Sukabumi –
Nasib pilu menyertai perjalanan hidup NS (13) sebelum mengembuskan napas terakhirnya.
Bocah ini diketahui sudah empat tahun tidak bertemu ibu kandungnya, Lisnawati. Hal itu lantaran akses komunikasi yang diduga sengaja diputus oleh ayah kandung dan ibu tirinya.
Di tengah kerinduan yang terhalang itu, Raja menghabiskan hari-harinya bersama ayah kandungnya, Anwar Syafei, dan ibu tirinya, TR, di Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.
Amran, kakak kandung dari ibu tiri korban (TR), mengenang NS sebagai sosok yang sangat baik dan penurut selama tinggal bersama adiknya.
“Yang saya tahu bahwa, kan panggilannya saya manggilnya Raja, termasuk keluarga besar juga Raja, karena sudah menganggap itu adalah keluarga juga gitu. Kebetulan kalau disuruh salat juga salat gitu ya, terus kemudian dia kalau seandainya disuruh juga enggak susah juga, emang baik almarhumnya. Sampai anak saya pun ya merasa kehilangan, sama istri saya juga sama merasa kehilangan gitu ya anaknya gitu,” ujar Amran kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).
Santri yang Rajin Membantu Orang Tua
NS merupakan seorang santri kelas satu di sebuah pesantren di kawasan Cibodas, Cicurug. Selama menempuh pendidikan di sana, Raja biasanya pulang ke rumah di Jampangkulon seminggu sekali.
“Kalau waktu dulu yang saya tahu itu adalah di Jampangkulon. Karena waktu itu kalau ibu tiri pulang kerja kemudian dijemput gitu dari Jampangkulon gitu. Kemudian dari situ setelah masuk SMP, ya itu adalah di pesantren yang ada di Cibodas, Cicurug. Jadi selama itu adalah yang terakhir dia di pesantren gitu. Di pesantren,” jelas Amran.
Saat pulang ke rumah, Raja dikenal sebagai anak yang jarang bermain ke luar. Ia lebih banyak menghabiskan waktu membantu pekerjaan rumah atas permintaan ibu tirinya.
“Kalau lagi pulang yang saya tahu dia selalu di rumah di sini. Jarang dia main sama temen-temennya gitu, jadi ada di rumah terus gitu. Betul, sering bantu orang tua. Ya apa yang di pekerjaan rumah yang disuruh sama ibu tirinya gitu, itu dia nurut. Patuh Pak ya? Patuh,” tutur Amran.
NS merupakan anak tunggal dari pernikahan ayah dan ibu kandungnya. Namun, ia tinggal bersama dua kakak angkat dari sang ibu tiri. Segala biaya pendidikan NS sejak kelas 3 SD hingga pesantren disebut ditanggung oleh ibu tirinya.
“Raja itu satu, cuma satu aja, tunggal. Saya hubungannya adalah ke saya kakaknya, jadi ibu tiri itu adik saya gitu. Jadi walaupun tidak mempunyai anak, jadi anak itu semuanya disekolahkan ya termasuk yang paling besar itu kuliah di keperawatan, kemudian yang satu SMA, yang satu lagi yang tadi Raja itu,” pungkas Amran.
