Sukabumi –
Deru ombak Pantai Talanca di Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (7/2/2026), terdengar beradu dengan suara gesekan langkah kaki di atas ribuan batang kayu yang berserakan.
Di tengah hamparan sampah yang memanjang sejauh mata memandang, dua sosok manusia tampak tenggelam dalam kesibukan. Mereka bukan wisatawan yang sedang menikmati angin laut, bukan pula petugas kebersihan yang dikerahkan pemerintah.
Wati (45), terlihat membungkukkan badannya yang ringkih, nyaris menyentuh pasir yang basah. Topi rimba berwarna gelap melindunginya dari sengatan matahari, sementara kain sarung bermotif membalut kakinya, melangkah hati-hati di antara serpihan limbah.
Tangan kanannya sigap memungut apa saja yang bisa menghasilkan uang, gelas plastik bekas air mineral, kaleng minuman, hingga sandal jepit putus yang terdampar terbawa ombak.
Di sebelahnya, sang suami, Jarip (60), berdiri tegap meski wajahnya menyiratkan kelelahan.
Mengenakan kaus abu-abu pudar, celana pendek selutut, dan sepatu bot karet hitam setinggi betis, ia memanggul karung berisi hasil pungutan di bahu kirinya. Tangannya yang keriput memegang erat sisa-sisa rezeki yang dimuntahkan laut hari itu.
Bagi Presiden Prabowo Subianto yang baru-baru ini murka soal sampah di Bali, pemandangan ini mungkin adalah koreksi bagi manajemen lingkungan. Namun, bagi pasangan suami istri ini, sampah Talanca adalah satu-satunya penyambung hidup.
“Sudah lama, kalau mulung di sini ada 10 tahunan,” ujar Wati sembari menyeka keringat.
Sang suami, Jarip, baru menyusul fokus mencari nafkah di titik yang sama sejak dua tahun terakhir.
Ironi terbesar di Pantai Talanca adalah definisi musibah. Bagi pegiat lingkungan, banjir sampah (caah) adalah bencana. Bagi Jarip dan Wati, itu adalah masa panen.
Jarip menuturkan, jika laut sedang “baik-baik saja”, mereka hanya mampu mengumpulkan sekitar 5 kilogram rongsokan plastik sehari. Namun, saat sampah banjir datang menggunung, karung mereka bisa terisi hingga 40-50 kilogram.
“Kalau gelas Aqua itu jadi uang harganya cuma Rp 1.500 per kilonya,” kata Jarip dengan suara parau.
Jika sedang tekun bekerja dari pagi hingga sore saat sampah melimpah, mereka bisa membawa pulang Rp 50.000 hingga Rp 70.000. Jumlah yang tak seberapa untuk keringat yang bercucuran seharian.
Padahal, fisik keduanya sudah tak lagi prima. Di balik topi dan pakaian lusuhnya, Jarip menyembunyikan sakit ginjal yang membuatnya tak kuat menahan panas matahari terlalu lama. Sang istri pun setali tiga uang; ia bekerja dengan kondisi pasca-operasi kelenjar yang belum tuntas pengangkatannya.
“Saya tidak kuat panas, Pak. Saya punya penyakit ginjal. Ibu (istrinya) juga bekas operasi kelenjar, tapi tidak terangkat semua,” ucapnya lirih.
Lantas, apa yang membuat mereka tetap membungkuk memungut sampah di usia senja dengan tubuh digerogoti penyakit?
“Untuk biaya anak, Pak. Saya sedih, anak paling kecil masih sekolah SMP kelas 1,” ucap Jarip, suaranya bergetar menahan haru.
Dari delapan anak yang mereka miliki-beberapa di antaranya telah meninggal dunia dan yang lainnya sudah hidup terpisah-si bungsu adalah harapan terakhir yang tersisa di rumah.
Di gubuk tumpangan mereka di Kampung Sidat, karena tak memiliki rumah sendiri, ada tanggung jawab yang harus terus dijaga. Ongkos sekolah sang anak sebesar Rp 12.000 per hari adalah target mati yang harus didapatkan Jarip dan Wati dari tumpukan sampah Talanca.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Setiap botol plastik dan sandal bekas yang mereka pungut adalah selangkah perjalanan sang anak menuju sekolah. Setiap karung yang dipanggul Jarip adalah upaya memperpanjang napas pendidikan si bungsu agar tak bernasib sama seperti orang tuanya.
Di tengah ingar-bingar wacana nasional soal kebersihan pantai, Jarip dan Wati adalah paradoks nyata. Mereka adalah pembersih pantai yang paling setia, bukan karena instruksi presiden atau gaji bulanan, melainkan demi bertahan hidup di tengah kerasnya arus nasib pesisir selatan Sukabumi.
“
