Hujan deras yang mengguyur kawasan Waduk Jatiluhur selama beberapa hari terakhir tak hanya membawa limpasan air, tetapi juga petaka bagi para petani ikan. Ribuan ikan di Kolam Jaring Apung (KJA) dilaporkan mati mendadak, mengambang di permukaan air sebelum sempat dipanen.
Kematian massal itu terjadi hampir merata di sejumlah blok KJA Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Ikan-ikan yang mati mayoritas masih berusia muda, baru satu hingga dua bulan masa tanam, jauh dari usia panen ideal.
Roni, petani KJA di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, mengatakan peristiwa itu berlangsung cepat dan nyaris tanpa tanda-tanda awal. Di kolam miliknya, ikan mati hanya dalam hitungan jam.
“Di sini kejadian baru semalam. Kalau di blok lain itu sudah dari dua hari lalu. Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton,” ujar Roni saat ditemui di KJA SGH, Jumat (23/1/2026).
Menurut Roni, hujan dengan intensitas tinggi dan minimnya sinar matahari menjadi pemicu utama perubahan kondisi air waduk. Air yang semula stabil tiba-tiba berubah, memicu gangguan serius pada kehidupan ikan.
“Air dingin dari bawah naik ke atas. Itu airnya sudah jelek, oksigennya kurang. Ikan enggak kuat, akhirnya mati,” katanya.
Fenomena tersebut dikenal sebagai up-welling atau umbalan, yakni naiknya air dasar waduk ke permukaan akibat perbedaan suhu. Air di lapisan bawah waduk umumnya mengandung oksigen rendah dan membawa endapan sisa pakan serta limbah organik. Ketika air ini naik, ikan mengalami stres, kekurangan oksigen, hingga akhirnya mati.
Di kawasan tempat Roni membudidayakan ikan, sedikitnya 32 kolam jaring apung terdampak. Total ikan yang mati diperkirakan mencapai puluhan ton. Ironisnya, hampir seluruh ikan belum layak panen.
“Ini ikan masih umur satu bulan sampai satu bulan setengah. Normalnya panen itu dua setengah sampai tiga bulan. Jadi belum bisa dipanen,” ujarnya.
Kerugian pun tak terelakkan. Roni memperkirakan kerugian yang ia alami mencapai sekitar Rp100 juta. Ia menyebut, kondisi serupa dialami hampir seluruh petani KJA di Waduk Jatiluhur, meski waktu kejadiannya berbeda di tiap blok.
“Di Jatiluhur hampir semua kena, cuma waktunya beda-beda. Dua hari lalu di blok barat dulu, sekarang ke sini,” ucapnya.
Di tengah kondisi cuaca yang belum bersahabat, Roni mengakui belum ada langkah efektif untuk mencegah kematian ikan saat fenomena up-welling terjadi. Memindahkan ikan ke kolam lain pun bukan solusi.
“Dipindahin juga tetap mati, karena airnya sama. Air bau itu turun ke bawah, ngendap,” ungkapnya.
Untuk meminimalkan kerugian, bangkai ikan mas yang mati sebagian dimanfaatkan sebagai pakan ikan patin. Sementara ikan yang masih hidup namun sekarat tidak bisa dijual karena ukurannya terlalu kecil.
“Kalau kecil-kecil begini engga laku. Paling kalau nanti kondisi air membaik, yang masih selamat, dikasih makan lagi. Atau biasanya ada warga yang memanfaatkannya menjadi ikan asin untuk yang ikan yang mati,” katanya.
