Memori Gedong Duwur di Ingatan Warga Panganjang Indramayu baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Indramayu

Di tengah hiruk-pikuk Indramayu hari ini, Gedong Duwur berdiri tenang, seolah memendam kisah-kisah lama yang tak lagi banyak diucapkan. Bangunan tua peninggalan kolonial yang terletak di Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, ini bukan sekadar struktur bata dan pilar besar, melainkan ruang ingatan bagi warga yang tumbuh bersama cerita-cerita masa lalu.

Jurnalis berkesempatan menilik langsung kondisi terkini Gedong Duwur pada Selasa (27/1/2026), bangunan yang dulu ramai karena menjadi pusat administrasi di era Kolonial Belanda, sekarang seperti ‘terasingkan’ lantaran tidak terpakai.

Tidak jauh dari Gedong Duwur, terdapat sebuah warung yang agak ramai oleh bapak-bapak menikmati kopi, di tengah hujan yang enggan berhenti.

Saat ditemui sambil bersantai di warung tersebut, Supardi (45), warga setempat, masih mengingat cerita yang sering disampaikan neneknya tentang Gedong Duwur. Konon, bangunan itu pernah menjadi markas tentara Belanda. Pada masa itu, suasana di sekitarnya terasa mencekam.

“Kalau mobil-mobil Belanda lewat, tidak ada yang berani menatap. Orang-orang malah sembunyi,” ujarnya kepada, Selasa (27/1/2026), menirukan kisah turun-temurun yang ia dengar sejak kecil.

Cerita serupa juga disampaikan Ajat (59). Menurutnya, Gedong Duwur seperti bangunan yang terlupakan, dibiarkan menjadi saksi bisu sejarah tanpa perawatan yang jelas.

“Dari dulu sampai sekarang seperti bangunan mati. Pemerintah daerah dari masa ke masa tidak punya visi kebudayaan yang jelas. Padahal dulu kata orang tua kawasan Gedong Duwur itu ramai, mungkin karena pusat administrasi,” tuturnya.

Ia juga mendengar bahwa orang-orang Belanda yang menempati Gedong Duwur jarang bergaul dengan warga pribumi. “Seperti ada sekat antara mereka dengan pribumi,” katanya.

Sementara itu, Karnoto (56) menyebut bahwa setelah era kolonial berakhir, Gedong Duwur sempat memiliki peran lain.

“Setahu saya dari cerita orang tua dan kakek, dulu pernah jadi markas tentara Indonesia juga, setelah Belanda pergi. Tapi detailnya saya kurang paham,” ungkapnya.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Cerita-cerita warga tersebut menjadi potongan mozaik sejarah yang melekat pada Gedong Duwur. Bangunan ini memang memiliki perjalanan panjang.

Upaya Pemeliharaan Gedong Duwur

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu, Dedy S Musashi, menjelaskan bahwa Gedong Duwur merupakan kantor sekaligus rumah dinas bagi Asisten Residen atau Resident Woning yang dibangun pada tahun 1866.

Dari sisi arsitektur, Gedong Duwur mencerminkan gaya kolonial Hindia-Belanda. Pilar-pilar besar di bagian depan, pintu-pintu tinggi, serta detail bangunan yang khas menjadi penanda zamannya. Bahkan, kata Dedy, lantai bangunan ini diketahui diimpor langsung dari Britania Raya.

“Penetapan Gedong Duwur sebagai cagar budaya dilakukan melalui kajian mendalam oleh TACB dan ditetapkan melalui SK Bupati Indramayu pada 2023,” kata Dedy.

Namun, status cagar budaya belum sepenuhnya menjamin masa depan bangunan bersejarah ini.

Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia sekaligus kepala pengelola Museum Bandar Cimanuk, Nang Sadewo, menilai bahwa pelestarian Gedong Duwur membutuhkan kerja bersama.

“Status kepemilikannya berada di bawah TNI, dalam hal ini Kodim 0616/Indramayu. Karena itu, pemeliharaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi, bahkan terbuka peluang melibatkan pihak swasta,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian cagar budaya memiliki payung hukum yang jelas melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menegaskan peran negara, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

Di sisi lain, analis sumber sejarah Bidang Kebudayaan Disdikbud Indramayu, Tito MR, menjelaskan bahwa kondisi Gedong Duwur saat ini masih dalam tahap perawatan dasar.

“Perawatan sejauh ini sebatas pembersihan rutin, pemantauan kondisi fisik, dan pencegahan kerusakan darurat,” jelasnya.

Menurutnya, pemugaran menyeluruh belum dilakukan karena keterbatasan anggaran, dan kehati-hatian dalam menjaga keaslian bangunan cagar budaya.

Gedong Duwur kini berada di persimpangan antara masa lalu dan masa depan. Ia tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga potensi sebagai ruang edukasi dan penguat identitas budaya Indramayu.

Seperti cerita warga yang masih hidup dari mulut ke mulut, bangunan ini menunggu untuk kembali dirawat, dihidupkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya; agar sejarahnya tak benar-benar tenggelam dalam sunyi.