Kolek Legendaris Kalipah Apo yang Jadi Buruan Menu Buka Puasa

Posted on

Bandung

Jarum jam menunjukkan waktu siang. Waktu berbuka puasa memang masih beberapa jam lagi, tetapi suasana di Jalan Kalipah Apo sudah terasa berbeda.

Deretan pedagang takjil mulai dikerubungi warga yang berburu hidangan manis untuk pelepas dahaga. Di antara ramainya lalu lalang pembeli, satu gerobak sederhana tak pernah sepi antrean, Kolek Campur Kalipah Apo.

Siang itu, saat berkunjung, antrean di depan gerobak sudah berderet. Meski ‘hanya’ lima hingga sepuluh orang, waktu tunggu tetap terasa panjang. Setiap pembeli yang datang jarang hanya membeli satu porsi. Ada yang memesan dua, lima, bahkan hingga sepuluh bungkus sekaligus.

Saat memesan satu porsi kolak pisang, masih ada delapan pesanan di depan. Antrean memang bisa dihitung dengan jari, tetapi proses membungkus yang bertubi-tubi membuat pembeli harus ekstra sabar demi mencicipi kuliner legendaris ini.

Di gerobak tersebut tersedia enam varian menu yaitu kolak pisang, candil, hanjeli, labu siam, pacar cina, hingga bubur sumsum. Pembeli bisa memesan satu jenis saja atau mencampurnya dalam satu wadah. Namun siang itu, salah satu menu favorit sudah lebih dulu ludes.

“Menu ada enam macam, tapi bubur lemu habis duluan. Selain satuan, bisa juga dicampur,” kata Adam (38), penjual sekaligus putra pendiri Kolek Campur Kalipah Apo, saat berbincang dengan, Rabu (26/3/2026).

Padahal, belum genap empat jam berjualan, bubur lemu sudah habis terjual. Satu porsi kolek dibanderol Rp13 ribu. Harganya terjangkau, isinya melimpah. Namun Adam mengakui, jumlah penjualan setiap hari tak bisa dipastikan.

“Sehari tidak tentu habisnya segimana, pokonya bawanya satu toples besar,” ujarnya.

Kolek Kalipah Apo Foto: Wisma Putra/

Kolek Campur Kalipah Apo bukan sekadar jajanan musiman Ramadan. Meski penjualannya memuncak saat bulan puasa, kolak ini sudah eksis sejak puluhan tahun lalu. Berdiri sejak 1994, usaha tersebut dirintis oleh sang ibu, Popon, yang kini telah berpulang.

“Sudah ada sejak Tahun 1994. Pendiri Ibu Popon, beliau sudah meninggal,” tuturnya.

Adam sendiri sudah membantu berjualan sejak lulus SMA. Dua dekade lebih ia menyaksikan bagaimana kolak racikan keluarganya tetap dicari pembeli dari generasi ke generasi.

“Saya bantu jualan sejak lulus SMA, sekitar 20 tahunan,” tambahnya.

Jadi Buruan Warga

Bukan hanya warga Kota Bandung yang rela mengantre. Pembeli dari luar kota pun sengaja datang demi semangkuk kolek ini.

“Suka banget, sudah langganan setiap tahun,” kata Citra (29), warga Bojongloa Kidul.

Menurutnya, selain rasanya yang konsisten, harga dan isiannya juga menjadi alasan utama.

“Isinya lengkap, saya paling suka sama pisang dan candil,” ujarnya.

Meski demikian, Citra mengaku harus menunggu hampir 25 menit untuk mendapatkan pesanannya.

“Kalau di depan kita yang antre paling banyak 5-8 orang, tapi ngebungkusnya banyak banget, ada yang pesan 10 bungkus,” tambahnya.

Cerita serupa datang dari Julian (24), warga Garut yang sengaja menyempatkan diri mampir. Bagi Julian, membeli kolak di tempat ini bukan sekadar soal rasa, tetapi juga kenangan.

“Dulu kan beli baju itu ke kawasan KINGS, pernah juga beli kolak di sini sama almarhum ayah dan ibu.”

“Nostagia banget, dulu sama orang tua suka beli kolak di sini, belinya dibungkus, nanti dimakan di rumah, kadang dimakan pas sahur,” pungkasnya.