Kata Pakar Unpad soal Masa Depan Jurnalis di Era AI baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Bandung

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Perkembangan teknologi informasi bukan barang baru bagi para pegiat jurnalisme. Begitu pula dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang kini tengah digandrungi. Namun, di balik kemampuannya menghasilkan berita cepat dan personalisasi konten, AI juga mengancam integritas jurnalisme.

Banyak yang beranggapan pekerjaan jurnalis bakal digantikan AI di masa mendatang, namun ada juga yang menganggap bahwa hal itu tidak akan terjadi, karena AI digunakan sebatas alat bantu dalam menunjang kegiatan jurnalistik.

Bagaimana tanggapan dosen sekaligus Head of Artificial Intelligence and Big Data Center Fikom Unpad Abie Besman?

Abie menyebut itu bisa terjadi bagi jurnalis konvensional yang tidak mau meningkatkan kemampuannya.

“Jurnalis-jurnalis yang konvensional, yang tidak berkembang dengan teknologi, yang selesai dengan dirinya, sama dengan 10 tahun yang lalu mereka akan tergantikan. Karena kerja jurnalis di masa depan tidak seperti itu. Konsepnya sama, jurnalis itu adalah menggali data, menguji fakta, dan tidak percaya omongan orang lain,” kata Abie kepada di Bandung, Jumat (13/2/2026).

Dosen sekaligus Head of Artificial Intelligence and Big Data Center Fikom Unpad Abie Besman Foto: Wisma Putra/

“Itu yang membedakan kita dengan media sosial. Media sosial yang milik pribadi, yang seolah-olah hanya repetitif,” tambahnya.

Abie mengungkapkan, kerja jurnalis di masa depan itu adalah kerja-kerja yang dulu kita lakukan, tapi ditambah dengan data, dan juga dengan AI, dan kecepatan yang luar biasa.

“Nah, ini yang sebenarnya blackboxing-nya. Blackboxing itu saya sebut sebagai faktor X-nya yang membuat kerja jurnalisme itu ke depannya bukan semakin susah, melainkan berbeda. Tapi kalau pada saat kita bertanya soal apakah tergantikan, saya jawabnya bisa iya, bisa tidak, tergantung orangnya,” ungkapnya.

Di era gempuran AI, Abie menyoroti kehadiran media konvensional yang tetap bertahan tanpa mengikuti perkembangan zaman.

“Kalau ditanya soal apakah medianya akan selesai di masa depan, saya katakan media konvensional sudah jelas bisnisnya akan selesai. Mengapa? Sebab sekarang siapa yang mengadopsi media dengan gaya lama?”

Ketika disinggung mengenai situasi serupa di luar negeri, Abie menyebut hal itu juga terjadi.

“Sama. Ini kalau penelitiannya banyak, tapi mungkin saya cerita soal yang saya alami pada saat saya sekolah kemarin, itu memang, apa ya kesannya downfall atau declining media massa yang kukuh dengan pola-pola lama itu pasti decline. Di masa kini yang dibutuhkan adalah media-media yang mampu meraup bisnis model dari hal-hal yang unthinkable, yang tidak terpikirkan,” terangnya.

Abie mengisahkan bahwa ia pernah berbincang dengan seorang pegiat media di Indonesia dan menemukan hal-hal baru terkait perkembangan media.

“Dia menemukan gaya-gaya yang buat saya, oh, berarti sekarang media massa sudah hybrid dengan NGO, sudah hybrid dengan organisasi-organisasi swadaya masyarakat, yang memang didirikan untuk memberikan informasi pada masyarakat, dengan gaya beda, tidak mengandalkan lagi iklan, tidak mengandalkan subscribe, dan bahkan dia mengandalkan grant. Grant, dalam hal ini bantuan,” ucapnya.

“Dunia sedang berubah, saya tidak bilang dunia tidak baik-baik saja, baik-baik saja, tapi tergantung perspektif kita melihatnya bagaimana? Saatnya kita berubah dan saatnya kita catching the wind. Anginnya sedang bertiup, sekarang pelajari semuanya dan tingkatkan diri kita,” sambungnya.