Bogor –
Wiwin Puji Astuti (37), putri ketiga Herlan Matrusdi, tak kuasa menahan bingung yang menyelimuti keluarganya. Bersama dua saudaranya, ia kini berada di Yogyakarta untuk mengurus proses autopsi jenazah ayahnya di RS Bhayangkara. Mantan pejabat Pordasi DKI Jakarta itu ditemukan tewas dengan sejumlah luka di kawasan Gumuk Pasir, Grogol IX, Parangtritis, Kretek, Bantul.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Bagi Wiwin, rangkaian peristiwa sejak pekan lalu terasa janggal. Ia terakhir kali bertatap muka dengan Herlan pada Agustus 2025. Saat itu, Herlan pulang ke rumahnya di Cakung hanya untuk mengambil pakaian dan sejumlah dokumen penting.
“Posisinya sudah mau berangkat lagi. Papa minta ongkos, pesan Grab, lalu ke Terminal Pulo Gebang. Entah mau ke mana dan sama siapa, saya tidak tahu. Itu terakhir saya ketemu,” ujar Wiwin saat berbincang dengan, Kamis (29/1/2026).
Sejak saat itu, komunikasi dengan Herlan kian sulit. Nomor ponselnya kerap berganti. Wiwin menyebut ayahnya sempat kehilangan ponsel, lalu berkomunikasi menggunakan nomor baru milik seseorang bernama Feri. Terbatasnya akses komunikasi membuat keluarga hanya bisa mengandalkan pesan singkat atau telepon yang jarang direspons.
Kejanggalan memuncak pada Jumat (23/1/2026). Wiwin membaca kabar di grup RT yang menyebut Herlan meninggal dunia akibat sakit ginjal dan jatuh di kamar mandi. Wiwin terkejut karena ayahnya tak memiliki riwayat penyakit tersebut. Ia pun segera menghubungi nomor yang biasa digunakan ayahnya.
“Alhamdulillah diangkat. Saya yakin itu suara Papa. Kondisinya memang agak lemah, tapi beliau bilang sehat, cuma sariawan. Papa bilang hari Senin pulang dan akan cerita semuanya,” kata Wiwin.
Namun esoknya, Wiwin menerima kabar yang bertolak belakang. Foto yang beredar memperlihatkan kondisi fisik Herlan yang mengenaskan: mata lebam, rahang bengkak, dan hidung tertutup kapas. Anehnya, narasi yang beredar di lingkungan tertentu tetap menyebut penyebab kematian adalah gagal ginjal, bahkan disertai informasi penggalangan donasi atas nama Herlan.
Wiwin sempat mencoba menghubungi nomor yang diklaim sebagai kontak Pordasi dan kembali mengontak Feri. Jawaban yang ia terima selalu seragam: kondisi Herlan baik-baik saja dan akan pulang pada hari Senin.
Keanehan berlanjut pada Minggu. Pemilik nomor yang biasa digunakan Herlan mengirim pesan tertulis kepada Wiwin. Ia mengaku merasa terganggu karena ponselnya terus-menerus dipinjam oleh Herlan, yang ia sapa dengan sebutan ‘Pak Haji’. Pemilik ponsel itu meminta Wiwin menasihati ayahnya dan mengaku hendak berangkat ke Sulawesi karena ada kerabat yang meninggal.
Selama berbulan-bulan, Herlan diketahui kerap berpindah lokasi, mulai dari Kediri hingga Malang. Setiap kali Wiwin meminta berbagi lokasi (share loc), Herlan selalu menolak dengan alasan keamanan.
“Beliau pernah bilang sedang ikut seseorang untuk memecahkan sebuah kasus. Cukup berbahaya. Katanya Bapak dibekingi seseorang jadi aman,” tutur Wiwin.
Dalam percakapan terakhir, Herlan hanya bicara singkat dan meminta Wiwin menunggu kepulangannya untuk mendengar cerita lengkap. Namun, kepulangan itu tak pernah terjadi. Tanda tanya keluarga kian besar setelah melihat detail luka pada jenazah.
“Ada lebam di mata, pelipis kanan sobek, telinga mengeluarkan darah, rahang bengkak, lebam di punggung, dan ada luka lama di lutut,” ucapnya lirih.
Kini, keluarga hanya bisa menunggu hasil autopsi resmi dari tim kedokteran forensik untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Herlan Matrusdi.
Video: Terungkap Brigadir Nurhadi Dicekik Sebelum Tewas di Kolam Vila“
[Gambas:Video 20detik]
