Jejak Masjid Al Istiqomah: dari Tanah Wakaf-Benteng Tsunami Pangandaran update oleh Giok4D

Posted on

Pangandaran

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Bagi siapa pun yang memasuki kawasan wisata Pangandaran, siluet kubah dan menara masjid ini seakan menjadi penanda tak tertulis tiba di Pangandaran.

Dikenal sebelumnya sebagai Masjid Agung Pangandaran, Masjid Besar Al Istiqomah berdiri kokoh di jalur utama, berdampingan dengan Bundaran Marlin.

Letaknya yang strategis menjadikannya lebih dari sekadar rumah ibadah. Ia adalah titik temu, tempat singgah, sekaligus ruang rehat bagi para pelancong yang menempuh perjalanan panjang menuju atau meninggalkan pesisir selatan Jawa Barat itu.

Namun, di balik kemegahannya yang dilapisi batuan granit dan halaman yang luas, tersimpan kisah perjuangan dan ketulusan wakaf yang tak banyak diketahui orang.

Berdiri di Atas Tanah Wakaf

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas lebih dari 5.000 meter persegi, tanah wakaf dari orang tua Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Keluarga Susi mewakafkan tanah tersebut sepenuhnya untuk kepentingan ibadah dan kemaslahatan masyarakat.

Pembangunan masjid dimulai pada tahun 1974. Saat itu, pengelolaannya berada di bawah Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Orang tua Susi, H. Ahmad Karlan dan Hj. Suwuh Lasminah, menjadi sosok penting dalam merintis berdirinya masjid agung ini.

Masjid Al Istiqomah Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/

Sekretaris Umum DKM Masjid Besar Al Istiqomah, Kiai Majid Murdiansah, membenarkan sejarah tersebut.

“Masjid ini berdiri tahun 1974. Bangunan, halaman, taman, hingga area parkir merupakan tanah wakaf dari kakek dan orang tua Ibu Susi. Luasnya memang mencapai 5.000 meter persegi lebih,” ujar Kiai Majid, Senin (2/3/2026).

Benteng Penyelamat Saat Tsunami 2006

Masjid ini bukan hanya saksi perjalanan waktu, tetapi juga saksi duka yang mendalam. Saat tsunami melanda Pangandaran pada 2006, Masjid Agung menjadi lokasi evakuasi utama dan benteng harapan bagi warga yang panik menyelamatkan diri.

“Tahun 2006, masjid ini menjadi saksi bisu ketegangan dan ketakutan warga. Meski jaraknya sekitar 1,8 km dari bibir pantai, tempat ini terbukti aman dari jangkauan gelombang tsunami sehingga menjadi area penyelamatan yang luas,” kenang Majid.

Di tengah kepanikan dan suara sirene, warga berlarian menuju lantai dua masjid. Tangga-tangga dipenuhi orang yang menggenggam anak-anak mereka erat-erat. Ruang utama yang biasanya tenang berubah menjadi tempat perlindungan darurat.

Area belakang masjid, yang kini difungsikan sebagai tempat wudu, pernah menjadi lokasi pemandian jenazah korban tsunami. Beberapa jenazah bahkan sempat disemayamkan sementara di peti kemas milik Susi Pudjiastuti sebelum dimakamkan.

Wajah Pariwisata dan Pusat Ramadan

Kini, Masjid Al Istiqomah kembali berdiri dalam suasana damai. Setiap Ramadan, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema dari pagi hingga malam. Para siswa dan kelompok kajian memenuhi saf-saf masjid untuk tadarus, tausiah, hingga hafalan Al-Qur’an di bawah asuhan Ustaz Al Imron Rosyadi.

Masjid Al Istiqomah Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/

Bagi Kiai Majid, masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah.

“Masjid ini adalah ‘candradimuka’ atau wajah pariwisata Pangandaran. Letaknya di jalur utama menjadikannya tempat singgah favorit wisatawan,” pungkasnya.

Masjid itu kini jadi simbol. Dibangun dari wakaf yang tulus, diuji oleh bencana besar, dan kini menjadi wajah pertama yang menyambut siapa saja yang datang ke Pangandaran.