Sebuah jembatan kecil berpagar kuning di belakang SDN Cikeresek, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, mendadak jadi pusat perhatian. Jembatan di atas aliran sungai kecil ini diduga kuat menjadi titik awal kasus penemuan mayat tanpa kepala yang menggemparkan warga Sukabumi pada Kamis (8/1/2024) malam.
Lokasi yang dikenal warga sebagai “Kebun Awi” (Kebun Bambu) tersebut menyimpan teka-teki kelam. Berdasarkan penelusuran lapangan dan pemetaan warga, area ini merupakan titik sunyi yang strategis untuk menghilangkan jejak.
Jembatan Curug Darismin berada di jalan utama desa yang menghubungkan Dusun Cikeresek dengan Dusun Suka Tengah. Meski menjadi akses menuju destinasi wisata air Cibulaklak, jembatan ini berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi wisata tersebut. Fakta ini menepis dugaan bahwa mayat hanyut dari keramaian tempat rekreasi.
Wisata Cibulaklak memang berada di aliran sungai yang sama, namun warga meyakini mustahil korban terbawa arus dari hulu yang jauh. Misteri kian menebal karena debit air di titik temuan (Curug Darismin) tidak sebesar Sungai Cibulaklak.
“Jarak dari wisata Cibulaklak ke jembatan dekat TKP sekitar 1 kilometer. Dari jembatan kuning ke titik mayat tersangkut hanya 15 sampai 20 meter melalui medan curam di kebun bambu,” ungkap Maman, warga yang ikut memetakan lokasi kejadian.
Posisi jembatan yang tinggi memicu berbagai spekulasi. Korban diduga terjatuh, mengalami kecelakaan di sekitar tebing, atau menjadi korban tindak kriminal. Indikasi lain mengarah pada dugaan pelaku sengaja membuang tubuh korban dari atas jembatan untuk menghindari tebing yang terjal. Di bawah jembatan itu terdapat dua undakan air terjun (curug) yang bising, sehingga aktivitas di sana tersembunyi dari pandangan dan pendengaran warga.
Jika dilihat dari atas jembatan, dasar sungai tampak gelap tertutup rimbunnya pepohonan. Warga menyebut area di bawah sana sebagai Kebun Awi karena dominasi pohon bambu yang memagari sisi sungai.
Medan menuju titik jatuhnya mayat digambarkan sangat ekstrem. Saksi mata penemuan, Ikoh Nuryadi (53), menyebutnya sebagai jungkrang (jurang) yang sulit dijamah manusia. “Lokasinya susah, terjal, masuk ke kebun bambu. Jurang,” tutur Ikoh bergidik.
Kapolsek Ciracap, AKP Taufick Hadian, yang memimpin evakuasi pada Jumat dini hari, membenarkan sulitnya medan tersebut. Untuk mencapai jasad korban yang tersangkut di bebatuan, petugas harus memutar melewati jalan buntu dan menerobos rimbunan bambu sejauh 100 meter dari jalan utama.
“Masuk ke TKP memang harus menembus Kebun Awi. Jalannya buntu, biasanya hanya dilintasi warga yang hendak ke sawah,” jelas Taufick.
Keheningan Kebun Awi pecah ketika Ikoh dan rekannya, Saepul Rohman (43), turun ke sungai untuk mencari ikan (ngobor) pada Kamis malam. Niat hati ingin memanen ikan, mereka justru disuguhi pemandangan mengerikan.
Dalam remang cahaya obor, Saepul awalnya mengira onggokan daging yang dikerubungi ikan itu adalah bangkai ternak karena kulitnya yang mengelupas. “Aduh, ini anak sapi atau domba? Kok berbulu?” kenang Ikoh menirukan ucapan rekannya.
Namun, saat diamati lebih dekat, terlihat jelas tumit kaki dan lima jari tangan manusia. Ikan-ikan yang semula mereka incar ternyata sedang memakan jasad tersebut. Saking syoknya, mereka membuang kembali seluruh hasil tangkapan ke sungai.
“Ngeri lihat kondisinya. Kami buang semua ikannya, tidak jadi dibawa pulang,” pungkas Ikoh.
