Kuningan –
Menjelang musim haji 2026, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kuningan mulai mematangkan berbagai persiapan. Langkah ini dilakukan setelah ditetapkannya calon jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci.
Kepala Kantor Kemenag Kuningan Ahmad Fauzi memaparkan ada sekitar 684 jemaah Kuningan yang berangkat pada 2026. Menurutnya, jumlah kuota tersebut bertambah dari yang sebelumnya 350 jemaah menjadi 684 jemaah.
Penambahan kuota tersebut terjadi karena banyak kuota daerah lain yang belum terserap dan adanya jemaah yang pindah domisili. Para jemaah haji Kuningan tersebut akan terbagi dalam dua kloter.
“Karena kuota Jawa Barat dari kabupaten lain masih belum terserap. Penyebabnya juga karena ada yang mutasi keluar, pindah domisili jadi yang siap berangkat itu 684 jemaah. Jadi jemaah Kuningan cadangannya yang sudah melunasi masuk ke dalam kuota inti. Terbagi dalam dua kloter, yang satu kloter utuh satunya lagi gabungan dengan kloter lain. Masuk kloter 8 gelombang 1 Kertajati (KJT) dan kloter 39 gelombang 2, ” tutur Fauzi, Jumat (6/2/2026).
Dari jumlah jemaah tersebut, jemaah paling tua berusia 85 tahun bernama Mulyadi asal Ciawigebang. Sedangkan untuk yang paling muda bernama Faqih Hamzah berusia 18 tahun asal Jalaksana. Menurut Fauzi, baik yang tua maupun yang muda sudah memenuhi berbagai macam persyaratan haji, termasuk tes kesehatan.
“Untuk yang tua sudah ada proses pemilihan khusus jemaah lansia. Nanti akan dikoordinasikan dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan perhatian. Terus juga data lansia akan diterima oleh petugas untuk mendapatkan pelayanan khusus. Dan itu sudah tersistem, usia tua selagi tidak pikun itu masih bisa,” tutur Fauzi.
Di tahun ini, lanjut Fauzi, biaya haji yang harus dibayarkan oleh jemaah sekitar Rp 54 juta hingga Rp 58 juta. Jumlah tersebut sudah dipotong dengan nilai penerima manfaat. Nilai penerima manfaat sendiri merupakan imbal hasil dari uang pengembangan jemaah yang disetorkan sejak awal lalu dikelola oleh Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH).
“Real cos-nya itu sebesar Rp 91 Juta atau biaya yang harus dibayar. Tapi setelah mendapat nilai manfaat atau subsidi. Rata-rata jamaah itu biayanya sekitar Rp 54 juta sampai Rp 58 juta per orang. Lalu dikurangi dengan setoran awal Rp 25 juta. Jadi rata-rata biaya pelunasan sekitar Rp 31 juta atau Rp 29 juta tergantung dapat nilai manfaatnya berapa,” tutur Fauzi.
Sebelum diberangkatkan, para jemaah akan mengikuti manasik haji terlebih dahulu di tingkat kecamatan dan kabupaten. Untuk mekanisme pemberangkatan, jemaah bertolak dari Kuningan Islamic Center (KIC), lalu menuju Embarkasi Haji Indramayu sebelum akhirnya diberangkatkan melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati, Majalengka.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Untuk manasik kelompok ada di tanggal 12,14, 15 dan 16 Februari di enam titik kelompok kecamatan. Nanti setelah Lebaran ada persiapan manasik tingkat kabupaten pada tanggal 5 April 2026, yang akan diikuti oleh seluruh jamaah setelah Lebaran. Jemaah setelah itu tinggal menunggu pemberangkatan,” tutur Fauzi.
Mengenai pemberkasan jemaah seperti paspor, biovisa, hingga Machine Readable Travel Document (MRTD) sudah dipersiapkan secara bertahap. Ia mengimbau agar jemaah haji Kuningan tetap menjaga kesehatan dan mengikuti semua arahan dari para petugas haji.
“Persiapan proses dokumen masih tetap berjalan. Untuk jemaah jaga kesehatan, terus perbanyak pemahaman tentang fiqih haji dan ikuti semua kegiatan manasik haji baik oleh pemerintah maupun bukan,” pungkas Fauzi.
