Leumeung Meri, Rahasia Bebek Empuk ala Warga Tasikmalaya

Posted on

Kreativitas kuliner masyarakat Indonesia seolah tak pernah menemui jalan buntu. Di tangan warga Kampung Cilenga, Desa Selawangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, keterbatasan alat masak justru melahirkan cita rasa otentik yang menggugah selera. Mereka punya jagoan lokal leumeung meri alias lemang bebek.

Tanpa sentuhan panci presto modern, warga setempat mampu menyulap daging bebek yang biasanya alot menjadi empuk nan lezat. Modalnya sederhana, hanya sebilah bambu dan perapian tradisional. Prosesnya pun tergolong singkat, tak sampai 30 menit di atas bara api.

“Ini resep dan cara memasak dari orang tua dulu. Sebenarnya tidak hanya untuk memasak daging, bisa juga untuk memasak nasi,” ujar Ateng Sujai, salah seorang warga Kampung Cilenga, Minggu (11/1/2026).

Bagi Ateng, ngaleumeung adalah seni memanfaatkan alam. Teknik memasak dengan media batang bambu ini merupakan warisan turun-temurun yang lazim dilakukan saat warga sedang berkebun, masuk ke hutan, atau melakukan pendakian. Dahulu, orang tua mereka jarang membawa peralatan logam yang berat.

“Ya memasaknya cukup pakai bambu, dipotong seperti lodong kemudian dipanggang di perapian,” kenang Ateng.

Khusus untuk leumeung meri, Ateng mengakui ada tantangan tersendiri. Tekstur bebek yang cenderung alot membuatnya sulit mencapai kelembutan maksimal jika hanya dipanggang biasa. Berbeda dengan daging ayam yang lebih cepat lunak.

Untuk menyiasatinya, Ateng menggunakan bambu sebagai “ruang penguapan”. Daging bebek yang telah dibersihkan dan dibumbui dimasukkan ke dalam batang bambu segar berdiameter sekitar 10 sentimeter. Pemilihan bambu pun tak boleh sembarangan.

“Batang bambunya kalau bisa yang segar, maksudnya yang baru ditebang. Jangan bambu yang sudah lama, apalagi bambu yang sudah lama terendam air, itu bisa merusak rasa, karena ada aroma lain dari dalam bambunya,” jelas Ateng.

Sebelum masuk ke tabung bambu, potongan daging dibungkus daun pisang terlebih dahulu. Namun, rahasia kelezatan utamanya terletak pada cairan yang digunakan. Bukan air biasa, melainkan air kelapa muda. “Air dawegan secukupnya saja, agar ada rasa-rasa gurih kelapa,” tambahnya.

Setelah siap, bambu-bambu berisi daging itu digarang di atas perapian. Di sinilah ketelatenan diuji. Jeje, warga lainnya, menjelaskan bahwa api harus dijaga agar tetap stabil.

“Saat membakar, perhatikan apinya. jangan terlalu besar, jangan terlalu kecil juga. Patokannya jangan sampai batang bambu hangus duluan, sebelum masakan di dalamnya matang sempurna,” kata Jeje.

Bambu harus terus diputar agar panas merata. “Sambil diputar-putar saja, pokoknya jangan sampai bambu terbakar. Kalau hanya menghitam nggak apa-apa,” lanjutnya.

Tanda-tanda kematangan akan muncul lewat suara air yang mendidih dari dalam bambu. Uap panas yang menyeruak dari celah tutup daun pisang membawa aroma rempah yang kuat. Karena sulit merogoh daging di dalam bambu untuk mengecek kematangan, warga biasanya mengandalkan insting dan pendengaran. Jika suara mendidih mulai reda dan aroma harum sudah memuncak, itu tandanya bebek siap dihidangkan.

“Ya sekitar 30 menitan sudah matang, asal air di dalam bambu sudah kering saja, biasanya sudah cukup matang. Kalau mau dicek bisa saja, colok pakai tusuk sate yang agak panjang,” tutur Jeje.

Tim infoJabar berkesempatan mencicipi langsung mahakarya tradisional ini. Hasilnya mengejutkan. Metode kuno ini memberikan efek yang sama dengan panci bertekanan tinggi. Daging bebek terasa sangat empuk, namun tetap mempertahankan sensasi juicy yang khas.

Gurihnya air kelapa meresap hingga ke serat daging, berpadu sempurna dengan bumbu sederhana yang otentik. Menikmati leumeung meri di tengah suasana kampung yang asri, tanpa sadar membuat siapa pun akan menambah porsi nasi berkali-kali. Sebuah bukti bahwa kesederhanaan cara seringkali menghasilkan kemewahan rasa.