Ciamis –
Suasana Ramadan 1447 Hijriah terasa hangat di sebuah rumah sederhana di Lingkungan Awirarangan, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, Selasa (24/2/2026). Di halaman rumah itu, sepasang suami istri tampak sibuk melakoni usaha musiman yang telah menjadi tradisi tahunan mereka setiap bulan suci tiba.
Yeni (53) dengan cekatan membelah buah aren atau kawung yang telah direbus. Ia memisahkan inti buah untuk dijadikan kolang-kaling. Sementara sang suami, Ade Suryaman (53), sibuk mengangkat tandan buah aren hasil panen dari kebun tak jauh dari rumah mereka, lalu melepaskannya dari tangkai sebelum masuk proses perebusan.
Bagi pasangan ini, Ramadan bukan sekadar momentum ibadah, melainkan juga ladang rezeki. Sejak 1998, keduanya bertahan menekuni usaha kolang-kaling. Hasilnya menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan Idul Fitri, mulai dari membayar zakat, belanja dapur, hingga membelikan baju baru untuk anak-anak mereka.
“Alhamdulillah dari kolang-kaling ini bisa memenuhi kebutuhan dan bekal buat Lebaran, sekaligus sambil ngisi ngabuburit. Juga memberdayakan warga setempat, meski tahun ini hanya dua orang saja yang bantu karena bahan bakunya tidak sebanyak dulu,” ujar Yeni saat ditemui di rumahnya.
Pasangan yang telah dikaruniai lima anak, dua di antaranya sudah menikah, itu mengandalkan usaha musiman ini sejak 1998. Namun di balik ramainya pesanan, Ade mulai dihantui kekhawatiran soal ketersediaan bahan baku.
Sementara itu, Ade menjelaskan, pada Ramadan tahun ini, harga kolang-kaling terbilang cukup stabil. Untuk pembelian partai besar dihargai Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram, sementara eceran bisa mencapai Rp 10 ribu per kilogram. Permintaan datang dari pedagang Pasar Manis Ciamis hingga pembeli yang mengolahnya menjadi campuran sirup dan minuman segar.
“Pesanan ramai dari sebulan sebelum Ramadan. Biasanya tinggi di awal, agak turun di pertengahan karena stok pasar banyak, lalu naik lagi mendekati Lebaran,” kata Ade.
Meski harga menguntungkan, produksi justru menurun. Hingga hari keenam Ramadan, Ade baru bisa memanen tiga pohon aren. Ia memperkirakan masih ada sekitar enam pohon lagi yang bisa diolah dan berharap cukup hingga mendekati Lebaran.
“Sekarang agak sulit bahan bakunya. Jadi tidak semua pesanan bisa terpenuhi,” ujarnya.
Soal buah aren yang bisa menyebabkan gatal, Ade dan Yeni mengaku sudah kebal. Ada trik sederhana yang mereka gunakan.
“Iya bisa bikin gatal, tapi kami sudah biasa. Biasanya pakai minyak kelapa, alhamdulillah aman,” ungkapnya.
Dalam sehari, mereka mampu memproduksi rata-rata 20 kilogram kolang-kaling. Dengan estimasi harga Rp 8.000 per kilogram selama 25 hari masa produksi, omzet kotor yang diraup sekitar Rp 4 juta.
Bagi keluarga Ade, nominal tersebut sangat berarti untuk menyambung hidup dan merayakan hari kemenangan. Di luar bulan Ramadan, Ade sehari-hari bekerja sebagai perajin gula aren, sementara Yeni mengelola warung kecil di rumah mereka.
