Bandung –
Deru mesin tua itu memecah wilayah Ketapang, Bandung. Bukan suara kendaraan umum yang tergesa mengejar setoran, melainkan sebuah bajaj berwarna mencolok yang berhenti perlahan di depan sebuah rumah. Dari dalamnya, aroma kopi panas mengepul, menyatu dengan udara yang masih dingin.
Di balik kemudi bajaj itu, Kuntum tersenyum sambil merapikan gelas-gelas plastik dan toples camilan. Bersamanya, sang keponakan, Yaspur, sigap membantu menyiapkan pesanan. Mereka bukan sekadar berjualan kopi. Mereka sedang merawat mimpi, mimpi yang lahir dari keberanian mencoba hal berbeda di tengah ketatnya persaingan UMKM.
Usaha yang mereka beri nama Kopi Aing itu tak seperti kedai kopi kebanyakan. Tak ada bangunan permanen, tak ada pendingin ruangan, tak ada etalase kaca mewah. Yang ada hanyalah sebuah bajaj bekas yang disulap menjadi kedai berjalan.
Ide itu muncul dari keresahan sekaligus keberanian. Kuntum, yang terlibat dalam pengelolaan dana pensiunan dari lingkungan Universitas Telkom melalui Persatuan Pensiunan Telkom (P2TEL), melihat peluang usaha yang bisa dikelola keluarga. Ketika mencari kendaraan untuk berjualan, ia justru menemukan bajaj bekas di sebuah situs lelang.
Bajaj itu dulunya milik salah satu e-commerce dan sudah tidak lagi dipakai. Banyak orang mungkin akan melewatinya begitu saja. Catnya tak lagi mulus, beberapa bagian butuh perbaikan. Tapi di mata Kuntum, kendaraan itu bukan rongsokan. Itu adalah kesempatan.
“Pas saya lihat kondisinya masih bagus dan masih bisa jalan. Memang ada kerusakan ringan, tapi masih layak,” ujarnya belum lama ini.
Sejak Oktober 2025, setelah proses modifikasi selesai, bajaj itu resmi berubah fungsi. Bagian belakangnya dirombak menjadi meja racik kopi. Kabel-kabel kelistrikan ditata ulang. Tangki air dipasang. Semua dikerjakan agar kendaraan tua itu mampu menjadi kedai mini yang mandiri.
Awalnya, Kopi Aing hanya mangkal di depan rumah Kuntum, di kawasan Ketapang. Ia meniru konsep kopi keliling yang sering berhenti di perumahan. Tak disangka, respons warga cukup hangat. Anak muda berdatangan, tetangga mampir sekadar berbincang sambil menyeruput kopi.
Namun, Kuntum merasa bajaj itu pantas menjelajah lebih jauh. Ia mulai mencari informasi acara-acara yang membuka lapak bagi UMKM. Satu per satu event didatangi. Dari situlah Kopi Aing benar-benar ‘melanglang buana’, berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain.
Di setiap acara, bajaj itu selalu mencuri perhatian. Orang-orang berhenti bukan hanya karena ingin membeli kopi, tetapi juga karena penasaran. Ada yang memotret, ada yang bertanya, ada yang sekadar tersenyum kagum melihat kendaraan klasik yang berubah menjadi kedai berjalan.
“Kalau ke event itu rasanya beda. Kita punya target. Dan pembelinya biasanya lebih antusias,” kata Kuntum.
Namun di balik keseruan itu, ada lelah yang tak sedikit. Mereka hanya berdua. Mengangkat peralatan, menyiapkan bahan, mengemudi bajaj yang tak selalu ramah di jalanan, lalu melayani pembeli berjam-jam. Setelah pulang, tubuh sering kali terasa remuk.
Belum lagi perawatan kendaraan yang tidak murah. Bajaj itu bukan kendaraan baru. Kelistrikan harus dicek, air harus dipastikan lancar, mesin harus rutin dirawat. Kadang lokasi acara pun menjadi tantangan tersendiri, trotoar yang tinggi, akses sempit, atau medan yang tidak rata membuat kendaraan itu kesulitan bergerak.
“Kadang kalau di kampus harus naik ke trotoar. Ini kan bajaj, jadi susah,” ungkapnya sambil tertawa kecil, menyamarkan letih.
Meski begitu, Kuntum tidak pernah benar-benar mengeluh. Baginya, setiap deru mesin bajaj adalah pengingat bahwa usaha ini lahir dari niat dan keberanian untuk berbeda. Ia percaya, di tengah menjamurnya usaha kopi, yang membuat orang bertahan bukan hanya rasa, tetapi juga cerita.
Di sela-sela kesibukannya, Kuntum kerap berbagi pesan bagi siapa pun yang ingin memulai usaha. Menurutnya, membuka usaha bukan sekadar soal berani memulai, tetapi juga tentang merancang konsep.
“Banyak yang bilang buka aja dulu. Tapi menurut aku, mending dikonsep dulu. Tidak harus matang banget, yang penting ada gambaran. Nanti sambil jalan, kita tahu kekurangannya di mana,” tuturnya.
