Banyak toko yang memilih untuk tutup lebih awal.

Sebagai anak perempuan, Wina tak memungkiri ada perasaan sedih di lubuk hatinya. Ada momen-momen ketika ia merasa kehilangan kebersamaan.

Namun, Wina tetap memilih untuk menerima dengan lapang dada. Baginya, bekerja di malam tahun baru bukan sekadar pilihan personal, melainkan bagian dari tanggung jawab yang harus dijalani.

“Sebetulnya capek dan sedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga, tapi ya namanya pekerjaan itu kan sebuah tanggung jawab juga,” katanya.

Di sisi lain, keluarganya pun ikut memahami tuntutan pekerjaan ini. Tak ada larangan atau penolakan, keluarganya menerima bahwa malam itu harus dilewati dengan cara yang berbeda.

Tak ada yang salah dengan bekerja di tengah-tengah perayaan. Tanggung jawab yang tak bisa ditunda dan harapan sederhana memberi arti bagi langkah-langkah kecil yang disusun.

Ia merasa, di usianya sekarang banyak target yang harus dikejar. Di tengah fase hidup yang menuntut kemandirian, Andra tak lagi punya banyak ruang untuk menunda. Understate menjadi satu-satunya tempat untuk bertahan saat ini.

“Saya mencari uang per hari, bukan per bulan. Jadi jika satu hari libur, sangat terasa, makanya memutuskan untuk tetap berjualan,” ujarnya.

Meski sehari-harinya ia berjualan sampai pukul 24.00, Andra mengaku ada rasa yang berbeda di malam tahun baru ini. Ada harapan yang ikut menyelinap di antara suara mesin kopi dan obrolan pengunjung.

“Malam tahun baru ini kondisi kedainya ramai. Saya berharap orang-orang lebih mengenal lagi tentang kedai ini,” kata Andra.

Perbedaan lain yang paling terasa adalah tentang peran. Malam itu menjadi malam tahun baru pertama bagi Understate sekaligus kali pertama bagi Andra harus melewati malam pergantian tahun tanpa keluarga.

“Pembedanya adalah tahun lalu saya merayakan tahun baru bersama keluarga. Sekarang, saya harus berjualan,” katanya.

Meski begitu, Andra bersyukur karena keluarganya tetap memberi dukungan dan doa. Meskipun ada harapan untuk melewati malam pergantian tahun bersama, mereka memahami keputusannya untuk tetap berjualan di malam tahun baru ini.

Sebagai bagian dari generasi muda, Andra berani berbeda dan tak merasa terasing karena harus bekerja di saat orang lain merayakan. Baginya, berjualan kopi justru menjadi hiburan.

Andra juga menilai bekerja di saat orang lain libur merupakan hal yang wajar. Dari kedai sederhananya, Andra menutup tahun dengan kerja keras. Satu pesannya pada generasi muda yang sama-sama sedang berjuang sepertinya.

“Semangat, semoga rasa lelah kalian jadi berkah.”

Hal serupa juga dirasakan Wina (22). Karena tuntutan pekerjaan, ia harus tetap menjalani giliran kerja di saat anak muda seusianya merayakan malam tahun baru bersama keluarga atau teman.

Wina telah bekerja di sektor ritel selama tiga tahun. Tahun ini terasa berbeda karena merupakan tahun pertamanya bekerja di malam tahun baru.

“Kalau di tahun sebelumnya biasa libur dan liburan, tapi karena tahun ini berbeda tempat kerja, sehingga ia harus bekerja saat tahun baru,” ucap Wina.

Suasana di tempat kerjanya juga terasa berbeda, jika biasanya toko terasa ramai karena lalu lalang pengunjung, malam ini justru lebih lengang. Banyak toko yang memilih untuk tutup lebih awal.

Sebagai anak perempuan, Wina tak memungkiri ada perasaan sedih di lubuk hatinya. Ada momen-momen ketika ia merasa kehilangan kebersamaan.

Namun, Wina tetap memilih untuk menerima dengan lapang dada. Baginya, bekerja di malam tahun baru bukan sekadar pilihan personal, melainkan bagian dari tanggung jawab yang harus dijalani.

“Sebetulnya capek dan sedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga, tapi ya namanya pekerjaan itu kan sebuah tanggung jawab juga,” katanya.

Di sisi lain, keluarganya pun ikut memahami tuntutan pekerjaan ini. Tak ada larangan atau penolakan, keluarganya menerima bahwa malam itu harus dilewati dengan cara yang berbeda.

Tak ada yang salah dengan bekerja di tengah-tengah perayaan. Tanggung jawab yang tak bisa ditunda dan harapan sederhana memberi arti bagi langkah-langkah kecil yang disusun.